Surat Pram ke provinsi yang dulu dilempar ke kolam besar tanpa balasan ternyata tidak benar-benar tenggelam. Ia tahu itu pada Selasa pagi, ketika Topik berlari masuk ke kantor desa dengan napas tersengal.
"Pram—Pak Kades," Topik membenahi panggilannya, masih belum terbiasa. "Ada mobil dinas. Dua. Plat merah. Masuk dari jalan kabupaten tadi pagi-pagi. Tapi nggak ke sini. Langsung belok ke rumah Pak Har."
Pram meletakkan pulpennya. Perutnya mengencang. "Dari mana?"
"Lik Wage yang lihat. Katanya ada tulisan di pintu mobil, dinas energi apa gitu. ESDM. Yang Pram lapori itu."
Jadi mereka datang. Setelah berminggu-minggu sunyi, setelah Pram nyaris yakin suratnya menguap, tim Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral provinsi akhirnya turun ke Kedungwaru. Tapi mereka tidak datang ke kantor desa, ke kepala desa yang melapor. Mereka langsung ke rumah besar.
Pram mengambil jaketnya dan berjalan cepat ke rumah Pak Har, jantungnya berdebar bukan karena gugup, melainkan marah yang ia paksa tenang. Dari kejauhan ia sudah melihat pemandangan yang membuat dadanya panas. Halaman rumah Pak Har, yang luas dan teduh, sudah ditata seperti menyambut tamu agung. Tenda kecil dipasang. Meja panjang penuh hidangan—nasi tumpeng, ingkung ayam, buah-buahan. Pak Har duduk di tengah, mengenakan batik terbaiknya, tertawa hangat di antara empat-lima pejabat berkemeja rapi. Di sampingnya, seorang lelaki yang Pram kenali sebagai Pak Danang, mandor lapangan tambang, menjelaskan sesuatu sambil menunjuk-nunjuk peta yang dibentangkan di meja.
Pram berhenti di gerbang. Salah satu pejabat melihatnya, lalu berbisik pada yang lain. Pak Har menoleh, dan wajahnya langsung berseri seolah Pram adalah tamu yang paling ia tunggu.
"Lho, Pak Kades!" serunya, bangkit. "Sini, sini, Le. Kebetulan. Ini Bapak-bapak dari provinsi, mau lihat-lihat desa kita. Saya kebetulan kenal, jadi tak ajak mampir dulu, nggak enak kalau tamu jauh nggak dijamu." Ia menarik Pram masuk, lengannya merangkul bahu Pram di depan semua orang, hangat dan tak bisa ditolak tanpa terlihat kasar. "Bapak-bapak, ini kepala desa baru kami. Anak muda, semangat. Beliau yang bikin laporan itu."
Kalimat terakhir diucapkan dengan senyum, tapi Pram menangkap ujungnya yang tajam—beliau yang bikin laporan itu. Diucapkan begitu, di tengah jamuan, di hadapan pejabat yang sudah kenyang dan senang, laporan Pram tiba-tiba terdengar seperti rengekan anak muda yang kurang kerjaan.
Seorang pejabat berkumis, yang tampaknya pemimpin rombongan, menyalami Pram dengan ramah dan jauh. "Pak Kades. Iya, kami sudah baca surat Bapak. Makanya kami turun. Tadi sudah dijelaskan Pak Hartono, sudah dilihat juga peta lokasinya. Katanya tambangnya sudah lama, sudah banyak yang kerja di situ ya. Ekonomi rakyat." Ia mengucapkannya seolah perkara sudah selesai. "Nanti kami tinjau sebentar, formalitas. Tapi Pak, kalau soal lapangan kerja begini, kita kan harus hati-hati. Jangan sampai niat baik malah bikin orang kelaparan."
Pram membuka mulut, lalu menutupnya. Ia merasakan kakinya seperti diinjak. Mereka belum melihat apa pun. Belum melihat sumur Bu Lastri, belum melihat anak-anak di posyandu, belum melihat fondasi jembatan yang menggantung. Mereka baru melihat tumpeng dan peta yang dibentangkan pengelola, dan sudah punya kesimpulan: ekonomi rakyat, jangan bikin orang lapar. Argumen Pak Har, dari mulut pejabat provinsi.
Pak Har menyodorkan piring ke arahnya. "Makan dulu, Le. Nanti kita lihat sama-sama." Tatapannya, di balik keramahan itu, mengatakan hal lain: di sini, di meja ini, akulah tuan rumahnya. Kamu cuma tamu, sama seperti mereka.
Dan Pram mengerti, dengan kejernihan yang dingin, bahwa ini bukan soal benar atau salah lagi. Ini soal telinga. Siapa yang lebih dulu menguasai telinga para pejabat itu. Pak Har sudah menjamu mereka sejak pagi, menggiring mata mereka ke peta, menanam kesimpulan di kepala mereka sebelum kaki mereka menyentuh tepi sungai. Kalau Pram membiarkan ini berlanjut, tim dinas akan pulang dengan satu cerita saja—cerita lapangan kerja, cerita berkah, cerita kepala desa muda yang berlebihan. Laporannya akan dibelokkan bukan dengan kebohongan, melainkan dengan keramahan dan tumpeng.
Ia menerima piring itu, karena menolaknya akan terlihat kekanak-kanakan. Tapi ia tidak duduk. Ia berdiri, dan saat para pejabat kembali mengobrol dengan Pak Har, ia mendekati pejabat berkumis itu, pelan, dan berkata dengan suara yang ia jaga agar tetap sopan namun jelas.
"Pak, terima kasih sudah jauh-jauh datang. Saya cuma minta satu hal. Sebelum Bapak pulang, izinkan saya antar Bapak lihat tiga tempat. Sebentar saja, setengah jam. Sumur warga, kolong jembatan, sama posyandu. Biar Bapak lihat dua sisinya, bukan cuma yang di meja ini." Ia menahan napas. "Bapak kan datang buat memeriksa. Memeriksa itu kan lihat sendiri, bukan cuma dengar yang menjamu."
Pejabat itu terdiam sesaat. Pram melihat sesuatu berkedip di matanya—tersinggung, mungkin, atau justru tergelitik. Di sebelah mereka, Pak Har masih tertawa, belum mendengar. Tapi Pak Danang, sang mandor, mendengar. Dan wajahnya, untuk sepersekian detik, kehilangan senyumnya.
"Boleh," kata pejabat berkumis akhirnya, mungkin karena malu menolak permintaan yang begitu masuk akal di depan saksi. "Habis ini. Sebentar saja ya, Pak Kades."
Pram mengangguk, dan untuk pertama kali sejak ia masuk halaman itu, ia merasa tanahnya kembali. Pertarungan ini belum kalah. Ia hanya perlu memindahkan telinga para pejabat itu dari meja Pak Har ke gang-gang sempit dusun hilir—dan di sana, ia tahu, ada bukti yang tak bisa dibantah tumpeng mana pun.