Papan pengumuman di teras balai desa itu sudah pudar oleh enam tahun hujan dan matahari, tapi pagi itu ia kembali dipenuhi kertas baru. Pengumuman pembukaan pendaftaran calon kepala desa. Pram berdiri di depannya, membaca tanggal dan persyaratan yang sama persis seperti yang dulu nyaris ia lewatkan di detik terakhir, dan untuk sesaat ia merasa seperti berdiri di muka cermin waktu—pemuda yang dulu nekat mendaftar di hari penutupan kini lelaki tiga puluh tiga tahun dengan rambut yang mulai diselingi uban di pelipis.
Enam tahun. Rasanya seperti seumur hidup, dan rasanya seperti kemarin.
Warung kopi Cak Manan, di seberang balai, sudah ramai sejak subuh. Tapi suaranya berbeda dari dulu. Dulu, menjelang Pilkades, warung itu penuh hitung-hitungan amplop, bisik-bisik tentang siapa yang sudah "diamankan" Pak Har, perdebatan tentang berapa harga sebuah suara di dusun ini dan dusun itu. Pagi ini, yang Pram dengar saat melewatinya adalah perdebatan tentang siapa yang paling becus mengurus koperasi, siapa yang rajin turun ke tambak, siapa pemuda yang bisa dipercaya memegang stempel desa. Mereka berdebat tentang kerja, bukan tentang harga.
Ia tahu itu bukan sihir. Bukan karena warga tiba-tiba menjadi suci. Itu karena tak ada lagi uang pasir yang bisa membeli mereka. Tikungan sungai sudah sunyi bertahun-tahun, ekskavator sudah lama diangkut keluar, dan mesin politik yang dulu membayar serangan fajar telah berkarat sampai mati bersama berhentinya truk-truk itu. Tanpa periuk yang bisa dipegang, tak ada yang bisa membeli perut. Dan ketika perut tak bisa dibeli, orang terpaksa memilih dengan kepala.
"Le," suara Cak Manan memanggilnya. Lelaki tua itu menyodorkan kopi tanpa diminta, kebiasaan lama. "Daftar lagi, to? Sudah enam tahun kamu benerin desa ini. Wajar kalau lanjut."
Pram menerima kopi itu, tapi tak menjawab langsung. Ia memandang ke balai desa, ke kursi di dalam sana yang dulu milik Pak Har, yang sudah enam tahun ia duduki. Kursi yang dulu ia perjuangkan dengan darah, fitnah, pengkhianatan, dan benci tetangga. Kursi yang dulu ia kira adalah tujuan.
Ia sudah tahu, sejak malam itu di balai desa yang kosong, bahwa ia tak akan maju lagi sebagai calon utama. Tapi mengucapkannya keras-keras, di hadapan orang yang berharap, ternyata lebih berat dari yang ia kira.
"Cak," katanya pelan, "saya nggak maju."
Kopi di tangan Cak Manan berhenti di udara. Beberapa kepala di warung menoleh. "Lho? Kenapa? Lagi enak-enaknya, desa lagi tenang—"
"Justru karena desa lagi tenang, Cak." Pram meletakkan gelasnya. "Dua belas tahun desa ini cuma punya satu orang. Apa-apa Pak Har. Senang Pak Har, susah Pak Har, salah Pak Har, benar Pak Har. Pas dia tumbang, desa nyaris ikut ambruk karena nggak ada yang biasa berdiri sendiri. Saya nggak mau ngulang itu. Kalau saya maju terus sampai tua, saya cuma jadi Pak Har versi sungai jernih. Tetep satu orang yang dititipi semuanya."
Warung itu hening. Cak Manan mengernyit, mencerna.
"Desa yang sehat itu bukan desa yang punya satu pemimpin hebat," lanjut Pram, suaranya seperti dulu ketika ia melatih anak-anak yang sudah kalah sebelum bertanding. "Desa yang sehat itu desa yang bisa milih pemimpin baru tanpa kiamat. Yang punya banyak orang siap. Dan sekarang kita punya itu. Topik, Yatno, anak-anak koperasi. Mereka tumbuh bukan dari saya nyuapin, tapi dari kerja sendiri."
"Jadi kamu mau dukung Topik?" tanya seseorang dari pojok.
Pram tidak langsung menjawab itu juga. Ia tahu, begitu nama itu keluar dari mulutnya, peta Pilkades langsung berubah. Tapi ia juga tahu satu hal yang lebih penting dari siapa yang ia dukung: bagaimana pemilihan ini harus berjalan.
"Yang saya mau," katanya, "Pilkades ini jadi pemilihan pertama di Kedungwaru yang nggak ditentukan sama perut yang dibeli. Saya nggak mau jadi raja yang nunjuk pengganti. Saya mau jadi orang yang jaga supaya prosesnya bersih. Siapa pun yang maju, biar warga yang milih—dengan kepala, bukan dengan amplop di laci."
Ia keluar dari warung dengan kopi yang belum habis dan langkah yang terasa ringan dan berat sekaligus. Di sepanjang jalan menuju balai, ia melewati pemandangan yang dulu mustahil ia bayangkan: ibu-ibu menjemur ikan asin hasil tambak, anak-anak berangkat sekolah dengan seragam SMK yang dulu nyaris tak terbeli, dan di kejauhan, suara sungai yang mengalir tenang, tak peduli siapa yang akan duduk di kursi itu nanti.
Di teras balai, ia mengambil paku payung dan menempelkan satu lembar kertas tambahan di papan pengumuman, di sebelah pengumuman resmi. Tulisan tangannya sendiri, sederhana: "Pemilihan ini milik kalian. Pilih dengan kepala. Jangan biarkan suara kalian dibeli lagi. — Prabasta."
Ia mundur, memandang papan itu sebentar, lalu masuk ke dalam. Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, ia duduk di kursi kepala desa bukan sebagai orang yang harus mempertahankannya, melainkan sebagai orang yang sedang belajar bagaimana melepaskannya dengan benar. Dan anehnya, kursi itu terasa lebih ringan daripada hari pertama ia mendudukinya.