Surat itu datang sepuluh hari kemudian, dan Pram hampir tak percaya saat membacanya.
Kertas berkop dinas provinsi, distempel, ditandatangani. Isinya, dalam bahasa birokrasi yang dingin: berdasarkan hasil peninjauan lapangan dan pemeriksaan awal kualitas air, kegiatan penambangan dan pengolahan bahan galian golongan C di tikungan Sungai Kedungwaru dihentikan sementara terhitung sejak surat diterima, sambil menunggu evaluasi menyeluruh atas perizinan dan dampak lingkungan. Penghentian sementara. Bukan penutupan permanen—Pram cukup paham sekarang untuk tak salah membaca. Tapi penghentian. Truk berhenti. Ekskavator diam. Untuk pertama kalinya sejak ia kecil, tikungan sungai itu akan sunyi.
Ia membacanya tiga kali. Lalu ia duduk, dan rasa yang datang bukan euforia. Ia teringat kalimat Pak Setiawan: laporan saya satu suara. Entah bagaimana, suara itu menang kali ini—mungkin karena sampel air yang dibawanya benar-benar buruk hasilnya, mungkin karena ada atasan yang takut kasus ini meledak ke media, mungkin sekadar keberuntungan birokrasi yang langka. Pram tak tahu. Yang ia tahu, kertas di tangannya ini akan mematikan dapur ratusan keluarga seketika.
Kabar menyebar lebih cepat dari surat itu sendiri. Sebelum tengah hari, tikungan sungai sudah ramai—bukan oleh pekerja, melainkan oleh kerumunan yang panik. Pak Danang berdiri di depan pos tambang, membaca surat tembusan dengan rahang mengeras, lalu berteriak pada para pekerja untuk pulang. Truk-truk yang biasanya antre muat kini diparkir berjajar tak berguna. Sopir-sopir turun, berkumpul, merokok, dan menatap ke arah balai desa dengan wajah yang Pram bisa baca dari jauh: ini gara-gara kades baru.
Menjelang sore, kantor desa dikepung. Bukan demo terorganisir—itu akan datang nanti, Pram tahu—melainkan kerumunan spontan yang lapar dan takut. Para sopir, kuli muat, penambang manual, dan pemilik warung yang hidup dari truk. Mereka tak membawa spanduk. Mereka membawa pertanyaan yang lebih menyakitkan dari spanduk mana pun.
"Pak Kades!" seorang sopir tua, Pak Kusno, yang dulu sering memberi Pram tumpangan saat kecil, berdiri paling depan. Suaranya tidak marah—itu yang membuatnya menusuk. Suaranya bingung. "Saya besok bayar cicilan truk pakai apa? Truk itu saya kredit buat narik pasir. Sekarang pasirnya berhenti. Saya umur lima puluh delapan, Le. Mau kerja apa lagi saya?"
Pram berdiri di teras balai, menghadap mereka tanpa pengawal, tanpa perangkat desa di sampingnya—Carik dan yang lain entah ke mana, mungkin sengaja menghilang agar Pram menanggung sendiri. Ia menatap wajah-wajah yang ia kenal. Pak Kusno. Lik Darman yang anaknya tiga. Mas Bejo yang baru menikah. Bukan orang asing. Tetangga.
"Saya nggak akan bohong sama Bapak-bapak," kata Pram, dan ia memaksa suaranya tenang walau dadanya remuk. "Surat ini dari provinsi, bukan dari saya. Tapi saya nggak akan ngumpet di balik itu. Saya yang lapor. Jadi kalau Bapak mau marah, marah saja sama saya. Pantas."
Kerumunan bergemuruh. Seseorang berteriak dari belakang, "Sok suci! Kamu nggak punya anak yang harus dikasih makan, makanya gampang ngomong!"
Pram menerimanya. Ia tak membalas. "Saya tahu air tambang itu bikin anak-anak sakit. Saya tahu jembatan kita mau ambruk. Saya nggak bisa pura-pura nggak tahu cuma biar Bapak-bapak nggak marah sama saya." Ia menarik napas. "Tapi saya juga tahu Bapak-bapak butuh makan besok. Itu betul. Itu salah saya kalau saya cuma nutup, terus diam. Jadi saya janji satu hal—bukan janji muluk, janji yang bisa saya pegang. Saya akan cari kerja pengganti. Saya nggak tahu caranya sekarang, saya jujur. Tapi saya nggak akan tidur sebelum ketemu."
"Janji!" seseorang menyemburkan. "Anak saya makan janji?"
Kalimat itu menggantung di udara, dan Pram tak punya jawaban yang cukup. Karena memang benar. Anak tak makan janji. Ia berdiri di sana, di kursi yang ia perjuangkan dengan luka, dan untuk pertama kalinya merasakan secara penuh apa yang dulu hanya ia takutkan: murka warga yang dulu mengantarnya ke TPS. Bukan murka Pak Har. Bukan murka pengelola. Murka tetangga yang ia rampas nasinya demi sungai yang belum tentu mereka pedulikan.
Kerumunan akhirnya bubar menjelang magrib, tak puas, menggerutu, sebagian mengancam akan datang lagi dengan lebih banyak orang. Pram tetap berdiri di teras sampai yang terakhir pergi. Topik mendekat, menyodorkan air minum. "Kamu nggak apa-apa, Pram?"
Pram menatap tikungan sungai yang dari kejauhan tampak sunyi—ekskavator membisu, truk diam. Sunyi yang ia perjuangkan. Sunyi yang terasa seperti dakwaan. "Aku menang, Pik," katanya pelan, dan suaranya tak ada kemenangan sama sekali. "Aku menang, dan aku belum pernah sekalah ini."