Pram tahu Pak Har akan bergerak. Ia hanya tak menyangka secepat dan secerdik itu.
Dua hari setelah demo, sebuah truk—truk pikap, bukan truk pasir—masuk ke dusun tengah, penuh karung beras, minyak goreng, mi instan, dan gula. Di belakangnya berjalan Pak Har sendiri, mengenakan kemeja sederhana, bukan batik mahalnya, sengaja tampil membumi. Ia tak naik mobil. Ia berjalan kaki di antara rumah-rumah penambang yang dapurnya dingin, membagikan sembako dengan tangannya sendiri, menyapa setiap kepala keluarga dengan nama, menanyakan kabar anak, menggenggam tangan ibu-ibu yang menangis terharu.
"Ini bukan dari saya, ini dari kita semua yang masih peduli," katanya pada kerumunan kecil yang mengikutinya, suaranya hangat, matanya basah dengan kepiluan yang—dan inilah yang membuat Pram bergidik saat mendengar laporannya—tampak tulus. "Saya tahu susahnya. Saya yang dulu kasih Bapak-bapak kerja. Sekarang kerjanya ditutup, dapurnya dingin, dan saya nggak bisa diam. Saya cuma orang biasa sekarang, bukan kades lagi. Tapi selama saya masih bisa kasih, saya kasih."
Kabar menyebar secepat angin. Pak Har, sang petahana yang kalah, sang orang tua yang dikalahkan anak rantau, kini berkeliling membagi beras pada orang-orang yang kelaparan akibat kebijakan kades baru. Cerita itu menulis dirinya sendiri: di satu sisi, lelaki tua dermawan yang turun ke jalan untuk rakyat kecil; di sisi lain, kades muda idealis yang menutup tambang demi sungai lalu membiarkan tetangganya kelaparan. Pram melihat dengan ngeri betapa sempurnanya narasi itu, dan betapa benarnya sebagian darinya.
Topik datang berapi-api. "Itu sembako politik, Pram! Buat naikin pamor dia, buat ngejatuhin kamu! Kamu harus bongkar, harus bilang ke warga itu cuma akal-akalan!"
Pram menggeleng pelan, dan justru ketenangannya membuat Topik makin gusar. "Bongkar apa, Pik? Berasnya nyata. Lapar warga nyata. Kalau aku bilang itu akal-akalan, aku cuma kelihatan kayak orang iri yang nuduh musuhnya pas musuhnya lagi kasih makan. Aku yang kalah." Ia mengusap wajah. "Dan yang paling busuk—dia nggak sepenuhnya bohong. Dia memang kasih makan. Aku yang bikin mereka lapar. Itu yang nggak bisa kubantah."
Di situlah letak kecerdikan Pak Har yang membuat Pram nyaris kagum dalam getirnya. Pak Har tak perlu mengarang fitnah. Ia hanya perlu mengisi lubang yang Pram ciptakan—dapur yang dingin—dan dengan begitu mengubah penderitaan yang Pram timbulkan menjadi panggungnya sendiri. Setiap karung beras yang ia bagikan adalah dakwaan terhadap Pram. Setiap air mata syukur seorang ibu adalah suara yang bergeser kembali ke rumah besar.
Dan Pram menyaksikan sesuatu yang lebih mengkhawatirkan dari sekadar pamor. Pak Har, yang sebagai petahana terkalahkan sudah hampir lumpuh, kini menemukan kekuatan baru—kekuatan oposisi. Sebagai kepala desa, Pak Har terikat tanggung jawab; segala kerusakan, segala keluhan, akhirnya bermuara padanya. Tapi sebagai mantan kepala desa yang membagi beras, ia bebas. Ia tak perlu memperbaiki apa pun, tak perlu mengurus apa pun, tak perlu menanggung apa pun. Ia hanya perlu menunjuk pada penderitaan dan berkata: lihat, inilah hasil pemerintahan kades baru. Posisinya kini jauh lebih kuat daripada saat ia berkuasa.
Malam itu Pram berjalan sendirian ke dusun tengah, menjaga jarak, mengamati dari kegelapan. Ia melihat rumah Mbok Surti. Di terasnya, ada karung beras dan sebotol minyak goreng. Mbok Surti duduk di samping karung itu, dan Yatno berdiri di sebelahnya. Pram terlalu jauh untuk mendengar, tapi ia bisa membaca bahasa tubuh mereka—lega, syukur, dan di balik itu, mungkin, rasa malu yang campur aduk karena harus berterima kasih pada orang yang dulu mereka tahu tak bersih. Tapi anak harus makan. Dan beras yang ada di teras hari ini lebih nyata dari janji kades yang belum jadi.
Pram pulang dengan beban baru di dadanya. Ia datang ke desa ini melawan satu hal: petahana yang membeli loyalitas dengan perut kenyang. Ia mengalahkannya, dengan susah payah, dengan luka. Dan sekarang ia menyaksikan musuh itu bangkit lagi, lebih berbahaya dari sebelumnya, dengan senjata yang sama—perut—tapi dipoles jadi belas kasih, dan dengan amunisi yang Pram sendiri sediakan: kelaparan yang ia ciptakan dengan menutup tambang. Ia mengerti sekarang bahwa kalah dalam Pilkades tidak menghancurkan Pak Har. Itu hanya melepaskannya dari beban memerintah, dan menjadikannya bayangan yang mengikuti setiap langkah Pram, menunggu desa cukup lapar untuk memanggilnya kembali.