Surat itu datang pada hari Selasa, dibawa pengantar pos dengan motor bututnya, dan untuk beberapa saat Pram hanya menatap amplop cokelat berkop kabupaten itu tanpa berani membukanya. Ia sudah terlalu sering kecewa oleh kertas. Berbulan-bulan ia mengirim laporan, mengisi formulir yang tak ia pahami, bolak-balik ke kantor kecamatan dan kabupaten, menelepon orang yang tak pernah mengangkat, dan tiap kali jawabannya sama: sedang diproses, Pak. Mohon ditunggu. Ditunggu yang seolah tak berujung.
Topik yang akhirnya merebut amplop itu dan menyobeknya. Ia membaca dengan suara keras, terbata, dan saat sampai ke angka, suaranya tercekat. Dana pemulihan jembatan, dicairkan tahap pertama. Dan di lembar terpisah, program pemberdayaan ekonomi pascatambang — bantuan untuk koperasi, modal usaha, pelatihan. Bukan satu keajaiban besar, melainkan dua aliran kecil yang selama ini Pram tekuni di belakang layar tanpa pernah yakin akan tiba.
"Ini... ini beneran, Pik?" Topik menatapnya, matanya basah. "Cair beneran?"
"Cek dulu ke kecamatan," kata Pram, karena ia tak berani percaya. Tapi di dadanya ada sesuatu yang melonggar untuk pertama kali sejak musyawarah mosi.
Kabar itu tidak ia umumkan dengan pengeras suara. Ia tahu lebih baik dari itu. Sebaliknya, ia memanggil rapat kecil di garasi rumahnya yang dulu jadi markas tim suksesnya, dan menggelar dua lembar surat itu di atas meja seperti seorang pelatih menggelar papan taktik. Yang hadir hanya inti: Topik, dua pemuda koperasi, bidan desa Bu Wati, dan Yatno yang kini ia ajak karena pemuda itu jujur dan rajin.
"Ini bukan banyak," Pram membuka. "Saya mau kalian ngerti dari awal. Dana ini cukup buat mulai. Nggak cukup buat semua. Kalau saya bagi rata ke seluruh warga terdampak, tiap kepala keluarga dapat berapa? Nggak ada artinya. Habis dalam seminggu, persis kayak beras Pak Har."
"Terus gimana, Pik?" tanya salah satu pemuda.
"Kita pakai buat yang bisa muter. Jembatan duluan, karena itu nyerap tenaga harian paling banyak dan paling cepat. Sisanya buat koperasi — bibit, alat, modal kerja. Bukan dibagi, tapi diputer biar jadi kerja terus-menerus." Pram berhenti, dan wajahnya mengeras. "Tapi saya mau kalian sadar konsekuensinya. Begitu saya milih siapa yang kerja proyek jembatan duluan, saya juga otomatis milih siapa yang nunggu. Dan yang nunggu bakal iri sama yang kerja. Itu pasti."
Dan benar saja, ketika daftar pekerja tahap pertama disusun, masalahnya datang lebih cepat dari dugaan. Proyek jembatan hanya butuh tiga puluh tenaga di gelombang awal. Eks-penambang yang menganggur jumlahnya ratusan. Pram dan Topik menyusun daftar berdasarkan kebutuhan paling mendesak — kepala keluarga dengan anak banyak, yang motornya sudah ditarik, yang sudah benar-benar tak punya apa-apa. Tapi kebutuhan yang mendesak itu tak punya garis batas yang jelas, dan setiap nama yang masuk daftar berarti nama lain yang tertinggal.
Pak Karto, yang warungnya sudah tutup, datang ke kantor desa marah-marah karena namanya tak ada di gelombang pertama, padahal tetangganya, Pak Sukir, masuk. "Anak saya juga banyak, Pak Kades! Apa bedanya saya sama Sukir? Sampeyan pilih kasih!"
Pram tidak membela diri dengan alasan rumit. Ia membuka daftar di hadapan Pak Karto, menunjukkan tiga kepala keluarga yang anaknya lebih banyak, yang utangnya lebih mencekik, yang rumahnya sudah hampir disita. "Pak Karto masuk gelombang dua. Empat puluh hari lagi. Saya tulis di sini, di depan Bapak, biar Bapak bisa nagih saya kalau saya bohong. Saya nggak punya cukup buat semua sekarang. Tapi saya nggak akan lupa nama Bapak."
Pak Karto pergi belum sepenuhnya puas, tapi tak lagi berteriak. Itu, Pram belajar, adalah bentuk kemenangan kecil yang harus ia syukuri sekarang — bukan membuat orang bahagia, hanya membuat mereka tidak merasa dibohongi.
Kabar bahwa dana cair menyebar ke seluruh desa dalam dua hari, dan ia menyebar dengan dua wajah. Bagi sebagian, itu napas, bukti pertama bahwa kesunyian tambang tidak berarti kematian. Bagi kubu Pak Har, itu ancaman, dan mereka segera memutar narasi: dana itu pasti diselewengkan, kades pasti ambil potongan, lihat saja siapa yang masuk daftar — pasti orang-orangnya sendiri. Bisik-bisik itu sampai juga ke telinga Pram lewat Topik.
"Mereka bilang Bapak korupsi dananya," lapor Topik geram. "Padahal duitnya belum cair penuh!"
Pram menarik napas panjang. Ia tahu, sejak dulu, bahwa di desa ini gosip menyebar lebih cepat dari kebenaran. Maka ia melakukan satu hal yang akan menjadi senjata utamanya untuk bulan-bulan mendatang: ia menempel salinan surat keputusan dana itu, lengkap dengan nominal dan peruntukan, di papan pengumuman balai desa. Terbuka. Siapa pun boleh membaca, boleh mencatat, boleh menanyakan. "Kalau mereka mau bilang saya korupsi," katanya pada Topik, "biar mereka baca dulu angkanya sendiri. Susah memfitnah orang yang naruh dompetnya di atas meja."
Malam itu, sebelum pulang, Pram berdiri sebentar di depan papan pengumuman, menatap surat yang baru ia tempel. Lampu balai desa redup, dan tinta di kertas itu hampir tak terbaca dalam gelap. Tapi ia tahu apa isinya, dan ia tahu betapa kecilnya angka itu dibanding besarnya kebutuhan desa. Bantuan ini bukan akhir dari kesulitan; ini hanya pintu kecil yang baru saja terbuka di tembok yang sangat tinggi. Tapi setelah berbulan-bulan menabrak tembok itu dengan kepala telanjang, sebuah pintu kecil pun terasa seperti udara. Ia mengunci kantor, menyalakan motor, dan pulang membawa beban yang sedikit — hanya sedikit — lebih ringan.