Pram membawa laporannya ke polsek pada hari Senin pagi, dengan map plastik berisi foto-foto ban yang digembosi, gudang yang hangus, catatan kejadian yang rapi bertanggal, dan daftar saksi. Ia datang sebagai kepala desa, dengan surat resmi berstempel—stempel yang kini tak ada lagi Carik untuk menahannya. Topik dan Kandar menemaninya, membawa berkas pendukung. Ia menyiapkan dirinya untuk perjuangan, tapi ia tak menyiapkan dirinya untuk kehampaan.
Petugas yang menerimanya ramah dengan keramahan yang sudah Pram kenali sebagai topeng penolakan—keramahan yang sama dengan yang dipakai Carik dulu. Ia menerima map itu, membolak-baliknya dengan cepat, mengangguk-angguk. "Iya, Pak Kades, kami catat. Tapi begini ya, soal ban gembos, sayatan—ini kan kerugian kecil, susah dibuktikan siapa pelakunya. Nggak ada saksi yang lihat langsung kan? Gudang kebakaran juga—bisa jadi korsleting, atau puntung rokok. Mau nuduh siapa kalau nggak ada yang ketangkap?" Ia tersenyum. "Kami proses sesuai prosedur, Pak. Tapi jangan berharap cepat. Banyak perkara di sini."
Pram mencoba mengarahkan ke akarnya. "Pak, ini bukan soal ban. Ini soal galian di tikungan yang dihentikan sementara tapi masih ditunggui orang-orang yang bukan warga kami. Galiannya sendiri diduga ilegal. Saya sudah lapor ke provinsi soal itu. Intimidasi ini—"
Dan di situlah ia melihatnya. Saat ia menyebut galian, ada perubahan kecil di wajah petugas itu—bukan kebingungan, melainkan kewaspadaan, jenis kewaspadaan orang yang menyentuh sesuatu yang tak mau ia sentuh. "Soal galian itu ranah provinsi, Pak," katanya cepat, terlalu cepat. "Bukan wewenang kami di sini. Bapak urus di sana saja." Ia menutup map. "Yang ini, intimidasi, kami catat. Nanti kami panggil kalau perlu."
Nanti. Kalau perlu. Pram keluar dari polsek dengan rasa dingin yang ia kenal—rasa yang sama saat suratnya menghilang di laci provinsi, saat Carik berkata "besok", saat dunia yang seharusnya menegakkan keadilan justru memperlambatnya dengan sopan. Tapi kali ini ada lapisan yang lebih pahit. Di provinsi, surat tertidur mungkin karena kelambanan. Di sini, Pram menangkap sesuatu yang lebih buruk dari kelambanan: kewaspadaan yang sengaja, pintu yang ditutup tepat saat ia menyebut tambang.
Lik Wage, ketika Pram menceritakannya malam itu, hanya tertawa pahit dan menyalakan rokok. "Kamu pikir setoran tambang berhenti di batas desa, Le? Pasir sebanyak itu, untung sebesar itu, jalan tiap hari belasan tahun—kamu pikir nggak ada yang dibagi ke yang berseragam biar pura-pura nggak lihat? Galian ilegal yang jalan terang-terangan belasan tahun itu nggak mungkin tanpa mata yang dibikin merem." Ia mengembuskan asap. "Korupsi itu nggak berhenti di pagar desa, anak muda. Dia punya akar di mana-mana."
Untuk beberapa hari, Pram nyaris putus asa. Ia telah mengerahkan setiap jalur resmi yang ia tahu—provinsi, kabupaten, polisi—dan setiap jalur, pada titik tertentu, berbelok, melambat, atau menutup diri tepat di tempat tambang menyentuhnya. Ia merasa seperti orang yang mendorong tembok dari segala sisi, dan setiap sisi memberinya dorongan balik yang halus dan sopan dan tak terlawan. Apa gunanya menang Pilkades, apa gunanya jadi kepala desa, kalau setiap kuasa yang lebih tinggi darinya bisa dibeli?
Ia duduk di garasi semalaman dengan pertanyaan itu. Lalu, di subuh, ia teringat sesuatu—bukan dari dunia birokrasi, melainkan dari dunia lamanya. Dulu, ketika ia melatih tim kecil melawan tim yang wasitnya berat sebelah, ia belajar satu hal: kalau kau tak bisa mengandalkan wasit, kau harus bermain di depan penonton yang banyak. Wasit bisa diam-diam memihak ketika tribun sepi. Wasit kesulitan mencuri pertandingan ketika ribuan mata menonton dan merekam. Terang adalah satu-satunya hal yang tak bisa dibeli, karena begitu sesuatu terlihat oleh banyak orang, ia tak bisa lagi disembunyikan di laci.
Pagi itu ia memanggil Topik dan Mas Yono. "Kita salah strategi," katanya. "Selama ini kita main di meja—surat ke meja, lapor ke meja, dan setiap meja bisa dibeli atau dilambatin. Kita lawan di kandang mereka." Ia menggeleng. "Mulai sekarang kita pindahin pertarungan ke tempat yang nggak bisa mereka beli. Ke depan banyak orang."
Mas Yono mencondongkan badan. "Maksud Mas?"
"Aduan kolektif," kata Pram. "Bukan aku sendiri yang lapor, bukan koperasi sendiri. Semua warga yang dirugikan—yang motornya dirusak, yang anaknya sakit karena air, yang jembatannya retak, yang sumurnya bau—kita kumpulin, kita bikin satu aduan bersama, ditandatangani ramai-ramai. Aduan yang ditandatangani lima orang gampang diabaikan. Aduan yang ditandatangani ratusan orang itu lain ceritanya—itu jadi suara, dan suara yang ramai susah dibikin merem." Ia menatap Mas Yono. "Dan Mas—wartawan yang Mas kenal di kabupaten itu, yang suka nulis soal lingkungan. Bisa diajak ke sini? Bukan buat nyari sensasi. Buat bawa terang. Biar jembatan retak kita, sungai kita, anak-anak kita—dilihat orang di luar desa, bukan cuma ngendep di laci polsek."
Ia berdiri dan berjalan ke pintu garasi, menatap subuh yang mulai menyingsing di atas Kedungwaru. Ia telah belajar, pahit demi pahit, bahwa di setiap meja ada laci tempat keadilan bisa ditidurkan. Tapi ia juga ingat, dari satu-satunya kemenangan yang pernah ia raih, bahwa ada satu kekuatan yang tak punya laci, tak bisa disetor, tak bisa diperlambat dengan sopan: suara orang banyak yang menolak diam. Dulu suara itu memenangkannya tujuh belas suara di kotak kayu. Kini ia akan mengadunya lagi—bukan untuk merebut kursi, melainkan untuk menyeret apa yang tersembunyi di kegelapan tambang ke dalam terang yang tak bisa dibeli siapa pun.