Mereka berangkat lewat tengah hari, ketika panas paling menyengat. Pram sengaja tak naik mobil dinas. Ia berjalan kaki di depan, mengajak rombongan menyusuri jalan desa yang berdebu, supaya para pejabat merasakan sendiri debu yang dihirup warga setiap hari. Pak Har ikut, tentu saja, tak mau Pram berbicara sendirian dengan tamu-tamunya. Pak Danang juga ikut, berjalan di belakang dengan wajah waspada.
Pemberhentian pertama: kolong jembatan tua. Pram menuruni tebing kecil ke tepi sungai, dan dengan isyarat tangan ia mengajak pejabat berkumis—namanya Pak Setiawan, Pram baru tahu—untuk ikut turun. Di bawah jembatan, di tempat yang tak terlihat dari jalan, kenyataan berbicara sendiri. Pilar beton jembatan, yang dulu tertanam dalam di dasar dan tepi sungai, kini berdiri di atas tanah yang tergerus. Pasir di sekelilingnya telah dikeruk bertahun-tahun, dan akarnya—fondasi yang seharusnya menahan—menggantung, sebagian besinya tampak berkarat, dengan rongga gelap menganga di bawahnya yang dulu padat tanah.
Pak Setiawan terdiam. Ia seorang yang paham teknis, Pram bisa lihat dari caranya menatap. Ia jongkok, menyentuh beton itu, menengadah ke arah jembatan yang setiap hari dilewati truk pasir berton-ton.
"Sudah berapa lama begini?" tanyanya pelan.
"Tiga tahun terakhir makin parah, Pak," jawab Pram. "Bapak saya almarhum sudah memperingatkan ini sejak lama. Kalau pilar ini ambruk, ini satu-satunya jembatan kami. Anak sakit mau dibawa ke rumah sakit lewat mana?"
Pak Har, di atas tebing, berseru ringan, "Itu kan jembatan tua, Pak, memang sudah waktunya diperbaiki. Bukan karena pasir."
Pak Setiawan tak menjawabnya. Ia masih menatap rongga di bawah pilar, dan Pram tahu mata seorang ahli tak bisa berbohong pada dirinya sendiri. Pasir yang dikeruk dari sekitar pilar tak butuh penjelasan panjang bagi orang yang mengerti.
Pemberhentian kedua: rumah Bu Lastri di dusun hilir. Bu Lastri sudah menunggu—Pram mengabarinya lewat Topik tadi. Ia tak berdandan, tak menyiapkan apa-apa, hanya menimba air dari sumurnya di depan para tamu. Air yang naik dalam ember itu kecokelatan, dan saat ditaruh di bawah matahari, lapisan tipis berkilau seperti minyak mengambang di permukaannya. Bau aneh menguar. Salah satu pejabat menutup hidungnya tanpa sadar.
"Ini air yang kami minum, Pak," kata Bu Lastri, suaranya datar tapi gemetar di ujung. "Cucu saya dua-duanya diare dari air ini. Yang kecil sekarang masih di puskesmas. Saya nggak ngerti politik, Pak. Saya cuma tahu sumur saya dulu jernih, sekarang begini, sejak sungai dikeruk terus."
Pak Danang membuka mulut, hendak mengatakan sesuatu tentang hujan dan lumpur alami, tapi Pak Setiawan mengangkat tangan kecil—isyarat agar diam. Ia mengambil botol plastik kosong dari tasnya, menyendok air sumur itu, menutupnya, dan menyimpannya. "Saya bawa untuk diuji di lab," katanya. Untuk pertama kalinya, ada nada serius yang berbeda dalam suaranya. Pram menyimpan harapan kecil pada gerakan itu—seorang petugas yang mau repot menyimpan sampel adalah petugas yang berniat tahu.
Pemberhentian ketiga: posyandu, yang Pram sengaja jadikan penutup. Di sana dokter muda yang dimintanya lewat Mas Yono sedang memeriksa anak-anak, dan halaman masih penuh ibu-ibu. Ketika rombongan masuk, suasana mendadak hening—warga tahu siapa orang-orang berplat merah itu. Bu Bidan, dengan buku catatannya yang tebal, maju dan tanpa banyak basa-basi membacakan angkanya: dua puluh delapan, lalu tiga puluh dua per hari ini, anak-anak sakit di tiga dusun terdekat sungai sejak air berubah. Dokter muda menambahkan, hati-hati dan tanpa membesar-besarkan, bahwa pola keluhan saluran cerna dan pernapasan yang terkonsentrasi di satu area patut ditelusuri sumber airnya secara serius.
Lalu terjadi hal yang tak Pram rencanakan. Bu Warsiti—istri kuli muat tambang—berdiri dari pojok tikar, menggendong anaknya yang ruam. Tangannya gemetar, tapi ia bicara. "Pak, suami saya kerja di tambang. Kami hidup dari situ. Saya nggak mau suami saya nganggur." Ia berhenti, menelan ludah, lalu melanjutkan dengan suara yang pecah. "Tapi anak saya sakit. Air kami juga bau. Tambang kasih kami makan, Pak, iya. Tapi kalau anak kami yang bayar, makan itu buat apa?"
Ruangan diam total. Itu bukan kesaksian pendukung Pram. Itu kesaksian keluarga penambang—orang yang paling diuntungkan tambang, mengakui harganya. Pak Har, yang berdiri di pintu, kehilangan kata. Senyumnya masih ada, tapi kaku, seperti foto. Pram tak mengatakan apa-apa. Ia tak perlu. Bu Warsiti baru saja mengatakan dalam satu kalimat apa yang tak bisa Pram katakan dalam seratus pidato.
Di luar, sebelum pamit, Pak Setiawan menarik Pram sedikit menjauh. Wajahnya lelah, tapi ada sesuatu yang berubah di sana. "Pak Kades, terus terang, saya datang ke sini sudah dibawakan kesimpulan. Saya kira ini cuma kades baru cari sensasi." Ia menatap botol sampel di tangannya. "Tapi yang saya lihat hari ini lain. Ini saya bawa ke lab, saya buat laporan apa adanya." Ia menurunkan suaranya. "Tapi Pak, saya jujur. Di atas saya masih ada banyak meja, dan tambang ini punya kawan di tempat yang saya nggak bisa jangkau. Laporan saya satu suara. Belum tentu menang."
Pram mengangguk. Ia tahu itu. Tapi satu suara jujur di tengah kerumunan yang dibeli sudah lebih dari yang ia punya kemarin. Saat mobil dinas berangkat, meninggalkan debu di belakangnya, Pram berdiri di tepi jalan dan merasakan, untuk kesekian kali, bahwa kemenangan di desa ini tak pernah datang utuh—hanya sepotong, getir, dibawa pulang dalam botol air keruh.