Lik Wage tidak datang ke rapat berikutnya, dan tidak ada yang terkejut. Tapi ketika ia akhirnya muncul, tiga hari kemudian, ia datang bukan ke garasi melainkan ke kantor desa, di siang bolong, di depan beberapa perangkat dan dua warga yang sedang mengurus surat. Ia datang untuk mengakhirinya secara terbuka, dan Pram mengerti bahwa pemilihan tempat dan waktu itu adalah pesan tersendiri.
"Aku mau pamit, Le," kata Lik Wage. Ia berdiri di seberang meja, topinya di tangan, dan untuk pertama kalinya sejak Pram mengenalnya, ia tidak menyalakan rokok. "Aku ndak cocok lagi sama jalanmu. Kamu pilih jalan yang lurus, dan jalan lurus itu jalan orang yang mampu lapar. Aku ndak mampu lapar lagi, Le. Aku sudah tua."
Pram meletakkan penanya. Ia tidak marah; itu yang mengejutkan dirinya sendiri. Ia hanya merasa lelah, dan ada semacam duka yang tenang. "Kamu mau ke mana, Lik?"
Lik Wage tidak menjawab langsung, tapi semua orang di ruangan itu sudah tahu jawabannya. Sudah beredar kabar bahwa ia terlihat masuk-keluar rumah Pak Har beberapa kali minggu ini. Dendam lama Lik Wage pada Pak Har—dendam yang dulu menjadikannya sekutu paling bersemangat Pram—ternyata bukan tandingan bagi keinginannya pada uang dan kuasa. Pak Sigit, agaknya, telah menawarkan kepadanya apa yang tak pernah Pram bisa: imbalan yang nyata, di sini, sekarang.
"Aku bukan musuhmu, Le," kata Lik Wage, seolah membaca pikiran Pram. "Tapi aku juga bukan teman yang bisa kamu percaya lagi. Aku ngerti banyak soal kamu, soal timmu, soal celah-celahmu. Aku ndak janji ndak bakal pakai itu." Ia memakai topinya. "Anggap saja aku jujur. Itu lebih baik daripada pura-pura setia sambil jualan informasi diam-diam, kan? Kamu sudah pernah kena yang model begitu."
Ia benar, dan kejujuran itu adalah satu-satunya hal terhormat yang tersisa dari perpisahan ini. Lik Wage memilih pergi sebagai musuh yang jelas daripada tinggal sebagai sekutu yang busuk. Dalam logika dunia yang ia tempati, itu adalah bentuk kehormatan terakhir yang ia mampu.
Pram berdiri dan mengulurkan tangan. "Terima kasih, Lik. Sungguh. Tanpa kamu, aku ndak akan lolos dari sengketa dulu. Aku ndak akan ngerti jalur ke provinsi. Aku berutang banyak ke kamu."
Lik Wage menatap tangan itu sejenak, lalu menjabatnya—jabatan tangan kering seorang lelaki tua yang telah memilih sisi dan tahu persis konsekuensinya. "Jaga dirimu, Le. Dan jaga timmu. Mereka muda, mereka percaya kamu. Jangan bikin mereka mati lapar demi sungai yang ndak bakal berterima kasih." Lalu ia berbalik dan keluar, langkahnya tenang, tanpa drama, dan pintu kantor desa berayun pelan di belakangnya.
Malam itu di garasi, suasana berbeda. Topik gelisah, marah pada Lik Wage, menyebutnya pengkhianat. Tapi Pram menggeleng. "Bukan pengkhianat, Pik. Lik Wage ndak pernah benar-benar di pihak kita. Dia di pihak dendamnya pada Pak Har. Begitu dendamnya kalah sama uang, dia pergi. Itu bukan khianat, itu cuma... dia memang begitu dari awal. Kita yang ndak mau lihat."
Ia duduk dan menyadari sesuatu yang aneh. Kehilangan Lik Wage membuat timnya lebih lemah secara taktik—tak ada lagi yang paham seluk-beluk politik, celah hukum, cara membaca gerak lawan. Tapi pada saat yang sama, ada beban yang terangkat dari dadanya. Selama berbulan-bulan, ia memimpin dengan satu mata selalu mengawasi sekutunya sendiri, tak pernah sepenuhnya tahu kapan Lik Wage akan menjual informasi demi keuntungan. Kini beban kecurigaan itu hilang. Yang tersisa di garasi ini adalah orang-orang yang ia percaya sepenuhnya—Topik, Mas Bejo, Kandar, Yatno yang baru, para pemuda. Lebih lemah dalam siasat, tapi lebih bersih, lebih jujur, lebih bisa ia andalkan.
"Kita lebih kecil sekarang," kata Pram pada mereka. "Lebih ndak ngerti main politik. Pak Sigit punya Lik Wage yang tahu semua celah kita." Ia menatap wajah-wajah muda di garasinya, wajah-wajah yang dulu ia kumpulkan seperti menyusun tim bola dari bahan seadanya. "Tapi kita punya sesuatu yang dia ndak punya. Kita punya tambak yang sudah panen. Kita punya warga yang mulai lihat ada hidup lain. Dan kita punya kepercayaan satu sama lain yang ndak bisa dibeli Pak Sigit berapa pun." Ia tersenyum tipis, lelah tapi tenang. "Lik Wage bilang aku milih kalah. Mungkin. Tapi aku milih kalah sama orang-orang yang aku percaya, daripada menang sama orang yang tiap malam aku takut bakal jualan aku. Itu pilihan yang aku ndak sesali."
Di luar, malam Kedungwaru sunyi tanpa deru truk untuk kesekian kalinya, dan Pram menyadari bahwa ia telah kehilangan banyak sejak pulang ke desa ini—tapi setiap kehilangan, anehnya, membuat ia lebih jelas melihat siapa dirinya dan untuk apa ia bertarung.