Pagi pertama pengerjaan jembatan, langit Kedungwaru masih kelabu ketika truk pengangkut material masuk ke desa — tapi kali ini bukan truk pasir yang menderu keluar, melainkan truk semen dan besi yang masuk membawa harapan. Pram berdiri di tepi sungai, menyaksikan tiga puluh lelaki desa berbaris mengambil helm proyek dari mandor, dan ada sesuatu yang menyesakkan dadanya melihat wajah-wajah itu. Sebagian dari mereka, beberapa bulan lalu, ikut menandatangani petisi untuk menjatuhkannya. Sekarang mereka menerima upah dari tangan yang sama yang mereka tuduh mematikan dapur mereka.
Mandor dari kabupaten, seorang lelaki kekar bernama Pak Salim, memberi pengarahan singkat. Fondasi lama yang keropos akan diperkuat dengan pilar baru, dan sebelum itu, penggalian pasir di sekitar pilar memang harus dihentikan total — kalau tidak, kata insinyurnya dulu, perbaikan akan sia-sia karena arus akan kembali menggerus dasar. Mendengar itu diucapkan oleh orang luar yang netral, beberapa pekerja eks-penambang saling pandang. Inilah yang dulu Pram katakan di musyawarah, yang mereka tolak mentah-mentah. Sekarang ahli dari kabupaten mengatakan hal yang sama, dan kali ini tak ada yang membantah.
Yatno termasuk yang masuk gelombang pertama. Pram memasukkan namanya bukan karena ia anak Mbok Surti, melainkan karena pemuda itu memang sudah bekerja keras di koperasi tanpa pernah mengeluh, dan Pram tahu mandor butuh tenaga muda yang kuat. Tapi ia tak menampik bahwa ada bagian dari hatinya yang lega bisa memberi sesuatu yang nyata pada keluarga yang paling ia lukai.
Hari-hari berikutnya, tepi sungai yang dulu sunyi mencekam berubah jadi ramai oleh suara yang sama sekali berbeda dari deru ekskavator. Suara palu, suara orang memanggil-manggil, suara mesin molen yang berputar, sesekali tawa di sela istirahat. Bukan kemakmuran — upah harian proyek tetap kecil, dan proyek ini akan selesai dalam beberapa bulan, lalu apa? Pram menyimpan kecemasan itu untuk dirinya sendiri. Untuk sekarang, dapur-dapur kembali mengepul, dan itu sudah cukup untuk membuatnya bisa tidur sedikit lebih nyenyak.
Perubahan yang paling tak ia duga datang pada hari kesepuluh. Pram sedang mengawasi pengecoran ketika ia melihat sosok perempuan tua berjalan menyusuri jalan setapak menuju lokasi, membawa rantang. Mbok Surti. Pram menegang. Sejak penutupan tambang, perempuan itu tak pernah lagi menyapanya; tatapannya saat berpapasan selalu dingin, dan Pram tak pernah berani menegurnya lebih dulu karena merasa tak punya hak.
Mbok Surti menghampiri Yatno yang sedang mengaduk adukan semen, menyerahkan rantang itu — bekal makan siang, rupanya. Lalu, alih-alih langsung pergi, ia berdiri sebentar, mengawasi anaknya bekerja. Pram berdiri kaku beberapa meter darinya, tak tahu harus melakukan apa.
Lalu Mbok Surti menoleh. Matanya bertemu mata Pram. Untuk sesaat yang terasa panjang, tak ada yang bicara. Pram menyiapkan diri untuk tatapan benci, untuk wajah berpaling. Tapi Mbok Surti tidak berpaling. Ia hanya menatapnya, dan kemudian, dengan suara serak yang nyaris tertelan suara mesin molen, ia berkata, "Yatno keliatan lebih sehat kerja di sini, Le. Daripada di tambang dulu, batuk-batuk terus kena debu."
Itu saja. Bukan permintaan maaf, bukan ucapan terima kasih, bukan pengampunan yang utuh. Hanya satu kalimat datar tentang anaknya. Tapi bagi Pram, kalimat itu seperti pintu yang dibuka seujung jari setelah berbulan-bulan terkunci rapat. Ia menelan sesuatu di tenggorokannya.
"Iya, Mbok," katanya pelan, hati-hati, takut salah ucap akan menutup pintu itu lagi. "Yatno kerjanya bagus. Rajin. Mandornya muji dia kemarin."
Mbok Surti mengangguk sekali, samar. "Bapakmu dulu juga begitu," katanya. "Suka ngajakin orang kerja yang bener. Nggak yang gampang." Lalu ia berbalik dan berjalan pulang, punggungnya bungkuk, langkahnya pelan, dan Pram berdiri di sana memandang punggung itu menjauh sampai hilang di tikungan jalan.
Ia tahu ini bukan rekonsiliasi. Mbok Surti tidak tiba-tiba menjadi pendukungnya, dan luka karena bulan-bulan dapur dingin tak akan terhapus oleh satu rantang dan satu kalimat. Tapi ia juga tahu, dari pengalaman seumur hidup di desa yang saling kenal ini, bahwa beginilah cara perdamaian datang di Kedungwaru — bukan dengan pelukan dan air mata, melainkan dengan satu kalimat kecil tentang anak yang batuknya berkurang, dengan rantang yang diantar diam-diam, dengan tatapan yang tidak lagi membenci.
Sore itu, ketika para pekerja pulang dan tepi sungai kembali sunyi, Pram berjalan ke ujung jembatan lama yang sedang diperkuat. Di bawahnya, fondasi baru mulai berdiri, kokoh dan kotak-kotak, masih telanjang oleh besi yang mencuat. Air sungai di bawah, yang dulu cokelat pekat oleh galian, kini sudah sedikit lebih bening; ia bisa melihat samar dasar berbatu di tepian dangkal. Untuk pertama kali sejak ia memenangkan segalanya dan nyaris kehilangan semuanya, Pram membiarkan dirinya merasakan sesuatu yang menyerupai harapan. Bukan kemenangan — ia sudah belajar untuk tidak mempercayai kata itu. Hanya harapan yang rapuh, sebesar fondasi yang baru saja dituang dan masih harus mengeras berhari-hari sebelum kuat menahan beban. Tapi fondasi tetap fondasi. Dan untuk membangun apa pun, harus dimulai dari bawah, dari tempat yang dulu nyaris ambruk.