Rapat pertama koperasi digelar di garasi yang sama, di bawah bohlam yang sama, dengan papan tulis yang masih menyimpan coretan peta kampanye di sudutnya. Pram menghapus garis-garis dusun yang dulu, dan di tempat itu ia menggambar sesuatu yang baru: persegi-persegi kasar yang ia tiru dari sketsa di buku ayahnya. Kolam tambak. Saluran air. Petak sawah hilir yang bisa dipulihkan.
Yang datang malam itu sembilan orang. Pram menghitungnya dalam hati seperti dulu menghitung pemain yang mau ikut latihan di sore hujan. Sembilan. Topik, tentu. Lalu empat pemuda dari tim suksesnya yang masih menganggur, yang bosan main kartu di pos ronda. Dan—ini yang membuatnya tertegun—tiga mantan penambang dari dusun tengah. Mas Bejo, yang baru menikah dan trampilnya hilang bersama shift yang dipangkas. Lik Darman, yang anaknya tiga. Dan seorang lagi, lelaki muda bernama Kandar, yang datang paling akhir, duduk di pojok, tak banyak bicara.
"Saya nggak bisa janji upah gede," kata Pram, berdiri di depan papan tulis seperti pelatih di depan tim yang baru pertama berkumpul. "Saya nggak bisa janji apa-apa, jujur. Modal kita hampir nol. Lahan bekas sawah di hilir itu rusak, perlu dibenerin saluran airnya dulu sebelum bisa diisi ikan. Kita belum punya badan hukum, belum punya bantuan, belum punya pembeli. Yang kita punya cuma tenaga, lahan nganggur, dan—" ia mengangkat buku tua ayahnya, sampulnya pudar, "—rencana yang udah nunggu tiga puluh tahun."
Mas Bejo bersedekap. "Terus terang aja, Pak Kades. Saya ke sini bukan karena percaya. Saya ke sini karena nggak ada pilihan lain. Tambang berhenti, saya nggak narik upah dua bulan. Istri saya hamil. Kalau ini gagal, ya saya rugi waktu. Tapi diam di rumah juga nggak ngubah apa-apa." Ia menatap Pram lurus. "Jadi saya mau dengar dulu. Tambak ini—kapan bisa makan?"
Pertanyaan itu, kapan bisa makan, adalah pertanyaan yang sama yang menghantui Pram sejak hari pertama. Tapi malam ini ia tak menghindarinya. "Nila tiga sampai empat bulan, Mas, kalau benihnya bagus dan airnya jalan. Lele bisa lebih cepat, dua bulan setengah. Tapi sebelum itu—" ia menunjuk sketsa saluran, "—kita harus benerin pematang dan saluran dulu. Itu kerja berat, sebulan mungkin, tanpa upah. Saya nggak bohong. Bulan pertama kita kerja buat utang sama diri kita sendiri."
Kandar, yang dari tadi diam di pojok, akhirnya bicara, suaranya pelan. "Sebulan kerja tanpa upah. Sambil keluarga kita makan apa?"
Dan inilah lubang yang selalu menelan setiap niat baik di Kedungwaru. Bukan ide yang kurang. Bukan tenaga yang kurang. Tapi jarak antara hari ini yang lapar dan panen yang masih jauh. Pram tahu, dari pengalaman lapangan, bahwa tim yang lapar tak bisa diberi taktik; ia harus diberi alasan untuk bertahan sampai taktik itu menghasilkan.
"Aku punya sedikit," kata Pram akhirnya, dan ia merasakan Topik menoleh tajam. "Tabunganku dari ngojek di kota. Nggak banyak. Tapi cukup buat beras dan minyak buat sembilan keluarga, dua minggu, mungkin tiga. Bukan upah. Cuma supaya dapur nggak mati sambil kita benerin pematang." Ia menatap mereka satu per satu. "Habis itu, kalau saluran sudah jadi dan benih sudah masuk, kita cari pinjaman bibit dari dinas, atau urunan, atau apa saja yang halal. Aku nggak nawarin kemenangan. Aku nawarin napas. Cukup buat sampai panen pertama."
Mereka diam, menimbang. Di luar garasi, malam Kedungwaru sunyi—tambang masih dihentikan sementara, dan kesunyian itu, yang dulu terasa seperti dakwaan, malam ini terasa seperti ruang kosong yang menunggu diisi. Lik Darman menggaruk tengkuknya. "Ayahmu dulu pernah ngajak aku ikut rencana kayak gini," katanya pelan. "Aku nolak. Pasir lebih cepat. Sekarang aku lima puluh, pasirnya udah ngeruk umurku, dan aku nggak punya apa-apa." Ia mengangguk pada papan tulis. "Aku ikut, Le. Kali ini aku ikut."
Satu suara, lalu yang lain mengikuti, seperti tim yang akhirnya percaya pada formasi yang awalnya mereka ragukan. Tidak meledak-ledak, tidak penuh sumpah. Hanya anggukan-anggukan lelah dari orang yang sudah kalah dan memutuskan untuk bertaruh sekali lagi.
Tapi tidak semua desa ikut menahan napas bersama mereka. Keesokan paginya, kabar koperasi sudah menyebar ke warung kopi, dan menyebar dengan bumbu. Di kedai Bu Tukini yang mulai buka lagi—karena ke mana lagi—seorang lelaki tertawa terbahak saat mendengarnya. "Tambak ikan? Di sawah rusak? Pakai duit pribadi kades? Itu sama gilanya kayak waktu dia nyalon dulu, nggak punya apa-apa nekat nantang Pak Har." Tawa itu menjalar. Kata orang, anak Tarno itu memang keras kepala turunan, suka mainan yang nggak masuk akal, dan kali ini ia bakal terjun lebih dalam dari sebelumnya.
Pram mendengarnya dari Topik dan hanya tersenyum tipis, tawa pendek yang lelah. "Dulu mereka ketawa pas aku nyalon," katanya, sambil menggulung lengan kemejanya untuk turun ke pematang. "Terus aku menang tujuh belas suara. Biarin mereka ketawa, Pik. Yang penting kolamnya kita gali." Ia memikul cangkul, memimpin sembilan orang itu menyusuri jalan setapak ke lahan bekas sawah yang rusak, dan untuk pertama kalinya sejak menutup tambang, ia merasa lebih seperti dirinya yang dulu—bukan kepala desa yang terjepit birokrasi, melainkan seorang pelatih yang membawa tim dari bangku cadangan turun ke lapangan untuk pertandingan yang semua orang yakini akan mereka kalahkan.