Mesin yang membuat Hartono Sumarno tak terkalahkan selama tiga periode tidak hancur dalam satu pukulan. Ia mengering, pelan-pelan, seperti sumur yang sumber airnya diputus di hulu. Dan Pram, yang memperhatikan dari kantor desa, menyaksikan pengeringan itu dengan perasaan yang jauh dari kemenangan.
Tanda-tandanya kecil dan tak kasat mata bagi orang luar, tapi jelas bagi siapa pun yang mengenal politik Kedungwaru. Perangkat desa yang dulu memperlambat tiap perintah Pram, yang menyembunyikan dokumen dan melapor diam-diam ke rumah besar, kini mulai berubah sikap. Bukan karena tiba-tiba mereka mengagumi Pram, melainkan karena perhitungan paling sederhana: rumah besar tak lagi punya uang pasir untuk membeli loyalitas mereka. Tanpa setoran tambang yang mengalir tiap bulan, Pak Har hanyalah seorang pensiunan kepala desa, dan kesetiaan yang dibeli dengan uang selalu punya tanggal kedaluwarsa.
Carik baru yang Pram angkat — orang dari timnya sendiri, minim pengalaman tapi jujur — melaporkan bahwa beberapa kepala dusun yang dulu setia pada Pak Har kini datang ke kantor desa dengan sopan, menawarkan kerja sama, seolah dua belas tahun lalu tak pernah terjadi. Pram menerima mereka tanpa dendam, tapi juga tanpa naif; ia tahu kesetiaan yang berpindah karena angin bisa berpindah lagi. Tapi ia membutuhkan mereka untuk menjalankan desa, dan ia belajar — pelajaran pahit dari Lik Wage — bahwa memimpin kadang berarti bekerja dengan orang yang tak sepenuhnya bisa kau percaya.
Yang paling mencolok adalah sepinya rumah besar. Dulu, halaman rumah Pak Har selalu ramai — orang antre minta tolong, minta pinjaman, minta pekerjaan, minta restu. Warung di seberangnya hidup dari para tamu yang menunggu giliran. Sekarang, kata orang-orang, halaman itu lengang. Beras yang dulu Pak Har bagikan untuk menggalang mosi sudah habis dan tak ada gantinya, karena sumber uangnya — pemodal tambang — kini menjauh sejak izin dicabut. Tanpa beras, tanpa pekerjaan, tanpa janji, orang-orang yang dulu mengerumuninya perlahan tak punya alasan lagi untuk datang.
Pram tahu ia seharusnya merasa puas. Inilah lawan yang dulu nyaris mengalahkannya, yang menebar serangan fajar, yang membeli saksi palsu, yang menggalang mosi untuk menjatuhkannya — dan sekarang lawan itu sendirian, tak berdaya, ditinggalkan mesin yang dulu membuatnya raja. Tapi Pram tidak merasa puas. Ia hanya merasa sebuah kekosongan yang aneh, semacam kasihan yang ia sendiri tak mengerti.
Maka pada suatu sore, atas dorongan yang sulit ia jelaskan, Pram berjalan ke rumah besar itu. Tanpa rombongan, tanpa kamera, tanpa urusan resmi. Hanya seorang lelaki muda mendatangi seorang lelaki tua.
Ia menemukan Pak Har duduk sendiri di teras, di kursi rotan yang dulu jadi singgasananya, memandang ke jalan yang sepi. Tubuh lelaki itu, yang dulu selalu tampak berisi dan penuh percaya diri, kini terlihat lebih kecil, lebih ringkih. Rambutnya lebih putih dari yang Pram ingat. Tapi senyum itu masih ada — refleks seumur hidup — ketika ia melihat Pram datang.
"Wah, tumben," kata Pak Har. "Kades datang ke rumah lawannya. Mau pamer kemenangan, Le?"
"Nggak, Pak," jawab Pram, berhenti di anak tangga teras. "Saya cuma... lewat."
Pak Har tertawa pendek, tawa yang lelah. "Lewat. Ke rumah yang nggak ada di pinggir jalan utama. Kamu nggak pinter bohong, Le. Bapakmu juga dulu nggak pinter bohong." Ia menunjuk kursi kosong di sebelahnya. "Duduk. Kakiku sudah males berdiri buat ngusir tamu."
Pram duduk. Untuk beberapa lama keduanya hanya diam, memandang jalan yang sepi. Lalu Pak Har bicara, suaranya pelan, tanpa kemarahan yang dulu ia harapkan.
"Kamu tahu, dua belas tahun aku duduk di teras ini, jalan itu nggak pernah sepi," katanya. "Tiap pagi ada yang datang. Minta tolong, minta uang, minta apa saja. Aku kasih. Mereka panggil aku bapak. Aku ngerasa... berguna." Ia berhenti. "Sekarang sepi. Dan aku baru sadar, mungkin mereka nggak pernah datang buat aku. Mereka datang buat uang yang aku pegang. Begitu uangnya nggak ada, mereka juga nggak ada." Ia menoleh pada Pram, dan untuk pertama kali sejak Pram mengenalnya, tak ada topeng ramah di wajah itu — hanya kelelahan seorang tua. "Itu yang nunggu kamu juga, Le, kalau kamu mimpin pakai cara yang sama kayak aku. Hati-hati."
Pram menatap lelaki tua itu, dan ia menyadari sesuatu yang menggetarkan. Pak Har bukan penjahat dalam dongeng. Ia adalah seseorang yang, dengan caranya yang salah, sungguh-sungguh percaya bahwa ia memberi makan desa, dan yang sekarang kalah bukan oleh Pram, melainkan oleh zaman yang ia sendiri ciptakan — zaman yang mengajarkan desa bahwa kasih sayang bisa dibeli, dan karena itu bisa juga ditinggalkan.
"Saya nggak akan mimpin pakai cara Bapak," kata Pram akhirnya, pelan. "Tapi saya juga belajar satu hal dari Bapak. Orang nggak bakal denger sungai jernih kalau perutnya kosong. Bapak salah soal caranya. Tapi Bapak nggak salah soal perut itu penting."
Pak Har memandangnya lama, lalu mengangguk samar, dan tersenyum — kali ini senyum yang lebih sungguh, lebih getir. "Bapakmu pasti bangga," katanya. "Aku benci ngakuinnya, tapi iya." Ia kembali memandang jalan yang sepi, dan Pram tahu percakapan sudah selesai. Ia pamit, dan berjalan pulang di senja yang temaram, membawa kemenangan yang sama sekali tidak terasa seperti kemenangan — hanya rasa sepi yang sama yang ia tinggalkan di teras rumah besar itu.