Rumah Pak Har masih yang paling besar di desa, tapi kebesarannya kini terasa kosong. Pagar besinya berkarat di beberapa tempat. Halaman yang dulu selalu ramai—tamu meminta tolong, perangkat melapor, orang-orang yang ingin sekadar terlihat dekat dengan kuasa—kini sepi, dengan dua kursi rotan menganggur di teras dan secangkir kopi yang sudah dingin di meja.
Pram datang bukan untuk urusan apa-apa. Ia mendengar dari bidan bahwa Pak Har akhir-akhir ini sering sakit, dan entah dorongan apa yang membuatnya berbelok ke rumah itu sore itu. Mungkin karena ayahnya, yang seumur hidup menjadi musuh Pak Har, tak pernah sempat berdamai dengannya. Mungkin Pram tak ingin mengulangi kebencian yang dibawa sampai mati.
Pak Har menyambutnya tanpa terkejut, seakan sudah menduga. "Lho, kades. Mampir juga ke rumah orang kalah." Tapi nadanya tidak getir. Ia menggeser kursi rotan. "Duduk. Kopinya bikin sendiri ya, pembantu udah nggak ada. Anak-anak suruh hemat katanya."
Pram duduk. Untuk beberapa saat mereka diam, dua lelaki yang pernah membelah desa, kini duduk berdampingan memandang halaman yang sepi.
"Bapakmu," Pak Har akhirnya berkata, matanya jauh, "orang keras. Sama kerasnya sama kamu. Bedanya, dia datang ke zaman yang salah." Ia tertawa kecil, batuk. "Aku ingat dulu dia berdiri di balai desa, persis kayak kamu, ngomong soal sungai, soal anak-cucu. Dan aku berdiri di seberangnya, ngomong soal sekolah, soal motor, soal beras. Tahu siapa yang dipilih orang?"
"Bapak," kata Pram.
"Aku. Tiga kali. Bukan karena aku lebih pintar. Karena aku ngerti satu hal yang bapakmu nggak mau ngerti: orang lapar nggak bisa nunggu." Pak Har menatap Pram. "Kamu pikir aku jahat, Le?"
Pram tidak menjawab cepat. Ia memikirkannya. "Dulu iya," akhirnya ia berkata jujur. "Sekarang nggak. Sekarang saya pikir Bapak milih jalan paling gampang buat ngasih makan desa, dan jalan gampang itu lama-lama ngerusak yang dikasih makan."
Pak Har mengangguk pelan, seakan jawaban itu adil. "Mungkin. Mungkin aku terlalu lama milih yang gampang." Ia memandang cangkir kopinya yang dingin. "Tapi aku nggak pernah bohong sama diriku sendiri, Le. Aku beneran percaya tambang itu nyelametin desa. Tiap amplop yang kubagi, tiap sekolah yang kubayar, aku percaya aku ngelakuin yang bener. Kamu boleh nggak percaya, tapi itu yang ada di kepalaku tiap pagi selama dua belas tahun."
"Saya percaya, Pak," kata Pram pelan. Dan ia memang percaya. Inilah yang membuat orang tua ini tak pernah menjadi penjahat dalam ceritanya—bukan karena tindakannya tak menyakitkan, tapi karena ia sungguh-sungguh meyakini ia melindungi.
Mereka diam lagi. Angin sore membawa bau masakan dari rumah tetangga.
"Sungainya bersih sekarang, dengar-dengar," Pak Har berkata.
"Iya. Wader balik."
Orang tua itu tersenyum, samar, getir. "Bagus." Lalu wajahnya mengeras sedikit, dan ia menoleh penuh ke Pram, dengan tatapan yang masih menyisakan ketajaman lelaki yang tak terkalahkan tiga kali. "Tapi dengar aku, Le. Satu nasihat dari orang tua yang kalah. Kamu nutup tambang, sungai selamat, kamu bangga. Bagus. Tapi kamu juga bikin orang lapar. Aku tahu siapa aja yang sekarang makan lebih susah dari dulu. Aku tahu keluarga Warno pindah bawa benci sama kamu."
Pram menahan diri untuk tidak membela diri. Ia membiarkan orang tua itu bicara.
"Jangan jadi sok suci, Le," Pak Har melanjutkan, suaranya rendah dan tajam. "Jangan pernah merasa kamu pahlawan yang nyelametin desa. Karena buat sebagian orang, kamu yang ngambil periuk mereka. Kamu sama kayak aku—bikin pilihan, ada yang untung, ada yang buntung. Bedanya aku jujur sama diriku kalau aku bikin orang lain susah. Kamu—aku nggak yakin kamu berani jujur soal itu."
Kalimat itu menusuk justru karena ada benarnya. Pram menelan ludah. "Saya berani, Pak," katanya akhirnya. "Saya inget rasa lapar yang saya bikin. Tiap hari. Saya nggak akan pura-pura tangan saya bersih. Bapak bener soal itu."
Untuk pertama kali sepanjang percakapan, sesuatu di wajah Pak Har melunak sepenuhnya. Ia memandang Pram lama, lalu mengangguk—angguk yang seperti pengakuan, bahkan mungkin restu.
"Bagus," katanya. "Selama kamu inget itu, mungkin kamu nggak bakal jadi kayak aku. Atau mungkin kamu bakal jadi lebih buruk. Aku nggak akan keburu lihat." Ia tertawa, batuk lagi. "Sudah, pulang sana. Aku capek."
Pram bangkit. Di ambang teras ia berhenti, menoleh. "Makasih, Pak. Kopinya enak."
Pak Har melambai lemah tanpa menoleh. "Kamu nggak minum kopinya."
Pram tersenyum dan pergi. Berjalan pulang melewati jalan desa yang temaram, ia memikirkan kalimat orang tua itu—jangan sok suci, ingat rasa lapar yang kamu timbulkan—dan menyadari bahwa itulah hadiah paling jujur yang pernah ia terima dari seorang lawan. Bukan kebencian, bukan pula maaf. Sebuah peringatan, dari orang yang tahu persis betapa mudahnya seorang yang merasa benar berubah menjadi tirani berikutnya. Ia tidak meninggalkan rumah itu sebagai pemenang yang menertawakan yang kalah. Ia meninggalkannya sebagai orang yang baru saja diberi cermin, oleh tangan yang paling tak diduga, dan ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak pernah memecahkannya.