Surat itu datang seminggu kemudian, beramplop coklat dengan kop dinas provinsi, dan ketika Pram membukanya di kantor desa, tangannya sedikit gemetar. Tim gabungan akan turun—dinas energi provinsi, perwakilan kabupaten, dan seorang ahli geologi dari kampus—untuk melakukan evaluasi akhir. Hasil evaluasi ini, surat itu menjelaskan dengan bahasa birokrasi yang dingin, akan menjadi dasar keputusan apakah izin galian dicabut permanen atau penghentian sementara dibatalkan dan tambang dibuka kembali.
Semuanya, berbulan-bulan perjuangan, kini akan ditentukan dalam beberapa hari.
Pram tahu ia tidak siap. Tidak dalam arti yang biasa. Pak Sigit punya uang, koneksi, pengacara yang bisa membungkus kerusakan jadi soal teknis yang bisa diperbaiki. Pak Har punya jaringan yang membentang sampai ke kantor-kantor di kota. Mereka sudah bergerak; Pram tahu itu dari Mas Bejo, yang masih punya telinga di lingkaran lama. Sudah ada jamuan yang disiapkan, sudah ada amplop—bukan amplop subuh kali ini, melainkan amplop yang jauh lebih besar untuk tangan-tangan yang jauh lebih tinggi. Sudah ada skenario di mana tim evaluasi datang, dijamu, diajak melihat "sisi baik" lapangan kerja, lalu pulang dengan kesimpulan yang menguntungkan tambang.
Ia tak punya satu pun dari senjata itu. Tak ada uang untuk menjamu, tak ada koneksi di kota, tak ada pengacara. Yang ia punya hanya desa—warganya, korban-korbannya, dan kerusakan yang tak bisa disembunyikan.
"Kita ndak bisa main di lapangan mereka," kata Pram pada timnya, mengulang pelajaran yang sudah berkali-kali ia petik dengan pahit. "Kalau ini soal jamuan dan amplop, kita kalah sebelum mulai. Kita harus pastikan tim evaluasi ndak cuma denger satu pihak."
Mereka menyusun rencana dengan apa yang ada. Topik mendata setiap korban—anak yang sakit, sumur yang keruh, sawah yang gagal panen—lengkap dengan nama, alamat, dan kalau bisa, bukti dari bidan dan posyandu. Yatno dan para pemuda memetakan kerusakan fisik: titik-titik longsor di tepi sungai, retakan jembatan yang melebar, dasar sungai yang menjurang. Mas Bejo, yang dulu menambang dan tahu seluk-beluk lapangan, menyiapkan diri menjelaskan kepada ahli geologi persis berapa dalam dan berapa lama penggalian terjadi—pengetahuan dari dalam yang tak bisa dibantah pengelola.
Pram sendiri menghubungi Anggraini, jurnalis itu. Bukan untuk meminta berita lagi, melainkan untuk satu hal: ia ingin kehadiran tim evaluasi diketahui publik. "Kalau mereka tahu ada yang mengawasi dari luar," Pram menjelaskan, "akan lebih susah buat mereka pulang dengan kesimpulan yang dipesan." Anggraini setuju datang meliput hari evaluasi—bukan untuk mengarahkan, hanya untuk menyalakan lampu di ruangan yang lebih suka gelap.
Malam sebelum tim datang, Pram tak bisa tidur. Ia keluar ke teras dan mendapati Marni, istrinya, masih terjaga, menyeduh teh. "Kamu takut?" tanya Marni pelan.
"Takut," Pram mengaku. "Kalau besok mereka memutuskan tambang buka lagi, semua ini sia-sia. Lik Wage pergi sia-sia. Tambak, panen tipis itu—semuanya cuma jadi bahan ejekan Pak Har. Dan aku... aku bikin Mbok Surti, Yatno, semua orang, kehilangan kerja, demi sesuatu yang akhirnya batal."
Marni menyodorkan teh. "Bapakmu dulu juga takut, Le. Tiap kali dia melawan, dia takut. Tapi dia bilang ke aku sekali—ini sebelum kamu pulang—dia bilang, 'Yang penting bukan menang, Mar. Yang penting aku ndak diam waktu sungai dirampok.' Dia kalah waktu itu. Tapi dia ndak diam." Marni menatap suaminya. "Kamu sudah ndak diam, Le. Apa pun besok, kamu sudah ndak diam."
Kalimat itu tidak menghilangkan ketakutan Pram, tapi membuatnya bisa memikulnya.
Tim datang pagi-pagi, tiga mobil, dan benar saja—di gerbang desa, Pak Har sudah menunggu dengan senyumnya, dengan Pak Sigit di sampingnya, dengan tenda dan kursi dan meja jamuan yang sudah disiapkan di dekat kantor desa. Mereka menyambut rombongan dengan kehangatan yang dilatih bertahun-tahun, langsung mengarahkan tim ke kursi, ke kopi, ke pembicaraan yang nyaman tentang lapangan kerja dan kesejahteraan.
Pram berdiri di kejauhan, di antara warganya, dan menyaksikan lawannya menguasai panggung seperti yang sudah-sudah. Untuk sesaat, rasa putus asa lama menyergapnya—rasa bahwa di setiap meja ada laci, dan setiap laci bisa diisi.
Lalu ia melihat sesuatu. Salah satu anggota tim, lelaki muda berkacamata yang ia tahu adalah ahli geologi dari kampus, tidak duduk. Sementara yang lain dijamu, lelaki itu berdiri, memandang ke arah sungai, ke arah jembatan yang menggantung, dengan kerutan di dahinya. Ia tidak tertarik pada kopi. Ia tertarik pada kerusakan.
Dan Pram tahu, dengan harapan tipis yang berani ia rasakan, bahwa hari penentuan ini belum kalah. Belum. Ada satu pasang mata di tim itu yang datang untuk melihat, bukan untuk dijamu—dan satu pasang mata yang jujur, kalau diarahkan ke tempat yang benar, kadang cukup untuk menjatuhkan seluruh skenario yang dibeli mahal.