Ia pergi ke makam ayahnya keesokan paginya, sebelum desa bangun penuh, mencari sesuatu yang bahkan ia sendiri tak tahu bentuknya. Jawaban, mungkin. Atau sekadar tempat untuk merasa kalah tanpa disaksikan.
Pekuburan desa terletak di tepi sungai, dan tepiannya—yang dulu padat tanah—kini menggantung di atas jurang pasir, longsor sedikit demi sedikit mendekati barisan makam terdepan. Makam ayahnya masih dua baris dari tepi yang runtuh, tapi Pram bisa melihat bahwa beberapa tahun lagi, kalau tepi itu terus tergerus, makam itu pun akan ikut. Ironi yang pahit: ayahnya yang menolak tambang, makamnya terancam dilahap tambang. Setidaknya sekarang penggalian sudah berhenti. Setidaknya itu, Pram berkata pada dirinya, mencoba menemukan satu hal yang tak tercemar keraguan.
Ia duduk di samping nisan, membersihkan rumput liar dengan tangannya. "Pak," katanya pelan, merasa konyol bicara pada batu, tapi tak tahu harus bicara pada siapa lagi. "Saya udah nutup tambangnya. Yang Bapak mau. Tapi desa malah benci saya. Mbok Surti nggak nyapa lagi. Anaknya putus sekolah. Pak Kusno trukya ditarik. Pak Har bagi-bagi beras, jadi pahlawan." Ia menunduk. "Saya nggak ngerti, Pak. Apa saya bener? Atau saya cuma keras kepala kayak—" ia berhenti, tak berani melanjutkan, kayak Bapak.
Ia tinggal lama di sana. Lalu, dalam perjalanan pulang, ia mampir ke rumah lama keluarganya, yang sekarang ditinggali sepupunya. Ada satu hal yang sejak lama ingin ia cari tapi selalu ia tunda: barang-barang ayahnya. Saat ayahnya meninggal dan ia pulang untuk tahlilan, ia tak sempat—tak sanggup—membongkar peninggalan itu. Pagi ini, didorong putus asa, ia membongkar lemari tua di kamar belakang, kotak-kotak berdebu yang berisi sisa hidup seorang mantan kepala dusun.
Di antara surat-surat lama, kuitansi, dan foto-foto kuning, ia menemukan sebuah buku tulis tebal, sampulnya pudar, halaman-halamannya penuh tulisan tangan ayahnya yang rapi dan kecil. Ia membukanya, mengira akan menemukan catatan tentang sungai, tentang penolakan tambang, tentang perlawanan—warisan idealisme yang selama ini ia bayangkan.
Tapi yang ia temukan bukan itu. Atau bukan hanya itu.
Buku itu penuh rencana. Bukan rencana melawan. Rencana membangun. Ayahnya, ternyata, tak hanya menolak tambang. Bertahun-tahun lalu, ketika ia masih kepala dusun, ia telah menyusun gagasan tentang apa yang harus dilakukan desa alih-alih bergantung pada pasir. Halaman demi halaman berisi perhitungan kasar: lahan bekas sawah di hilir yang rusak bisa diubah jadi kolam tambak ikan air tawar; ada catatan tentang nila, lele, gurami, perkiraan modal, perkiraan panen. Ada sketsa sederhana saluran air. Ada daftar nama-nama warga yang ayahnya pikir bisa diajak. Ada coretan tentang koperasi—mengumpulkan hasil bumi warga, mengolahnya, menjualnya bersama agar tak dimainkan tengkulak. Ada bahkan catatan tentang menghidupkan kembali kerajinan dan menanam pohon di tepi sungai untuk menahan longsor.
Di salah satu halaman, dengan tinta yang lebih tebal seperti ditulis dengan kemarahan atau keputusasaan, ayahnya menulis: "Mereka tidak menolak tambang karena tidak cinta sungai. Mereka memilih tambang karena tambang memberi makan hari ini, dan aku tidak punya jawaban untuk lapar hari ini. Selama aku hanya bisa bilang 'jangan', aku akan selalu kalah. Menolak saja tidak cukup. Harus ada gantinya. Harus ada dapur lain."
Pram membaca kalimat itu, dan napasnya tercekat.
Harus ada dapur lain.
Ayahnya sudah tahu. Tiga puluh tahun lalu, ayahnya sudah menghadapi persis dilema yang Pram hadapi sekarang, dan sudah menemukan kebenaran yang baru kemarin malam menghantam Pram di musala: menolak tambang saja tak cukup. Idealisme tak bisa dimakan. Ayahnya bukan orang keras kepala yang mati membela prinsip kosong. Ayahnya adalah orang yang punya jawaban—jawaban yang membumi, masuk akal, tentang tambak dan koperasi dan pohon penahan longsor—tapi kalah, bukan karena gagasannya buruk, melainkan karena uang pasir terlalu mudah, terlalu cepat, dan gagasan yang lambat selalu kalah oleh upah yang langsung.
Pram duduk di lantai kamar berdebu itu, buku tua di pangkuannya, dan untuk pertama kalinya sejak ia ragu di tepi sungai semalam, ia merasakan sesuatu yang bukan keputusasaan. Bukan kemenangan—jalan ke depan masih gelap dan panjang. Tapi arah. Ayahnya bukan hanya mewariskan perlawanan; ayahnya mewariskan rencana. Dan rencana itu, yang dulu kalah karena tambang masih ada untuk dibandingkan, kini punya peluang—karena tambang sudah tutup, dan desa, dengan dapur dinginnya, akhirnya tak punya pilihan lain selain mendengar.
Pram menyalin nama-nama dari buku itu. Ia membaca perhitungan tambak berulang kali. Ia melipat sketsa saluran air dan memasukkannya ke saku. Sesuatu dalam dirinya bergeser dari bertahan menjadi membangun. Ia teringat kembali pada keahlian aslinya—bukan politik, bukan birokrasi, melainkan menyusun tim dari bahan seadanya, dari bangku cadangan, dan membuat orang yang sudah kalah percaya mereka bisa menang.
Ia pulang dengan langkah yang berbeda dari saat berangkat. Bebannya tak berkurang—justru bertambah, karena kini ia tahu apa yang harus ia bangun, dan tahu betapa sulitnya. Tapi beban yang punya arah lebih ringan ditanggung daripada keraguan yang berputar tanpa ujung. Ia menatap buku tua ayahnya di tangannya dan berbisik, kali ini bukan pertanyaan, melainkan janji: "Saya teruskan, Pak. Bukan cuma nutup. Saya bangun dapur lain."