Topik mengumumkan pencalonannya bukan di balai desa, melainkan di gudang koperasi, di antara karung beras dan keranjang ikan yang baru diangkat dari tambak. Tempat yang tepat, pikir Pram, yang berdiri di pojok mengawasi tanpa banyak bicara. Sebab di gudang itulah, enam tahun lalu, segelintir pemuda menganggur dan mantan penambang putus asa merintis sesuatu yang ditertawakan separuh desa. Kini gudang itu menghidupi puluhan keluarga, dan pemuda sinis tukang main kartu yang dulu ikut sekadar karena bosan, berdiri di depan papan tulis menjelaskan apa yang akan ia lakukan jika dipercaya memimpin desa.
"Aku nggak punya warisan apa-apa," kata Topik, suaranya gugup tapi jujur. "Bapakku cuma kuli muat dulu, pas tambang tutup ya ikut susah kayak yang lain. Aku nggak punya rumah besar, nggak punya uang buat bagi-bagi. Yang aku punya cuma ini—" ia menunjuk keliling gudang, ke karung dan keranjang dan buku catatan koperasi yang tebal, "—catatan enam tahun kerja. Kalian bisa periksa tiap rupiahnya. Itu rekam jejakku. Cuma itu yang aku jual."
Warga yang hadir bukan kerumunan besar. Beberapa puluh orang, kebanyakan keluarga yang ekonominya bersandar pada koperasi dan tambak. Tapi mereka mendengarkan dengan cara yang berbeda dari dulu—tidak menunggu kapan amplop dibagikan, melainkan benar-benar menimbang.
Pram tahu tidak semua mulus. Sore harinya, kabar sampai bahwa Pak Har, dari rumah besarnya yang kini sepi, ikut bergerak. Tua dan sakit-sakitan, ia tak lagi maju sendiri. Tapi ia menyodorkan calon boneka: Sukirman, mantan kepala dusun yang dulu setia padanya, lelaki yang lumayan dikenal dan punya hubungan dengan beberapa keluarga lama. Mesin Pak Har, sekecil apa pun sisanya, kembali berdengung.
"Mereka mau ngulang yang dulu," kata Yatno malam itu, di garasi rumah Pram yang sudah lama tak dipakai rapat. Anak Mbok Surti itu kini lelaki muda berbahu lebar, tangan kanan Topik di koperasi. "Sukirman muter ke dusun-dusun, ngomongin zaman enak waktu tambang masih jalan. Bilang Topik cuma anak kemarin sore yang bakal bikin desa makin miskin."
Pram mendengarkan, tapi tidak panik. Ia ingat dirinya yang dulu—gampang tersinggung, gampang meledak, ingin melawan setiap fitnah dengan teriakan. Ia sudah jauh dari pemuda itu.
"Biarin," katanya. "Topik, kamu jangan adu mulut sama Sukirman soal zaman tambang. Kamu nggak akan menang debat nostalgia. Orang yang kangen pasir, kangennya sama uang cepatnya, bukan sama hancurnya. Kamu nggak usah lawan kenangan. Lawan dengan kenyataan."
Topik mengernyit. "Maksudnya?"
"Bawa mereka keliling. Tunjukin tambak. Tunjukin sungai yang udah ada wadernya lagi. Tunjukin jembatan yang berdiri kokoh, yang dulu hampir ambruk. Tunjukin daftar anak yang sekolah lagi lewat beasiswa koperasi." Pram mencondongkan badan. "Sukirman jualan masa lalu yang udah nggak ada. Kamu jualan masa depan yang udah bisa diraba. Jangan janji apa-apa yang belum kamu kerjakan. Itu kesalahan saya dulu—saya janji didengar tapi belum tahu cara nepatin. Kamu lebih beruntung, Pik. Kamu punya barang bukti."
Di sudut garasi, Pram menyadari betapa berbalik keadaannya. Dulu ialah anak kemarin sore yang nekat melawan petahana tak terkalahkan, tanpa uang, tanpa rekam jejak, hanya bermodal kemarahan dan nama ayahnya. Kini ia duduk sebagai orang yang menasihati anak kemarin sore yang lain melawan sisa mesin lama—dan kali ini, yang muda punya sesuatu yang dulu Pram tak punya: bukti bahwa jalannya bisa berhasil.
Hari-hari berikutnya, kampanye Kedungwaru menjadi sesuatu yang belum pernah disaksikan desa itu. Topik membawa rombongan kecil warga menyusuri tepi sungai, menjelaskan rencana memperluas tambak, menambah jenis ikan, membuka kios pemasaran hasil bumi ke pasar kecamatan. Sukirman menggelar pertemuan-pertemuan dengan teh dan rokok gratis, mengenang masa ketika truk pasir berarti uang melimpah. Dua narasi bertarung: yang satu menjual kerinduan pada kemudahan yang sudah hancur, yang satu menjanjikan kerja keras yang lestari.
Malam sebelum masa tenang, Pram duduk lama di teras balai desa, memandang papan pengumuman. Ia tahu pertarungan ini belum selesai. Sisa mesin Pak Har, sekarat sekalipun, masih bisa menggigit. Tapi untuk pertama kalinya, ia menyaksikan politik desanya bertarung di atas gagasan dan bukti, bukan di atas perut yang lapar. Itu bukan kemenangan yang sempurna. Itu hanya perubahan, perlahan dan tak rapi. Tapi enam tahun lalu, bahkan perubahan sekecil ini adalah hal yang mustahil. Dan ia merasa, untuk yang kesekian kali, bahwa kerja paling sunyi memang yang paling lama membuahkan hasil—tapi buahnya nyata.