Pram tak diundang ke pengajian itu. Ia datang sendiri, Jumat malam, duduk di belakang di antara para lelaki, di musala dusun tengah—jantung wilayah penambang, tempat yang sekarang dingin padanya. Ia datang bukan untuk bicara. Ia datang untuk mendengar, karena ia dengar Pak Har akan hadir, dan ia ingin tahu apa yang dikatakan lawannya ketika tak ada kamera, tak ada wartawan kecamatan, tak ada panggung—hanya warga, kopi, dan obrolan setelah doa.
Ustaz selesai memimpin, dan seperti biasa di desa, pengajian berlanjut jadi obrolan santai. Pak Har, yang duduk di barisan tengah, ditarik bicara oleh seorang bapak yang bertanya, dengan suara lelah, kapan keadaan akan membaik. Dan Pak Har, dalam cahaya temaram lampu musala, mulai berbicara—bukan berkampanye, bukan menyerang Pram. Ia berbicara seperti orang tua yang sungguh-sungguh mengkhawatirkan anak-anaknya.
"Saya ini sudah tua," katanya, suaranya rendah, tanpa pengeras suara, sehingga ruangan harus hening untuk mendengarnya. "Dua belas tahun saya pimpin desa ini. Sebelum saya, kalian masih ingat? Anak-anak banyak yang nggak lanjut sekolah. Yang sakit dibawa ke kota cuma kalau sudah parah, karena nggak ada uang. Jalan masih tanah. Lalu ada tambang. Saya nggak bikin tambang itu, kalian tahu—itu sudah ada, orang luar yang punya modal. Tapi saya buat keputusan: saya biarkan warga kerja di situ. Banyak yang menyalahkan saya. Tapi karena itu, anak-anak kalian sekolah. Yang sakit bisa berobat. Jalan diaspal. Itu salah saya?"
Tak ada yang menjawab. Pram, di belakang, merasa dadanya mengencang.
"Sekarang ada yang bilang tambang itu rusak. Sungai keruh, jembatan retak. Saya nggak menyangkal," Pak Har melanjutkan, dan inilah yang membuat Pram tak bisa membencinya dengan bersih—ia tak menyangkal. "Tapi coba kalian pikir. Sungai keruh, tapi anak sekolah. Jembatan retak, tapi dapur ngepul. Sekarang sungai mau dijernihin, jembatan mau diperbaiki—bagus. Tapi sambil nunggu itu, anak kalian makan apa? SPP bayar pakai apa? Sungai yang jernih itu indah, tapi sungai nggak bayar sekolah. Idealisme itu bagus, Saudara-saudara. Tapi idealisme nggak bisa dimakan."
Kalimat itu jatuh di ruangan seperti hujan di tanah kering. Pram melihat kepala-kepala mengangguk. Bukan kepala orang bodoh, bukan kepala orang yang dibeli. Kepala bapak-bapak yang anaknya benar-benar putus sekolah bulan ini. Dan Pram, duduk di belakang, mencari dalam dirinya bantahan—bantahan yang kenyang, bantahan yang bisa dimakan—dan tak menemukannya.
Karena Pak Har benar. Itulah yang mengerikan. Dalam ruangan ini, malam ini, di hadapan orang-orang yang dapurnya dingin, Pak Har benar. Sungai yang jernih memang tak membayar SPP. Jembatan yang kokoh memang tak mengenyangkan malam ini. Pram bisa berbicara tentang anak-anak yang sakit karena air, tentang jembatan yang bisa ambruk, tentang masa depan—tapi semua argumennya tentang esok, dan orang-orang ini lapar hari ini. Lapar hari ini selalu menang melawan bencana esok. Itulah pelajaran pertama yang ia dapat saat berkampanye dari pintu ke pintu, dan ia menyangkanya sudah lewat. Ternyata belum. Ternyata itu kebenaran abadi desa ini.
Pak Har tak menyebut nama Pram sekali pun. Ia tak perlu. Ia hanya menggambarkan dunia dengan jujur dari sudut perut yang lapar, dan dalam gambaran itu, Pram adalah anak muda yang menukar nasi orang dengan keindahan yang tak bisa dikunyah.
Pram pulang berjalan kaki dalam gelap, dan untuk pertama kalinya sejak ia nekat mendaftar, ia benar-benar ragu. Bukan ragu pada keberaniannya—ia tahu ia berani. Ragu pada kebenarannya. Sepanjang hidupnya ia yakin idealisme ayahnya benar, hanya kalah oleh kemudahan uang pasir. Tapi malam ini ia bertanya pada dirinya: bagaimana kalau ayahnya salah? Bagaimana kalau menolak tambang dulu, dan menutupnya sekarang, bukan keberanian melainkan kemewahan orang yang tak harus menanggung lapar orang lain? Bagaimana kalau ia tak menyelamatkan desa, melainkan menghancurkannya pelan-pelan demi membuktikan ayahnya bukan orang bodoh?
Ia berhenti di tepi sungai dalam gelap. Tikungan itu sunyi sekarang—ekskavator membisu, tumpukan pasir diam. Sunyi yang ia perjuangkan. Tapi di dusun di belakangnya, dapur-dapur dingin, dan seorang ibu menerima beras dari lelaki yang ia kalahkan. Ia menatap air yang mengalir lemah dalam gelap dan berbisik pada dirinya sendiri pertanyaan yang tak ia berani ucapkan sebelumnya: "Aku ini menyelamatkan apa?"
Tak ada yang menjawab kecuali suara air—suara paling lirih, hampir tak terdengar, di tempat yang dulu paling bising. Dan untuk malam itu, kelirihan itu tak terasa seperti kemenangan, melainkan seperti kekosongan yang ia ciptakan dan tak tahu cara mengisi.