Mas Yono datang membawa orang itu pada Kamis sore, ketika debu truk sudah lama tidak singgah di tikungan tapi bekas-bekasnya masih menempel di daun-daun pisang sepanjang jalan masuk desa. Namanya Anggraini, jurnalis dari sebuah media kabupaten yang dulu pernah menulis soal sungai-sungai yang mati di hilir. Ia tidak datang dengan kamera besar atau rombongan; hanya tas selempang, sebuah ponsel, dan sepasang mata yang melihat lebih lama daripada yang biasa Pram temui. Bersamanya seorang aktivis muda dari kecamatan, Hendri, yang sudah lama Lik Wage sebut-sebut sebagai orang yang paham jalur pengaduan.
Pram membawa mereka ke jembatan lebih dulu. Ia tidak menjelaskan dengan kata-kata; ia hanya menunjuk ke bawah, ke pilar yang dulu berdiri kokoh di atas pasir padat dan kini menggantung di atas jurang air, akarnya telanjang seperti gigi yang gusinya menyusut. Anggraini berjongkok lama di tepi, memotret, mengukur retakan dengan jari, lalu menulis sesuatu yang panjang. Hendri tidak banyak bicara, tapi sekali ia bergumam, "Ini bukan kerusakan biasa. Ini dibikin."
Mereka lanjut ke rumah Bu Lastri, melihat air sumur yang menguning seperti teh basi, lalu ke posyandu tempat dua anak masih batuk-batuk tanpa henti. Anggraini berbicara pada para ibu, mencatat nama, umur, keluhan, tanggal. Ia tidak menyodorkan pertanyaan yang mengarahkan; ia membiarkan orang-orang itu bicara sendiri, dan dari mulut mereka sendiri keluar cerita yang selama berbulan-bulan Pram tak berhasil ia bawa ke meja mana pun.
"Saya tidak butuh Bapak yang bicara," kata Anggraini di teras rumah Pram malam itu, sambil menyeruput kopi yang dibuatkan Marni. "Bapak kades, omongan kades gampang dibilang politik. Yang saya butuh anak-anak yang batuk, sumur yang kuning, jembatan yang menggantung. Itu yang tidak bisa dibantah siapa-siapa."
Pram mengerti maksudnya, dan ada lega yang aneh dalam pengertian itu. Selama ini ia mengira tugasnya adalah berteriak paling keras. Ternyata di hadapan orang seperti Anggraini, ia justru harus belajar diam dan membiarkan kerusakan berbicara sendiri.
Tulisan itu terbit empat hari kemudian. Bukan tulisan besar dengan judul yang menggelegar; hanya laporan panjang yang sabar, dengan foto pilar jembatan yang menggantung dan wajah seorang anak Bu Lastri yang sedang dinebulisasi di posyandu. Tapi efeknya tidak sabar sama sekali. Dalam dua hari, ponsel Pram berdering dari nomor yang tak pernah meneleponnya sebelumnya: seorang staf dinas provinsi, kemudian seorang anggota dewan kabupaten, kemudian—yang paling mengejutkan—polsek yang dulu menerimanya dengan keramahan menolak itu, kini menelepon untuk "mengonfirmasi jadwal tindak lanjut."
Terang ternyata punya berat yang tak dimiliki surat di laci. Sesuatu yang dilihat ribuan mata di luar desa tak bisa lagi ditidurkan dengan kata "nanti."
Tapi terang juga punya sisi yang membakar balik. Tiga hari setelah berita itu, Pram mendengar bisikan baru di warung kopi—bisikan yang ia tahu asalnya dari mana. Kades baru itu, kata bisikan itu, menjual aib desa demi cari nama. Demi jadi terkenal. Demi foto di koran. Sekarang Kedungwaru dikenal orang luar sebagai desa rusak, desa miskin, desa yang anaknya sakit-sakitan—siapa yang mau menikahi anak gadis dari desa yang masuk berita buruk? Siapa yang malu? Pram, yang membuka borok desa di depan orang asing.
Yang membuat bisikan itu menyakitkan adalah karena ia menyentuh sesuatu yang nyata. Ada warga—bukan orang Pak Har, melainkan orang-orang biasa yang harga dirinya terluka—yang memang merasa malu. Mereka tidak suka tambang, tapi mereka juga tidak suka desanya dijadikan tontonan iba orang luar.
Mbok Yati, penjual pecel di pasar pagi, berkata pada Pram dengan jujur yang menusuk, "Le, aku ndak bela tambang. Tapi anakku yang merantau itu sekarang ditanya temannya, 'kampungmu yang anaknya sakit-sakitan itu ya?' Dia malu, Le. Kampung kita jadi bahan kasihan orang."
Pram pulang malam itu dengan beban yang baru. Ia telah memenangkan perhatian dari luar, dan perhatian itu menggerakkan birokrasi yang selama ini tuli. Tapi setiap kemenangan di desa ini, ia mulai paham, datang dengan ongkos di tempat yang tak ia duga. Ia membawa terang untuk menyeret tambang keluar dari kegelapan, dan terang yang sama menyilaukan mata tetangganya yang lebih suka aibnya tetap urusan dalam.
Ia duduk di garasi, di kursi rotan ayahnya, dan untuk sekian kalinya bertanya pada diri sendiri pertanyaan yang tak ada jawaban mudahnya: apakah menyelamatkan desa harus dengan mempermalukannya lebih dulu? Ia tak punya jawaban. Tapi ia tahu satu hal—berita itu sudah terbit, mata-mata di luar sudah terbuka, dan untuk pertama kali sejak ia jadi kades, dinas provinsi tak bisa lagi pura-pura tidak melihat. Ongkos malu itu, ia putuskan, akan ia tanggung. Karena malu bisa pulih; jembatan yang ambruk tidak.