Penutupan jembatan untuk kendaraan berat membuat Kedungwaru terasa seperti tubuh yang salah satu nadinya dijepit. Motor masih bisa lewat satu per satu, hati-hati di atas papan yang dipasang menyeberangi retakan, tapi segala yang berat harus memutar lewat jalan tanah kabupaten yang jauh, berlubang, dan saat hujan berubah jadi kubangan. Sayur yang dibawa ke pasar kecamatan terlambat dan layu. Seorang ibu yang akan melahirkan harus diangkut dengan motor ke ujung jalan tempat ambulans menunggu di seberang. Ketidaknyamanan itu, yang menyentuh semua orang tanpa pandang kubu, melakukan apa yang tak bisa dilakukan argumen mana pun: ia membuat seluruh desa, akhirnya, peduli pada jembatan.
Pram tak menunggu provinsi. Ia tahu izin tambang ada di provinsi, tapi jembatan—jembatan adalah aset desa dan kabupaten, dan untuk itu pintunya berbeda. Dengan Mas Yono dan Topik, ia menyusun pengajuan perbaikan jembatan ke pemerintah kabupaten: surat resmi, foto, data lalu lintas, dan permohonan tinjauan teknis darurat. Kali ini, entah karena jembatan menyangkut nyawa dan lebih mudah dibela daripada lingkungan, atau karena laporan-laporan Pram yang berbulan-bulan akhirnya menumpuk cukup tinggi untuk tak bisa diabaikan, jawaban datang lebih cepat. Seorang insinyur dari dinas pekerjaan umum kabupaten dikirim untuk meninjau.
Insinyur itu, lelaki paruh baya bernama Pak Wibowo, datang dengan helm proyek dan alat ukur, dan tak banyak basa-basi. Ia turun ke kolong jembatan, mengukur rongga di bawah pilar, mengetuk-ngetuk beton, mencatat retakan dengan ketelitian orang yang nyawanya tergantung pada angka. Setelah hampir dua jam, ia naik kembali, melepas helmnya, dan menatap Pram dengan wajah yang serius.
"Pak Kades, terus terang, jembatan ini bisa diperbaiki. Strukturnya masih bisa diselamatkan kalau ditangani cepat—diperkuat pilarnya, dicor ulang fondasinya, distabilkan tepiannya." Ia berhenti. "Tapi saya kasih syarat, dan ini mutlak, bukan saran. Perbaikan ini sia-sia—buang anggaran negara—kalau pengerukan pasir di sekitar pilar masih jalan. Percuma saya cor fondasi baru kalau besoknya ekskavator ngeruk lagi di sampingnya. Air bakal gerus lagi, retak lagi, dan kita balik ke titik nol. Jadi perbaikan jembatan dan penghentian total tambang di tikungan ini—itu satu paket. Nggak bisa dipisah. Salah satu tanpa yang lain, percuma."
Pram mendengarkan kalimat itu, dan untuk sesaat ia hampir tak bisa bernapas—bukan karena terkejut, melainkan karena ia baru saja mendengar argumennya sendiri, argumen yang selama ini ia teriakkan sebagai idealisme dan dianggap orang sebagai kekeraskepalaan, kini diucapkan oleh seorang insinyur dengan helm proyek, dingin, teknis, tak terbantah. Bukan Pram yang bilang tambang harus tutup demi sungai. Seorang ahli kabupaten yang bilang tambang harus tutup demi jembatan, demi keselamatan, demi anggaran negara tak terbuang.
Dan inilah pergeseran yang ia cari selama ini. Selama tambang versus sungai, ia selalu kalah—sungai indah tapi tak bisa dimakan, dan upah hari ini menang melawan kerusakan esok. Tapi tambang versus jembatan adalah persamaan yang berbeda. Karena bahkan penambang butuh jembatan. Bahkan sopir truk butuh jalan yang aman untuk anaknya menyeberang ke sekolah. Bahkan keluarga yang paling bergantung pada pasir tak mau terisolasi tanpa akses ke rumah sakit. Kepentingan yang selama ini terbelah, kini, di hadapan retakan beton, menemukan satu titik temu.
Pram menggunakan momen itu dengan hati-hati. Ia meminta Pak Wibowo menuliskan kesimpulannya secara resmi dalam berita acara tinjauan—hitam di atas putih, bahwa perbaikan jembatan mensyaratkan penghentian permanen galian di sekitar pilar. Lalu ia mengirim salinan berita acara itu, bukan hanya ke kabupaten, tapi ke Dinas ESDM provinsi tempat surat-suratnya selama ini tertidur. Karena sekarang ia tak lagi melapor sendirian dengan bahasa keluhan. Ia melapor dengan dokumen dari insinyur pemerintah lain, dari instansi lain, yang menyatakan hal yang sama. Dua suara resmi yang saling menguatkan jauh lebih sulit diabaikan daripada satu kades yang merengek.
"Mas Yono," kata Pram malam itu di garasi, sambil membentangkan berita acara di meja, "selama ini kita minta tambang tutup demi lingkungan. Mereka selalu bisa jawab: lingkungan versus perut, dan perut menang. Sekarang kita ubah pertanyaannya." Ia mengetuk kertas itu. "Bukan lagi tambang atau sungai. Tapi tambang atau jembatan. Dan jembatan itu—semua orang lewat. Pendukung kita, lawan kita, anaknya Mbok Surti, semuanya. Kalau jembatan ambruk, nggak ada yang aman, mau kerja di tambang atau nggak."
Mas Yono mengangguk pelan, dan untuk pertama kalinya senyumnya bukan senyum lelah aktivis yang selalu kalah, melainkan sesuatu yang lebih tajam. "Itu argumen yang nggak bisa mereka belokin di meja jamuan, Mas. Pak Har bisa bilang sungai keruh itu wajar. Dia nggak bisa bilang jembatan retak itu wajar—nggak waktu istrinya sendiri harus nyeberang naik motor buat lahiran." Ia menatap berita acara itu. "Sekarang kita nggak cuma punya niat baik. Kita punya alasan yang bahkan musuh kita pun nggak bisa nolak: nyawa."