Pekuburan desa terletak di punggung tanah yang menurun ke arah tikungan sungai, dan dulu, setiap kali Pram melewatinya, ia merasa seperti melihat baris terakhir orang-orang yang menunggu giliran ditelan jurang. Tepiannya menggantung. Beberapa nisan paling pinggir sudah miring, tanahnya retak dan longsor sedikit demi sedikit setiap musim hujan, seakan sungai yang lapar itu hendak merampas bahkan mereka yang sudah mati.
Makam ayahnya termasuk yang dekat tepi. Bukan paling pinggir, tapi cukup dekat untuk membuat Pram cemas setiap kali air naik. Dulu, dalam mimpi-mimpi buruknya di kota, ia kadang membayangkan pulang dan tak menemukan makam itu lagi—hanya tepi jurang yang baru, dan ayahnya hanyut entah ke mana bersama pasir.
Kini ia berdiri di tepian yang sama, dan tepian itu tidak lagi menggantung.
Reklamasi yang ia perjuangkan—bagian dari tuntutan yang ia ajukan ke provinsi setelah pemodal tambang kabur meninggalkan lahan rusak—akhirnya menyentuh sisi pekuburan. Bukan pekerjaan besar yang gemerlap; hanya pemasangan bronjong batu di tepi, penanaman bambu dan akar wangi yang akarnya mengikat tanah, dan penimbunan ulang bagian yang dulu longsor. Eks-penambang yang mengerjakannya. Orang-orang yang dulu tangan mereka mengeruk pasir yang menggerus tanah ini, kini tangan yang sama menyusun batu untuk menahannya. Pram tidak melewatkan ironi itu, dan ia tidak menyebutnya keras-keras; cukup ia simpan sebagai salah satu hal yang membuatnya bisa tidur malam.
Ia membawa cangkul sendiri hari itu, ikut menyiangi rumput di sekeliling makam ayahnya. Ini bukan tugas kepala desa. Tapi ia ingin tangannya sendiri yang melakukannya. Ia mencabuti gulma, merapikan gundukan, dan duduk di samping nisan ketika matahari mulai condong.
"Pak," ia mulai pelan, merasa sedikit konyol bicara pada batu, tapi tetap melanjutkan karena tak ada orang lain di situ. "Tepinya udah aman sekarang. Nggak bakal longsor lagi. Sungainya juga balik. Kemarin saya lihat ada anak nyari wader, persis kayak saya dulu."
Angin menggoyangkan bambu yang baru ditanam. Pram menyeka keringat.
"Dulu saya mikir Bapak itu bodoh," katanya, dan suaranya merendah, jujur, dengan kejujuran yang hanya bisa dikatakan pada orang mati. "Beneran, Pak. Waktu kecil saya malu. Anak-anak lain bapaknya kerja di tambang, dapat uang, beli motor, anaknya bisa jajan. Bapak nolak tambang, terus difitnah, terus diasingkan, terus mati nggak punya apa-apa selain nama yang orang sebut sambil kasihan. Saya pikir Bapak milih jalan yang salah. Saya pikir idealisme Bapak itu cuma cara gengsi buat bikin keluarga sendiri susah."
Ia terdiam lama. Di kejauhan, suara air sungai mengalir samar.
"Tapi saya salah. Bukan idealisme Bapak yang salah. Cuma waktunya. Waktu itu desa lagi lapar, dan orang lapar nggak bisa makan idealisme. Pasir kasih mereka uang hari itu juga, dan Bapak cuma bisa kasih janji yang belum tentu jadi. Wajar mereka pilih pasir. Saya juga, kalau saya jadi mereka, mungkin pilih pasir."
Pram membuka tasnya, mengeluarkan buku tua ayahnya—buku yang sudah lecek di tangannya selama berbulan-bulan, yang halamannya berisi sketsa tambak dan hitungan nila dan rencana koperasi yang tiga puluh tahun lalu ditertawakan orang. Ia membukanya ke halaman yang sudah ia hafal.
"Rencana Bapak ini jalan, Pak. Bukan persis kayak yang Bapak gambar, tapi rohnya jalan. Tambak ada. Koperasi ada. Orang yang dulu nambang sekarang kerja di sawah sama kolam. Nggak kaya, tapi cukup. Dan yang penting—" ia menutup buku, "—uangnya nggak ngalir keluar desa lagi. Dulu untung pasir dibawa orang luar, desa cuma kebagian debu. Sekarang yang sedikit ini, semuanya tinggal di sini."
Ia menyadari sesuatu sambil mengucapkannya, sesuatu yang baru benar-benar ia pahami detik itu juga. Ayahnya bukan sekadar menolak tambang karena cinta sungai. Ayahnya sudah tahu, jauh sebelum siapa pun, bahwa menolak saja tidak cukup—bahwa harus ada sesuatu yang menggantikan periuk yang dipadamkan. Itu sebabnya buku ini ada. Itu sebabnya ada sketsa tambak dan hitungan, bukan cuma kemarahan. Ayahnya sudah memikirkan dapur yang baru bertahun-tahun lalu, dan kalah bukan karena salah, melainkan karena terlalu cepat untuk telinga yang waktu itu lapar.
"Saya cuma nerusin yang Bapak mulai," Pram berkata akhirnya. "Dan saya nggak ngerasa jadi pahlawan. Ada keluarga yang pergi gara-gara saya. Pak Warno, Pak. Jual rumah, pindah kota, bawa benci. Saya nggak bisa benerin itu. Jadi saya nggak akan pura-pura semua beres."
Ia berdiri, membersihkan celananya, dan memandang ke seberang tepian yang kini ditahan bronjong batu dan akar bambu—tanah yang tak akan lagi mendekat ke makam-makam ini, tempat para leluhur desa bisa beristirahat tanpa terancam dilahap jurang. Bukan kemenangan yang gemilang. Hanya tepian yang aman, sungai yang mengalir, dan seorang anak yang akhirnya mengerti ayahnya.
Sebelum pulang, ia menyentuh nisan itu sekali. "Maaf saya lama ngertinya, Pak," bisiknya. Lalu ia berjalan menuruni jalan setapak, melewati makam-makam yang kini aman, di bawah langit yang memerah, membawa buku tua ayahnya pulang ke desa yang perlahan-lahan membuktikan bahwa lelaki di dalam tanah itu benar.