Pak Sigit tidak menjadi kaya raya dengan membiarkan sungai yang menguntungkan lepas dari tangannya tanpa perlawanan. Pram menyadari ini ketika tekanan berubah bentuk—dari permainan kertas dan jamuan pejabat, menjadi sesuatu yang lebih kasar, lebih dekat, lebih menakutkan.
Mulanya kecil. Suatu pagi, motor Topik yang diparkir di depan kantor desa ditemukan kempes keempat bannya—bukan bocor, digembosi, pentilnya dicabut. Bisa kebetulan, kata sebagian. Tapi keesokan harinya motor Mas Bejo, yang dipakai mengangkut benih ke tambak, mengalami hal yang sama. Lalu seorang anggota koperasi mendapati ban sepedanya disayat. Pola yang terlalu rapi untuk disebut kebetulan, terlalu kecil untuk dilaporkan, dirancang justru agar berada di celah itu: cukup nyata untuk menakuti, cukup remeh untuk tak bisa diadukan.
Lalu datang orang-orang baru ke tikungan. Bukan warga, bukan penambang yang dikenal—lelaki-lelaki bertubuh kekar dengan wajah asing, yang nongkrong di pos dekat lokasi tambang yang dihentikan, katanya "menjaga aset perusahaan" selama penghentian sementara. Mereka tak melakukan apa-apa yang jelas. Mereka hanya ada—duduk, merokok, menatap. Tapi kehadiran mereka mengubah udara di sekitar tikungan, dan ketika anak-anak koperasi lewat menuju tambak yang berdekatan, mata-mata asing itu mengikuti mereka, dingin, mengukur.
Puncaknya datang pada suatu malam. Gudang kecil koperasi—gubuk papan tempat mereka menyimpan pakan ikan, alat, dan benih cadangan—nyaris terbakar. Untung Kandar, yang malam itu kebetulan berjaga karena giliran ronda kolam, mencium asap dan memergoki api yang baru menjalar di sudut dinding, bersama bau minyak tanah yang kentara. Ia berteriak, dan beberapa pemuda berlari memadamkannya dengan air kolam sebelum membesar. Kerusakannya kecil—satu sudut dinding hangus, beberapa karung pakan basah. Tapi pesannya besar dan jelas: ini bisa lebih buruk.
Dan kemudian, pesan itu datang langsung ke rumah Pram. Bukan ancaman terbuka—Pak Sigit terlalu rapi untuk itu. Hanya sebuah kejadian. Suatu sore, sepupu Pram yang tinggal di rumah lama keluarga, tempat buku ayahnya tersimpan, menelepon dengan suara gemetar: ada dua orang asing yang datang "menanyakan Pak Kades", berdiri lama di depan rumah, menatap, lalu pergi tanpa bicara. Tak melakukan apa-apa. Hanya menunjukkan bahwa mereka tahu di mana Pram tinggal, tahu siapa keluarganya, tahu di rumah mana hal-hal yang berharga baginya disimpan.
Malam itu, di garasi, Topik berapi-api, tangannya gemetar oleh marah dan takut. "Pram, ini udah keterlaluan. Mereka ngebakar gudang, mereka datengin rumah keluargamu. Kita nggak bisa diem. Kumpulin pemuda, kita jaga, kalau perlu kita balik—"
"Kita balik apa, Pik?" potong Pram, suaranya tenang tapi matanya keras. "Kita pukul mereka? Mereka itu preman bayaran, dilatih buat itu, dan mereka pengin kita pukul duluan. Begitu ada satu pemuda kita yang ngelawan fisik, besok ceritanya berubah: koperasi kades main keroyok, kades pelihara preman. Mereka yang lapor polisi, kita yang masuk. Itu jebakan, Pik, sama kayak racun di kolam, cuma kali ini umpannya harga diri kita."
Ia berdiri, berjalan ke papan tulis, dan untuk sesaat ia kembali jadi pelatih yang membaca permainan kotor lawan dari garis tepi. Ia tahu, dari naluri lama, bahwa ketika lawan beralih dari taktik ke kekerasan, itu bukan tanda mereka kuat—itu tanda mereka mulai panik. Pak Sigit tak mengirim preman karena ia menang. Ia mengirim preman karena cerita tentang untung yang keluar desa sudah menggerogoti basisnya, karena jembatan retak sudah jadi argumen yang tak bisa ia belokkan, karena izinnya sungguh-sungguh terancam. Intimidasi adalah napas terakhir orang yang kehabisan cara halus.
"Kita lawan," kata Pram akhirnya, "tapi bukan dengan cara mereka. Kita lawan dengan bikin mereka kehilangan kegelapan tempat mereka kerja." Ia menatap timnya. "Mulai besok, semua kejadian kita catat. Tanggal, jam, siapa yang lihat. Ban gembos, gudang dibakar, orang asing yang datengin rumah—semua. Kita foto, kita kumpulin saksi. Lalu kita bikin laporan resmi ke polisi. Bukan satu, banyak—dari koperasi, dari warga yang motornya dirusak, dari aku sebagai kepala desa." Ia menarik napas. "Aku tahu polisi belum tentu nanggepin. Mungkin mereka udah disetor. Tapi laporan yang tercatat itu jejak, Pik. Dan orang yang main di gelap paling takut sama satu hal: terang. Kalau mereka mau pakai kekerasan, biar kekerasan itu ada nomornya, ada tanggalnya, ada saksinya. Biar nanti kalau ada yang celaka, semua orang tahu siapa yang harus ditanya."
Malam itu mereka tak tidur. Bukan untuk berjaga dengan parang—Pram melarang keras itu—melainkan untuk menyusun catatan, mengumpulkan foto dari ponsel, mendata saksi, satu per satu, dengan ketelitian yang dulu mereka pakai untuk menjaga TPS di subuh pencoblosan. Strategi lama dengan medan baru: lawan kegelapan dengan terang. Bedanya, dulu yang mereka jaga adalah suara di kotak kayu. Kini yang mereka jaga adalah keselamatan tetangga mereka sendiri, dari orang-orang yang dikirim seseorang di kota yang tak pernah menginjak Kedungwaru tapi bersedia membakarnya demi pasir di tikungannya.