Tawaran itu datang dibungkus dengan cara paling sopan yang bisa dibayangkan. Bukan ancaman, bukan amplop subuh, bukan preman. Hanya undangan minum kopi di rumah Pak Har, dan ketika Pram tiba, ia mendapati bukan hanya Pak Har yang menunggu, melainkan juga seorang lelaki yang belum pernah ia lihat duduk di ruang tamu itu: Pak Sigit, pemodal kota, mengenakan kemeja yang terlalu rapi untuk desa, dengan ketenangan orang yang terbiasa membeli apa yang ia mau.
"Le," Pak Har membuka dengan senyumnya yang lama, senyum yang dulu memenangkannya tiga periode, "kita ini sama-sama orang Kedungwaru. Capek juga kalau terus-terusan tarik-menarik. Pak Sigit punya gagasan yang menurut saya... bijak. Dengarkan dulu, baru jawab."
Pak Sigit tidak banyak basa-basi. Ia membuka map, menggeser selembar kertas ke arah Pram, dan berbicara dengan suara datar seorang akuntan. Angkanya besar—jauh lebih besar dari apa pun yang pernah Pram lihat tertulis untuk desanya. Kompensasi, ia menyebutnya. Dana untuk desa, langsung, tunai, kalau Pram bersedia menarik laporannya ke provinsi dan membiarkan galian berjalan terbatas tiga tahun lagi sebelum benar-benar ditutup.
"Dengan uang ini," kata Pak Sigit, jarinya mengetuk angka itu, "Bapak bisa bangun jembatan baru sendiri. Tidak usah nunggu kabupaten yang lambat itu. Bisa bangun balai desa, perbaiki sekolah, modal besar buat koperasi Bapak. Tiga tahun, lalu kami pergi. Sungai punya waktu untuk pulih sendiri sesudahnya. Bapak menang—desa Bapak makmur, dan tidak ada satu keluarga pun yang dapurnya mati hari ini."
Dan di situlah racunnya. Tawaran itu masuk akal. Itulah yang membuatnya berbahaya. Ia tidak meminta Pram mengkhianati desa secara terang-terangan; ia menawarkan jalan di mana semua orang, sepertinya, menang. Untuk satu detik panjang yang membuat Pram malu seumur hidupnya, ia membayangkannya—jembatan baru yang kokoh, sekolah Yatno yang lunas, koperasi yang bermodal kuat, dapur-dapur yang tetap mengepul. Semua luka yang ia timbulkan, terobati dengan satu tanda tangan.
Ia membawa tawaran itu pulang dan, melawan instingnya untuk menolak sendirian, ia menyampaikannya pada timnya. Ia sudah belajar bahwa keputusan sebesar ini tidak boleh diambil oleh satu kepala saja. Mereka berkumpul di garasi—Topik, Lik Wage, Mas Bejo, dan beberapa yang lain.
Lik Wage adalah yang pertama bicara, dan ia bicara dengan api di matanya. "Ambil, Le. Demi Tuhan, ambil. Kamu pikir kabupaten bakal kasih uang segitu? Sepuluh tahun pun ndak bakal. Tiga tahun itu sebentar. Pasir bakal abis sebentar lagi juga, jembatan bakal kita bangun sendiri, anak-anak yang sakit bisa kita obati. Kamu menolak uang ini berarti kamu lebih sayang prinsip daripada perut warga." Suaranya naik. "Idealisme itu mahal, Le, dan yang bayar bukan kamu—yang bayar Mbok Surti, yang bayar Yatno, yang bayar anak-anak yang putus sekolah!"
Kalimat itu menghantam Pram tepat di tempat ia paling lemah, karena ada kebenaran di dalamnya.
Topik berdiri. Anak muda yang dulu sinis dan tukang kartu itu kini bicara dengan ketegasan yang membuat Pram terkejut. "Tiga tahun, Lik. Tiga tahun lagi ngeruk di sekitar pilar jembatan. Bapak insinyur kabupaten sudah bilang—satu tahun lagi saja ngeruk di situ, jembatannya ambruk. Bukan retak. Ambruk." Ia menatap Lik Wage. "Uang Pak Sigit ndak akan cukup bangun jembatan kalau jembatan lama ambruk sambil bawa truk dan orang ke dasar sungai. Itu bukan tawaran damai. Itu tawaran beli waktu buat ngeruk yang terakhir sebelum kabur."
Garasi itu hening. Topik telah mengucapkan apa yang Pram rasakan tapi tak bisa rumuskan sejelas itu. Tawaran itu bukan jalan tengah. Itu adalah penundaan kematian dengan bayaran, dan yang membayar penundaan itu adalah jembatan, sungai, dan barangkali nyawa.
"Aku ndak akan ambil," kata Pram akhirnya, suaranya pelan tapi tak bisa ditawar. "Bukan karena aku suci, Lik. Tapi karena aku sudah lihat retakannya sendiri. Uang sebanyak apa pun ndak bisa nahan jembatan yang fondasinya dikeruk habis. Kita tolak."
Lik Wage menatapnya lama, dan dalam tatapan itu Pram melihat sesuatu retak—bukan amarah, melainkan kekecewaan yang lebih dalam dari amarah. Kekecewaan seorang lelaki yang seumur hidupnya percaya bahwa di dunia ini hanya orang naif yang menolak uang. "Kamu ini," kata Lik Wage pelan, berdiri, mengambil topinya, "persis bapakmu. Dan kamu tahu bapakmu mati ndak punya apa-apa." Ia berjalan ke pintu garasi, lalu berhenti sebentar tanpa menoleh. "Aku capek nemenin orang yang milih kalah, Le."
Pintu garasi terbuka ke malam yang gelap, dan Lik Wage melangkah keluar. Pram tahu, dengan kepastian yang dingin, bahwa ini bukan sekadar pertengkaran semalam. Ia baru saja menolak racun yang dibungkus madu, dan harga penolakannya adalah kehilangan satu-satunya orang di timnya yang benar-benar paham cara kerja kekuasaan.