Yatno datang ke kantor desa pada jam yang dipilihnya dengan hati-hati—lewat tengah hari, ketika orang-orang sudah pulang makan dan teras kantor sepi. Pram tahu pemilihan jam itu bukan kebetulan. Anak muda itu tidak mau dilihat orang sedang meminta sesuatu pada kades yang dianggap separuh desa sebagai perampas nasi mereka. Apalagi kades itu, secara tak langsung, adalah orang yang membuat ia kehilangan pekerjaan.
Ia berdiri di ambang pintu cukup lama sebelum Pram mengangkat kepala dan melihatnya. Tubuh Yatno tinggi dan kering, tangannya masih punya bekas kapalan dari menyekop pasir, dan ada sesuatu di matanya yang membuat Pram langsung teringat pada dirinya sendiri tujuh bulan lalu—ketika ia pulang ke desa ini tanpa apa-apa, dengan harga diri yang masih utuh tapi perut yang mulai gentar.
"Ada apa, Yat?" Pram menyilakan duduk. Kursi di seberang mejanya berderit.
Yatno tidak langsung menjawab. Ia menatap lantai, menatap stempel di meja, menatap apa saja kecuali wajah Pram. Lalu, dengan suara yang ditekan agar tidak terdengar memohon, ia berkata, "Saya butuh kerja, Pak. Apa saja. Saya ndak milih."
Pram merasakan ada banyak hal di balik empat kalimat itu. Ia tahu, dari kabar yang sampai padanya, bahwa Yatno sudah dirumahkan dari tambang sejak penghentian sementara. Ia tahu uang sekolah SMK-nya sudah dua bulan menunggak. Ia tahu Mbok Surti, ibunya, masih membuat tempe dan menjualnya di pasar tapi hasilnya tak akan pernah cukup menutup yang dulu dibawa pulang Yatno dari tikungan. Dan ia tahu, paling pahit dari semuanya, bahwa Mbok Surti adalah perempuan yang dulu pertama kali memperingatkannya: tikungan itu yang kasih anakku sekolah, Le.
Kalau ada satu wajah dari semua kerugian yang ditimbulkan keputusannya, wajah itu adalah keluarga ini.
"Mbok Surti tahu kamu ke sini?" tanya Pram pelan.
Yatno menggeleng, lalu mengoreksi dirinya. "Tahu. Tapi... dia ndak bilang apa-apa. Cuma diam." Ia menelan ludah. "Ibu ndak suka saya minta-minta ke Bapak. Tapi dia juga ndak melarang. Saya... saya ndak ngerti dia maunya apa."
Pram mengerti, walaupun Yatno tidak. Diam Mbok Surti bukan restu dan bukan larangan; itu kekalahan seorang ibu yang harga dirinya bertarung dengan periuk nasinya, dan periuk nasi yang menang. Membiarkan anaknya bekerja pada orang yang membuat anaknya kehilangan kerja—itu pahit yang hanya dimengerti orang yang pernah betul-betul lapar.
"Koperasi tambak butuh tenaga," kata Pram akhirnya. "Tapi saya jujur dulu sama kamu, Yat. Upahnya kecil. Lebih kecil dari tambang. Kerjanya berat—ngangkut lumpur, bikin pematang, jaga benih malam-malam. Dan saya ndak bisa janji ini bakal jadi besar. Bisa gagal. Bisa rugi. Kamu mau masuk ke sesuatu yang saya sendiri belum yakin bakal jalan?"
Ia sengaja tidak memaniskan. Ia sudah belajar, dari Pak Har, betapa berbahayanya janji manis yang tak bisa ditepati. Ia tak mau jadi versi lain dari lelaki itu.
Yatno mengangkat kepalanya untuk pertama kali, dan menatap Pram lurus. "Di tambang upahnya lebih besar, Pak. Tapi tiap hari saya ngeruk yang bikin jembatan saya retak. Saya tahu itu sekarang." Ia berhenti. "Yang kecil tapi ndak ngerusak, saya ambil."
Ada sesuatu di kalimat itu yang membuat dada Pram hangat dan getir sekaligus. Anak muda ini, yang baru beberapa bulan lalu menyekop pasir tanpa bertanya, sudah mengerti hal yang sebagian besar orang dewasa di desa ini menolak mengerti.
Mereka berjabat tangan. Bukan jabat tangan seremoni; jabat tangan dua orang yang sama-sama tak tahu apakah jalan yang mereka pilih akan menyelamatkan atau menenggelamkan mereka, tapi memutuskan menempuhnya bersama.
Sorenya, Pram mengantar Yatno ke lahan tambak di hilir, memperkenalkannya pada Topik dan Mas Bejo, mantan penambang yang kini menjaga pematang. Yatno langsung menanggalkan sandalnya dan turun ke lumpur tanpa diminta. Mas Bejo menepuk bahunya. "Selamat datang di bangku cadangan, Le," katanya, dan beberapa orang tertawa—tawa pertama yang ringan yang Pram dengar dari lahan itu sejak lama.
Pram pulang lewat depan rumah Mbok Surti. Lampu teras menyala, dan ia melihat siluet perempuan tua itu di balik tirai, menampi kedelai untuk tempe besok. Mbok Surti tidak keluar. Tidak menyapa. Tapi ia juga tidak menutup tirai ketika Pram lewat, dan dalam bahasa desa ini, tirai yang dibiarkan terbuka adalah sesuatu—bukan maaf, belum, tapi pintu yang tidak sepenuhnya dikunci. Pram melanjutkan langkahnya, membawa jembatan rapuh itu di dadanya, dan untuk pertama kali sejak penghentian tambang, ia merasa ia sedang membangun sesuatu, bukan sekadar merobohkan.