Demo itu datang pada Senin pagi, dan kali ini terorganisir.
Pram tahu dari caranya tersusun bahwa ini bukan kerumunan spontan seperti hari surat penghentian itu datang. Ratusan orang—lebih banyak dari yang Pram kira masih sanggup digerakkan—berkumpul di lapangan depan balai desa sejak pukul tujuh. Ada spanduk sekarang, dicetak rapi di percetakan kecamatan, bukan ditulis tangan: BUKA KEMBALI TAMBANG. KADES JANGAN MEMATIKAN RAKYAT. Ada pengeras suara. Ada beberapa pemuda yang mengatur barisan, mengarahkan teriakan, memimpin yel. Pram mengenali beberapa di antaranya sebagai orang-orang yang dulu kerap terlihat di rumah Pak Har—tangan-tangan yang menggerakkan dari belakang layar.
Tapi ia juga tahu, dengan pahit, bahwa menyebut ini "demo bayaran" akan menjadi kebohongan yang nyaman. Ya, ada yang menggerakkan. Tapi yang datang, sebagian besar, datang karena benar-benar lapar dan takut. Ia melihat Pak Kusno di barisan depan. Ia melihat Lik Darman. Ia melihat Mas Bejo. Wajah-wajah itu bukan wajah yang dibayar untuk marah—mereka marah dengan amarah yang lahir dari perut kosong dan masa depan yang mendadak gelap. Itulah yang membuat demo ini jauh lebih menakutkan dari intimidasi mana pun: amarah ini sebagian sah.
Topik mendekatinya di dalam balai, gugup. "Pram, jangan keluar. Mereka lagi panas. Tunggu sampai dingin, atau panggil polsek."
Pram menggeleng. "Kalau aku ngumpet, atau aku panggil polisi buat ngusir tetanggaku sendiri, aku sama saja jadi Pak Har versi lain." Ia melepas jaketnya, menggulung lengan kemejanya. "Mereka datang mau bicara sama kades. Kadesnya harus ada."
Ia keluar ke teras tanpa pengawal, tanpa perangkat di sampingnya. Begitu ia muncul, teriakan meledak. Yel-yel membanjirinya. Seseorang melempar sesuatu—bukan batu, segenggam pasir, yang menghambur di kakinya, simbolis dan pahit. Pengeras suara meneriakkan tuduhan: kades sok pintar, kades anak rantau yang nggak tahu susahnya cari makan, kades yang nutup dapur demi sungai yang nggak bisa dimakan.
Pram berdiri di tengah badai itu dan tidak bicara. Ia tahu, dari pengalaman lama di lapangan bola, bahwa berteriak melawan kerumunan yang berteriak hanya akan menambah kebisingan. Maka ia diam, menunggu, membiarkan amarah itu menghantamnya gelombang demi gelombang. Ia tidak menunduk, tidak juga menantang. Ia berdiri tegak dan menerima.
Butuh waktu lama. Tapi kerumunan, seperti semua kerumunan, akhirnya lelah berteriak pada orang yang tak melawan. Teriakan mulai surut, tersendat, lalu hanya tinggal beberapa suara, lalu desis ketidaksabaran. Ketika cukup hening untuk didengar, Pram mengangkat tangannya—bukan untuk menyuruh diam, melainkan isyarat meminta giliran.
"Saya nggak akan teriak balik," katanya, dan ia tak memakai pengeras suara, sehingga orang-orang harus diam untuk mendengarnya, dan keheningan itu sendiri menariknya. "Bapak-bapak datang jauh-jauh pagi-pagi, sebagian belum sarapan, saya tahu. Kalau saya teriak, saya nggak menghormati itu."
Ia menatap Pak Kusno, langsung ke matanya. "Pak Kusno, truk Bapak gimana?"
Pertanyaan itu membuat barisan depan kaget. Pak Kusno terbata. "Di...ditarik leasing, minggu lalu."
"Berapa tahun Bapak narik pasir?"
"Sembilan tahun."
Pram mengangguk pelan. "Sembilan tahun. Dan dalam sembilan tahun itu, berapa yang Bapak bisa tabung? Truknya kredit, cicilan tiap bulan, solar naik terus. Bapak narik pasir buat bayar truk yang dipakai narik pasir." Ia membiarkan kalimat itu turun. "Saya nggak ngomong gini buat nyalahin Bapak. Saya ngomong gini karena saya marah—bukan sama Bapak. Sama orang-orang yang bikin Bapak narik pasir sembilan tahun dan tetap miskin, terus sekarang nyuruh Bapak teriak-teriak di sini biar saya yang disalahin."
Keheningan menebal. Beberapa pemuda pengatur barisan saling pandang, gelisah—arah ini tak mereka rencanakan.
"Saya nggak akan bohong sama Bapak-bapak," Pram melanjutkan. "Saya nggak punya pasir buat dikasih ke Bapak hari ini. Saya nggak bisa buka lagi tambang itu—bukan karena saya keras kepala, karena izinnya memang bukan di tangan saya, dan air itu memang bikin anak kita sakit. Saya nggak bisa ngebalikin yang kemarin." Suaranya turun, hampir patah. "Tapi saya juga nggak akan ninggalin Bapak-bapak. Itu yang bisa saya janji, dan saya tahu janji nggak ngenyangin. Jadi saya nggak minta Bapak percaya. Saya cuma minta Bapak kasih saya waktu—dan kalau saya gagal, Bapak datang lagi ke sini, dan kali itu saya nggak akan punya muka buat ngomong apa-apa."
Demo itu tak bubar dengan kemenangan. Tak ada tepuk tangan, tak ada perubahan hati ajaib. Kerumunan akhirnya pergi karena lapar dan panas, sebagian masih menggerutu, sebagian diam termenung. Tapi tak ada batu yang dilempar setelah itu, dan beberapa orang—Pak Kusno salah satunya—pergi dengan wajah yang tak lagi sekeras saat datang. Pram masuk kembali ke balai, duduk, dan baru saat itu ia menyadari tangannya gemetar dan keringat dingin membasahi punggungnya. Berdiri menanggung benci tetangga sendiri, tanpa balas, hampir mematahkannya. Tapi ia tak patah. Belum.