Sementara jembatan tumbuh dari sungai, di sisi lain desa, sesuatu yang lebih sunyi juga sedang tumbuh. Lahan bekas sawah rusak di hilir, yang dulu tak bisa ditanami karena airnya tercemar lumpur tambang, kini sudah disulap menjadi petak-petak tambak. Koperasi yang dulu ditertawakan orang sebagai "mainan kades" mulai menunjukkan bentuk yang lebih serius, dan kunci dari semuanya, sebagaimana yang Pram pelajari berbulan-bulan, adalah satu hal sederhana: sungai yang berhenti dilukai mulai sembuh.
Pram menyaksikan perubahan itu hampir tak percaya. Beberapa bulan setelah ekskavator terakhir diangkut keluar, air sungai yang dulu cokelat pekat dan keruh sepanjang tahun perlahan menjernih. Endapan lumpur yang dulu menggantung kini mengendap, dan arus yang dulu deras menggerus tepian kini mengalir lebih tenang, mulai mengisi kembali ceruk-ceruk yang dahulu dikeruk jadi jurang. Bibit ikan yang ditebar koperasi di tambak hidup lebih baik karena air sumber yang masuk tak lagi beracun lumpur. Panen kedua, kata Topik sambil menunjukkan catatannya, hampir dua kali lipat panen pertama yang tipis itu.
Tapi bukti yang paling membuat Pram terharu datang bukan dari tambak buatan, melainkan dari sungai itu sendiri. Suatu sore, ia diajak Yatno dan beberapa pemuda ke tepian, dan di sana, di air dangkal yang jernih, ia melihatnya: wader. Ikan-ikan kecil keperakan yang dulu memenuhi sungai masa kecilnya, yang sudah belasan tahun tak terlihat karena dasar sungai jadi gurun pasir, kini berkelebat lagi di antara batu. Pram berjongkok di tepi, menatap ikan-ikan itu, dan untuk beberapa saat ia tak bisa bicara. Ia teringat dirinya kecil, berenang di sungai yang sama, menangkap wader dengan tangan kosong, ayahnya tertawa di tepian. Sungai itu, yang ia kira sudah mati, ternyata hanya menunggu untuk dibiarkan hidup kembali.
Kabar bahwa ikan kembali menyebar, dan bersamanya menyebar pula sesuatu yang lebih penting: keyakinan. Selama belasan tahun, kekuatan terbesar Pak Har — dan ketakutan terbesar warga — bersandar pada satu keyakinan bahwa tanpa tambang, tak ada nafkah, bahwa pasir adalah satu-satunya yang bisa diandalkan. Tapi sekarang, perlahan, di hadapan mata kepala mereka sendiri, keyakinan itu mulai retak. Ada ikan di sungai. Ada panen di tambak. Ada upah di proyek jembatan. Ternyata ada hidup yang lain.
Pagi itu, Pram berkunjung ke rumah Bu Lastri, perempuan yang dulu sumurnya keruh dan anaknya batuk-batuk, yang dulu jadi saksi membumi di hadapan tim evaluasi dinas. Suami Bu Lastri, Pak Damin, adalah nelayan kecil yang sudah hampir setahun tak melaut karena sungai yang menyatu dengan muara terlalu keruh untuk ikan. Pram menemukan Pak Damin di halaman, sedang memperbaiki jala yang sudah lama tergulung tak terpakai.
"Mau melaut lagi, Pak Damin?" tanya Pram.
Lelaki itu mendongak, dan ada sesuatu di matanya yang sudah lama tak Pram lihat di wajah warga Kedungwaru — secercah semangat. "Kemarin nyoba, Le," katanya. "Dapat. Nggak banyak, tapi dapat. Sudah setahun lebih saya nggak dapat apa-apa. Airnya mulai bening, ikan mulai balik ke muara." Ia mengangkat jalanya yang sudah ditambal. "Anak saya yang batuk itu, sekarang sudah jarang batuk. Airnya beda sekarang."
Pram duduk di bangku kayu di samping Pak Damin, dan untuk beberapa lama mereka hanya bicara tentang ikan, tentang pasang surut, tentang jala. Bukan tentang politik, bukan tentang tambang, bukan tentang mosi. Hanya tentang hidup yang perlahan kembali normal. Dan dalam percakapan biasa itulah Pram merasakan sesuatu yang lebih meyakinkan daripada pidato kemenangan mana pun: desa ini sedang belajar berdiri di atas kakinya sendiri.
Di perjalanan pulang, ia berhenti di makam ayahnya — kebiasaan yang ia lakukan tiap kali ada yang ingin ia katakan dan tak ada orang hidup yang tepat untuk mendengarnya. Ia teringat catatan lama ayahnya yang ia temukan dulu, rencana ekonomi alternatif yang dulu ditolak desa: pertanian, perikanan tambak, koperasi. Ide-ide membumi yang dulu kalah oleh kemudahan uang pasir. Dulu Pram mengira ayahnya idealis yang bodoh, yang kalah karena terlalu jujur. Sekarang ia mengerti — ayahnya tidak bodoh, hanya datang terlalu cepat ke desa yang waktu itu masih lapar dan belum siap mendengar.
"Ternyata Bapak bener," gumam Pram di hadapan nisan yang sederhana. "Cuma kecepeten. Desanya belum siap waktu itu." Ia tersenyum getir. "Sekarang siap, Pak. Mahal banget bayarnya, tapi siap."
Namun Pram tak membiarkan dirinya larut dalam keharuan. Ia tahu betul ekonomi baru ini masih rapuh seperti bibit yang baru ditebar. Tambak bisa gagal panen, kemarau bisa datang, harga ikan bisa jatuh. Tak ada jaminan. Yang ia bangun bukan kemakmuran yang kokoh, melainkan ekonomi yang lebih sehat dan merata — tersebar ke banyak tangan kecil alih-alih mengalir deras ke segelintir, tapi justru karena merata, ia juga lebih lambat dan lebih tipis. Membela jalan ini berarti memilih napas panjang yang melelahkan di atas euforia pendek yang menghancurkan. Pram berdiri dari makam, menyalakan motornya, dan pulang dengan pikiran sudah berpindah ke masalah berikutnya — karena di Kedungwaru, sebagaimana ia belajar, satu masalah yang selesai selalu membuka pintu bagi yang lain.