Minggu-minggu setelah truk berhenti, Kedungwaru berubah dengan cara yang tak kasat mata tapi terasa di mana-mana. Bukan perubahan yang dramatis—tak ada keributan setiap hari, tak ada huru-hara. Yang ada justru kesunyian yang berat, kesunyian dapur yang tak lagi mengepul sesering dulu.
Warung kopi di simpang dusun tengah, yang dulu ramai sejak subuh oleh sopir dan kuli yang sarapan sebelum kerja, kini lengang. Bu Tukini, pemiliknya, masih membuka kedai karena tak tahu harus apa lagi, tapi gorengannya dingin tak terjual, dan termos kopinya tak habis sampai sore. "Yang biasa ngopi di sini, Pak Kades," katanya suatu hari ketika Pram lewat, tanpa marah, hanya pasrah, "sekarang nggak ada uang buat ngopi. Saya juga sebentar lagi tutup."
Pram berjalan melewati dusun-dusun penambang dan melihat tanda-tandanya di mana-mana. Motor-motor yang dulu diparkir di halaman kini hilang—dijual, atau ditarik leasing karena cicilan menunggak. Beberapa rumah yang dulu mulai dibangun bertingkat dari upah pasir kini berhenti setengah jadi, besi-besinya berkarat menantang langit. Di pos ronda, sekelompok lelaki yang dulu sibuk kini duduk seharian, main kartu, tertawa pahit, dan diam saat Pram lewat—diam yang lebih keras dari makian.
Yang paling menyakitkan adalah Mbok Surti.
Dulu, ketika ayah Pram masih hidup, Mbok Surti adalah tetangga yang paling sering datang ke rumah, mengantar tempe buatannya, duduk berjam-jam mengobrol dengan ibu Pram. Saat Yatno dirumahkan dari tambang dulu, Mbok Surti datang ke kantor desa, tidak marah, hanya bertanya pelan soal sekolah anaknya—"yang benar nggak bisa dimakan, Le." Pram masih menyimpan kalimat itu seperti duri di dada.
Sekarang, ketika Pram berpapasan dengannya di jalan—ia sengaja lewat depan rumahnya, berharap bisa bicara—Mbok Surti tak menyapanya. Ia tak memaki, tak menatap benci. Ia hanya memalingkan wajah, melanjutkan menyapu halaman seolah Pram tak ada. Dan ketidakhadiran itu, ketiadaan sapaan dari perempuan yang dulu menyayanginya seperti anak sendiri, menghantam Pram lebih keras dari teriakan kerumunan.
"Mbok," Pram memberanikan diri berhenti, suaranya rendah. "Yatno gimana? Sekolahnya..."
Mbok Surti tak berhenti menyapu. "Sudah berhenti, Le," katanya, datar, tanpa menoleh. "Dua bulan. Nggak ada uang buat SPP." Sapunya bergerak teratur, keras. "Kamu nggak usah tanya. Tanya cuma bikin kamu enak, bikin saya nggak."
Pram berdiri mematung. Ia ingin berkata ia akan mencari jalan, ia janji, ia sedang mengusahakan—tapi semua kata itu, di hadapan sapu yang terus bergerak dan punggung yang membelakanginya, terdengar seperti janji yang dulu dibantah seseorang di kerumunan: anak saya makan janji? Ia menelan kata-katanya, dan pergi.
Malam itu ia tak bisa tidur. Ia duduk di ruang tengah rumahnya yang sepi, di bawah foto ayahnya yang menatap dari dinding. Dulu, ketika ia nekat mendaftar, ketika ia berkampanye dari pintu ke pintu, ketika ia menang tipis dan dilantik, ia membayangkan momen menutup tambang sebagai puncak—saat kebenaran menang, saat sungai diselamatkan, saat warisan ayahnya terbukti benar. Ia tak pernah membayangkannya seperti ini: sebagai musim panjang dapur yang dingin, di mana orang-orang yang ia kenal sejak kecil kelaparan dan menatapnya seperti perampok.
Ia teringat sesuatu yang dikatakan Pak Har di makan malam itu, kalimat yang dulu ia tolak dengan marah: "Kalau ada yang lapar, itu pilihanmu, Le." Saat itu ia menganggapnya ancaman, manipulasi orang tua licik. Sekarang, di tengah kesunyian malam ini, kalimat itu kembali dengan wajah yang berbeda—bukan ancaman, melainkan ramalan. Pak Har, dengan segala caranya yang busuk, mengerti satu hal yang Pram baru benar-benar rasakan sekarang: bahwa memberi makan adalah kuasa yang paling nyata, dan mencabutnya—bahkan demi kebaikan—adalah luka yang punya nama dan wajah.
Nama-nama itu berbaris di kepalanya. Pak Kusno dengan truk kreditnya. Mas Bejo yang baru menikah. Yatno yang putus sekolah. Bu Tukini yang warungnya sekarat. Mbok Surti yang tak lagi menyapa. Ini bukan statistik, bukan "warga terdampak" dalam laporan dinas. Ini orang-orang yang dulu memberinya tumpangan, yang ibunya mengantar tempe, yang anaknya dulu ia latih main bola di lapangan yang kini berdebu.
Ia mengerti, akhirnya, dengan kejernihan yang menyakitkan, kebenaran yang sejak awal jadi premis hidupnya tapi baru kini ia rasakan di tulang: membela desa berarti melukai tetangga. Bukan ungkapan dramatis. Kenyataan harfiah. Ia membela sungai, dan untuk itu ia melukai Mbok Surti. Ia menyelamatkan jembatan, dan untuk itu ia membuat anak Bu Warsiti tetap sakit sementara ayahnya menganggur. Tak ada kemenangan yang bersih di sini. Tak akan pernah ada.
Dan justru karena itu, ia tahu ia tak boleh berhenti di menutup. Menutup adalah bagian yang mudah—satu surat sudah cukup. Yang sulit, yang sebenarnya, baru dimulai: ia harus membangun dapur baru sebelum dapur-dapur lama ini dingin selamanya. Kalau ia gagal, maka penutupan itu bukan kemenangan, melainkan kejahatan yang ia lakukan atas nama kebaikan. Ia menatap foto ayahnya, lama, lalu berbisik pada wajah yang membisu itu, "Bapak dulu tahu ini bakal begini, ya. Makanya Bapak nggak cuma nolak."