Tidak semua kisah di Kedungwaru berakhir dengan ikan yang kembali ke sungai dan rantang yang diantar diam-diam. Pram belajar itu pada pagi ketika ia melihat truk pengangkut barang berhenti di depan rumah keluarga Pak Warno.
Pak Warno bukan pendukung Pak Har, bukan pula musuh yang vokal. Ia hanya seorang eks-penambang biasa, salah satu dari ratusan, yang selama belasan tahun menggantungkan hidup pada upah harian dari tikungan sungai. Bedanya, ketika program pemulihan datang, ia termasuk yang tak tertampung. Proyek jembatan hanya menyerap puluhan tenaga, dan gelombang-gelombang berikutnya pun terbatas. Koperasi tambak tak bisa menampung semua. Pak Warno terlalu tua untuk pekerjaan berat proyek, terlalu kaku untuk belajar mengelola tambak, dan terlalu sedikit modalnya untuk merintis usaha sendiri. Ia jatuh di celah — celah yang Pram tahu ada tapi tak punya cukup sumber daya untuk menutupnya.
Selama berbulan-bulan, keluarga itu bertahan dengan menjual apa yang bisa dijual. Motor lebih dulu, lalu perabot, lalu beberapa petak tanah pekarangan. Pram tahu — Topik melaporkan, dan Pram sempat menawarkan agar Pak Warno masuk daftar gelombang berikutnya, agar anaknya didaftarkan ke program pelatihan. Tapi Pak Warno menolak semua tawaran itu dengan satu kalimat yang menusuk: "Saya nggak butuh sedekahmu, Le. Saya butuh kerjaan saya yang dulu, yang kamu tutup."
Dan pagi ini, ia pergi. Rumahnya dijual — pada siapa, Pram tak tahu — dan keluarga itu mengangkut sisa-sisa hidup mereka ke dalam bak truk. Istri Pak Warno, dua anak yang masih kecil, beberapa kardus, kasur tergulung, sepeda tua. Mereka akan merantau ke kota, kata orang, mencari hidup yang baru di tempat di mana tak ada yang tahu bahwa dapur mereka pernah dimatikan oleh kades yang menyelamatkan sungai.
Pram berdiri di seberang jalan, ragu apakah ia harus mendekat. Tapi sesuatu menahannya untuk tidak bersembunyi. Ia sudah memutuskan, sejak gelombang kemarahan pertama, bahwa ia tidak akan menghindar dari wajah-wajah yang ia lukai. Maka ia menyeberang.
Pak Warno sedang mengikat barang di bak truk ketika ia melihat Pram datang. Lelaki itu berhenti. Tangannya turun dari tali. Dan untuk waktu yang lama, keduanya hanya berdiri berhadapan, tak ada yang bicara.
Pram menyiapkan banyak kata. Ia ingin menjelaskan — bahwa ia berusaha, bahwa dana terbatas, bahwa ia mendaftarkan nama Pak Warno, bahwa program berikutnya. Tapi semua kata itu terasa murahan, terasa seperti pembelaan diri yang menambal luka dengan janji, dan Pram tahu Pak Warno tak butuh tambalan. Ia butuh hidupnya yang lama, dan itu satu hal yang tak bisa Pram kembalikan.
Maka Pram tidak mengucapkan satu pun kata yang ia siapkan. Ia hanya berdiri, dan menahan tatapan lelaki itu, dan membiarkan dirinya menerima penuh apa yang ada di mata Pak Warno. Bukan kemarahan yang meledak — itu sudah lama habis. Yang ada hanya kelelahan, kepahitan, dan sesuatu yang lebih dingin dari kebencian: ketiadaan harapan, dan keputusan untuk pergi membawa serta semua itu.
Pak Warno menatapnya lama, lalu meludah ke tanah — bukan ke arah Pram, hanya ke tanah, gerakan seorang lelaki yang membuang sesuatu di dalam dirinya. Lalu ia berbalik, naik ke samping sopir, dan menutup pintu truk. Mesin menyala. Truk bergerak pelan menyusuri jalan desa, melewati warung-warung yang sebagian sudah buka lagi, melewati lapangan yang berdebu, melewati papan pengumuman balai desa tempat Pram menempel salinan dana bantuan. Pram berdiri di tengah jalan, memandang truk itu mengecil sampai hilang di tikungan keluar desa, debu mengepul lalu mengendap, dan kemudian sunyi.
Topik datang menghampirinya, berdiri di sampingnya. "Bapak sudah berusaha, Pik," kata Topik pelan, mencoba menghibur. "Dananya emang nggak cukup buat semua. Itu bukan salah Bapak."
Pram diam beberapa saat. Lalu ia menggeleng. "Jangan dibilang gitu, Pik," katanya, suaranya serak. "Jangan dibikin gampang. Kalau aku mulai bilang ini bukan salahku, aku bakal mulai nyari-nyari alasan buat semua orang yang aku lukai. Dan kalau aku punya alasan buat semuanya, aku berhenti ngerasa." Ia menatap tikungan tempat truk menghilang. "Pak Warno pergi gara-gara keputusanku. Aku yakin keputusanku bener. Tapi bener bukan berarti nggak ada yang luka. Aku harus nanggung dua-duanya. Bener, dan luka. Bareng."
Ia tidak akan menambal luka itu dengan janji palsu pada dirinya sendiri. Ia tidak akan berpura-pura bahwa kemenangannya bersih, bahwa semua orang akhirnya bahagia, bahwa sungai yang jernih menebus semua dapur yang dingin. Sebagian luka tidak akan sembuh, dan sebagian orang tidak akan pernah memaafkannya, dan itu adalah harga yang ia bayar dengan mata terbuka.
Malam itu, di kantor desa yang sepi, Pram mencatat satu nama di buku kecil yang ia simpan untuk dirinya sendiri — bukan buku resmi, hanya catatan pribadi. Keluarga Warno. Pindah. Ia menulisnya bukan untuk diingat sebagai kekalahan, melainkan untuk tidak dilupakan sebagai kenyataan. Karena seorang lelaki yang lupa pada orang-orang yang ia lukai, ia tahu, adalah lelaki yang sebentar lagi akan melukai lebih banyak lagi tanpa merasa. Dan Pram bersumpah, di hadapan satu nama di buku kecil itu, bahwa ia tak akan pernah menjadi lelaki seperti itu.