Camat yang akhirnya turun tangan. Tumpukan laporan dari Kedungwaru—surat ESDM, berita acara insinyur, aduan jembatan, data kesehatan dari posyandu—telah menumpuk cukup tinggi di mejanya sehingga ia tak bisa lagi membiarkannya jadi urusan desa belaka. Maka ia memanggil semua pihak ke kantor kecamatan: Pram sebagai kepala desa, Pak Har sebagai mantan kepala desa yang masih berpengaruh dan namanya melekat pada tambang sejak awal, dan—untuk pertama kalinya—pengelola tambang yang sesungguhnya, bukan sekadar Pak Danang sang mandor.
Pram tak pernah melihat orang itu sebelumnya. Ia datang dengan mobil yang mengkilap, jenis yang tak pernah ada di Kedungwaru, dan turun dengan kemeja mahal dan jam tangan yang berkilau. Namanya, kata camat memperkenalkan, Pak Sigit—pemilik perusahaan yang menjalankan galian, berkantor di kota provinsi, sama sekali bukan orang desa. Ia menyalami semua orang dengan senyum bisnis yang dingin, duduk dengan kaki disilangkan, dan menatap ruangan rapat sederhana itu dengan ekspresi orang yang menganggap seluruh urusan ini hanya gangguan kecil pada catatan keuangannya.
Dan di situlah, dalam ruangan pengap itu, sesuatu yang selama belasan tahun tersembunyi mulai tersingkap.
Camat membuka dengan persoalan jembatan dan penghentian sementara. Pak Sigit menjawab dengan tenang bisnis—izinnya sah, katanya, ia membayar pajak, ia memberi lapangan kerja, dan penghentian ini merugikan banyak warga. Bahasa yang sama dengan yang dipakai Pak Danang, tapi diucapkan oleh orang yang jelas memegang kuasa atas seluruh operasi. Lalu Pram, yang sejak tadi mendengarkan dan menyimpan satu pertanyaan, mengajukannya dengan tenang.
"Pak Sigit, saya cuma mau tahu satu hal, biar warga di desa saya juga tahu. Dari pasir yang dikeruk di tikungan kami selama belasan tahun—berapa yang masuk ke desa kami, dan berapa yang masuk ke perusahaan Bapak?"
Pak Sigit mengangkat alis, sedikit terganggu. "Itu urusan internal perusahaan, Pak Kades."
"Boleh saya kira-kira saja, kalau begitu?" Pram membuka map yang ia siapkan bersama Mas Yono dan Lik Wage—bukan dokumen rahasia, hanya hitungan kasar dari volume truk, harga pasir di pasaran, dan upah harian yang dibayar di lapangan. "Truk per hari, harga pasir di kota, dikurangi upah penambang dan sopir, dikurangi solar dan setoran. Yang saya hitung, Pak, upah yang dibawa pulang warga desa kami—penambang, sopir, kuli—itu cuma sebagian kecil. Sebagian besarnya, jutaan tiap hari, keluar dari desa, masuk ke perusahaan di kota. Desa kami yang kehilangan sungainya, jembatannya, kesehatan anaknya. Tapi yang paling banyak ngantongin untungnya—bukan kami. Bukan bahkan Pak Har."
Kalimat terakhir itu menggantung. Pram melihatnya melayang ke arah Pak Har, dan ia melihat sesuatu berkedut di wajah lelaki tua itu—untuk pertama kalinya dalam ingatan Pram, Pak Har tampak tak nyaman di ruangan yang penuh saksi.
Karena selama ini, di benak warga Kedungwaru, tambang adalah milik desa. Restu Pak Har, pekerjaan warga, upah yang berputar di warung kopi—semua itu menciptakan ilusi bahwa pasir di tikungan adalah berkah desa yang dikelola untuk desa. Tak seorang pun benar-benar memikirkan ke mana sebagian besar uangnya pergi. Dan jawabannya, yang kini terucap di hadapan camat, adalah: keluar. Ke kota. Ke kantong orang asing berkemeja mahal yang tak pernah minum dari sumur Bu Lastri, tak pernah menyeberangi jembatan retak, tak pernah mengenal nama satu pun anak yang sakit di posyandu.
Pak Sigit, terganggu oleh arah pembicaraan, mencoba memotong. "Pak Kades, dengan hormat, perusahaan saya yang menanggung modal, alat, izin. Wajar kalau—"
"Wajar, Pak," potong Pram, tenang. "Saya nggak bilang nggak wajar dalam bisnis. Saya cuma minta warga saya tahu kenyataannya. Selama ini mereka kira tambang itu punya desa. Padahal desa cuma dapat remahnya—remah yang dibayar dengan sungai, jembatan, dan kesehatan anak-anaknya. Untungnya yang gede, dibawa ke kota, sama orang yang besok kalau tambang ini tutup tinggal pindah ke sungai desa lain."
Pak Har, yang sejak tadi diam, akhirnya membuka mulut—dan Pram menangkap, untuk pertama kalinya, nada bertahan dalam suaranya, bukan nada menyerang. "Pram salah paham," katanya, mencoba memulihkan ketenangannya. "Saya nggak pernah ambil untung dari tambang. Saya cuma jaga supaya warga kerja, supaya desa tenteram. Saya ini melindungi warga, bukan—"
"Saya percaya Pakdhe nggak ambil banyak," kata Pram, dan ia mengucapkannya dengan tulus, karena ia memang percaya itu. "Itu justru poin saya. Pakdhe dua belas tahun jaga tambang ini, nanggung nama baik Pakdhe buat ngelindungin orang asing yang ngeruk untung paling gede dan paling nggak peduli sama desa kita. Pakdhe yang nanggung dosanya. Pak Sigit yang ngantongin uangnya. Dan warga kita yang bayar harganya."
Ruangan hening. Camat menatap Pram, lalu menatap Pak Sigit yang wajahnya mengeras, lalu menatap Pak Har yang untuk pertama kalinya kehilangan senyumnya yang biasa. Pertemuan itu tak menghasilkan keputusan—keputusan ada di provinsi, bukan di meja camat. Tapi sesuatu yang lebih penting telah terjadi: tabir telah dibuka. Untuk pertama kalinya, wajah sesungguhnya di balik tambang—bukan Pak Har yang ramah, melainkan pemodal asing yang dingin—muncul ke permukaan, dan citra 'pelindung warga' yang selama ini jadi modal Pak Har mulai retak, tepat di tempat yang paling tak bisa ia perbaiki: di hati orang-orang yang mengira selama ini mereka sedang dilindungi.