Babak ketiga perjuangan Pram tak dimulai dengan kemenangan atau pidato. Ia dimulai dengan tumpukan map, ruang tunggu yang panas, dan kata "belum" yang diucapkan dengan berbagai variasi sopan.
Ia mulai dengan buku ayahnya sebagai peta. Tambak ikan di lahan bekas sawah rusak. Koperasi pengolahan hasil bumi. Itu yang harus ia wujudkan. Tapi mewujudkannya, ia segera tahu, membutuhkan dunia yang sama sekali asing baginya: dunia proposal, anggaran, surat pengantar, dan birokrasi yang tak kenal namanya dan tak peduli pada anak-anak yang putus sekolah di Kedungwaru.
Minggu pertama ia habiskan di Dinas Perikanan kabupaten. Ia datang pagi-pagi, mengenakan kemeja terbaiknya, membawa buku ayahnya dan beberapa lembar catatan tulisan tangan. Petugas yang menerimanya ramah tapi terbiasa menolak. "Bapak Kepala Desa, niatnya bagus," katanya, membolak-balik catatan Pram dengan cepat. "Tapi ini belum berbentuk proposal. Harus ada studi kelayakan, harus ada kelompok yang berbadan hukum, harus masuk usulan lewat Musrenbang, terus diverifikasi, masuk anggaran tahun depan—kalau lolos. Sekarang sudah pertengahan tahun, anggaran sudah jalan. Bapak coba lagi tahun depan ya."
Tahun depan. Pram menelan kata itu. Anak Mbok Surti sudah putus sekolah dua bulan. Truk Pak Kusno sudah ditarik. Tahun depan, bagi orang-orang yang dapurnya dingin sekarang, adalah selamanya.
"Pak," Pram mencoba, menahan agar suaranya tetap sopan, "warga saya nggak punya waktu sampai tahun depan. Tambang baru saja ditutup, ratusan orang nganggur. Apa nggak ada program yang lebih cepat? Bantuan apa saja?"
Petugas itu menatapnya, dan untuk sesaat ada simpati yang nyata di matanya, lalu menghilang di balik kebiasaan. "Saya paham, Pak. Tapi sistemnya begini. Kami nggak bisa keluar uang tanpa prosedur. Bapak urus dulu kelompok dan badan hukumnya, baru bisa kami bantu arahkan. Itu pun pelan."
Di Dinas Pertanian, ceritanya serupa. Ada program bantuan bibit dan alat, tapi kuotanya sudah habis tahun ini, dan untuk masuk antrean harus ada kelompok tani aktif yang terdaftar. Di kantor program pemberdayaan desa, ia diberi setumpuk berkas dan diberitahu tentang dana yang "sebenarnya bisa diakses" tapi dengan syarat administratif yang membuat kepalanya pening—proposal yang harus disusun dengan format tertentu, rencana anggaran biaya yang rinci, surat-surat yang harus ditandatangani perangkat desa, yang berarti harus melewati Carik yang akan memperlambatnya.
Pram pulang setiap sore dengan map yang lebih tebal dan harapan yang lebih tipis. Ia, yang terbiasa dengan dunia yang langsung—lapangan bola di mana hasil terlihat dalam sembilan puluh menit, kampanye di mana ketukan pintu langsung jadi suara—mendapati dirinya tersesat di rimba yang gerakannya diukur dengan tahun anggaran, bukan dengan napas orang yang lapar.
Suatu malam, lelah dan nyaris putus asa, ia menumpahkan kekecewaannya pada Topik di garasi rumahnya—tempat yang sama di mana dulu tim suksesnya yang miskin pertama kali berkumpul. "Aku salah, Pik," katanya. "Aku kira yang susah itu nutup tambang. Ternyata nutup itu gampang. Tinggal satu surat. Yang susah ini—bikin dapur baru. Nggak ada serangan fajar yang bisa mempercepat birokrasi. Nggak ada amplop yang bisa kukasih ke petugas biar proposalku cepat lolos. Dan kalaupun ada, aku nggak akan kasih."
Topik, yang biasanya sinis, malam itu justru tenang. "Pram, kamu inget waktu kamu nyusun tim suksesku dulu? Kita nggak punya apa-apa. Nggak ada uang, nggak ada nama, nggak ada pengalaman. Tapi kamu nggak nunggu dikasih. Kamu bikin sendiri dari yang ada." Ia menunjuk buku tua ayah Pram di meja. "Birokrasi minta kelompok berbadan hukum sebelum mau bantu? Ya kita bikin kelompoknya dulu. Mereka minta ada usaha yang jalan baru mau didanai? Kita jalanin dulu usahanya, sekecil apa pun, biar pas mereka datang sudah ada yang dilihat, bukan cuma proposal di kertas."
Pram menatapnya. Sesuatu mengklik di kepalanya—logika yang sama yang dulu membawanya menang. Jangan menunggu diberi. Bangun dulu dari yang ada, lalu paksa dunia mengakuinya. Ia tak punya modal untuk tambak besar, tak punya badan hukum, tak punya dana program. Tapi ia punya hal yang sama seperti dulu: pemuda menganggur yang bosan, mantan penambang yang putus asa karena tak ada pilihan lain, lahan bekas sawah yang menganggur, dan sebuah buku tua berisi rencana yang sudah menunggu tiga puluh tahun.
"Koperasi," kata Pram pelan, lebih pada dirinya sendiri. "Kita nggak nunggu bantuan turun. Kita rintis koperasinya sendiri dulu. Modal seadanya, lahan seadanya, orang seadanya. Persis kayak nyusun tim dari bangku cadangan." Ia membuka buku ayahnya ke halaman tambak, sketsa kolam dan perhitungan nila yang ditulis ayahnya bertahun-tahun lalu. "Bapak udah punya rencananya. Tinggal ada yang gila buat ngejalanin."
Topik menyeringai, seringai pertama yang Pram lihat dalam berminggu-minggu. "Desa ini udah punya satu orang gila yang nekat nyalon waktu nggak ada yang berani. Nambah satu koperasi gila nggak masalah."
Pram tertawa—tawa pendek, lelah, tapi nyata, tawa pertama sejak truk berhenti. Di luar garasi, malam Kedungwaru sunyi, dapur-dapur masih dingin, dan jalan ke depan masih panjang dan penuh pintu birokrasi yang tertutup. Tapi untuk pertama kalinya sejak ia menutup tambang, ia tak hanya bertahan menanggung benci. Ia punya sesuatu untuk dibangun. Dan membangun, ia tahu sekarang, adalah satu-satunya cara untuk membuat kemenangan yang getir itu suatu hari nanti pantas disebut kemenangan.