Subuh hari pencoblosan, suara azan belum lagi reda ketika kabar pertama sampai ke rumah Pram lewat ketukan tergesa di pintu. Yatno, dengan napas tersengal dan jaket yang dikancingkan asal-asalan, berdiri di teras dengan wajah antara marah dan geli.
"Mereka nyebar amplop, Mas," katanya. "Sukirman, atau lebih tepatnya orang-orang sisa Pak Har. Subuh-subuh tadi, dari rumah ke rumah. Kayak dulu persis."
Pram, yang sudah bangun sejak sebelum azan, hanya mengenakan sandal dan keluar. Pagi masih remang, kabut tipis menggantung di atas jalan desa, dan di kejauhan ia bisa mendengar ayam berkokok bersahutan. Ia tidak terkejut. Sebagian dari dirinya bahkan sudah menunggu ini. Mesin lama, sekarat sekalipun, akan mati dengan cara yang paling ia kenal—menebar uang di kegelapan, berharap perut masih bisa dibeli seperti dulu.
"Berapa per amplop?" tanya Pram, berjalan menyusuri jalan menuju balai.
"Katanya lima puluh ribu. Ada yang dapat seratus." Yatno menyamai langkahnya. "Mas, kita harus apa? Lapor panitia? Kita rekam?"
Pram menggeleng pelan. "Kita jaga. Kayak dulu. Tapi kali ini kita nggak perlu kerja sekeras dulu."
Ia tahu sesuatu yang membuatnya tenang, sesuatu yang baru ia sadari sepenuhnya pagi itu: serangan fajar hanya sakti kalau orang merasa wajib membalas budi. Dulu, amplop subuh dari Pak Har berarti utang yang harus dibayar dengan coblosan, karena Pak Har memang yang memberi makan—lewat tambang, lewat kerja, lewat sekolah anak-anak. Amplop itu cuma menegaskan ikatan yang sudah ada. Tapi Sukirman? Sisa mesin Pak Har? Mereka tak memberi makan siapa-siapa selama enam tahun terakhir. Tambang sudah tutup. Yang menghidupi desa kini adalah tambak, koperasi, jembatan yang diperbaiki, sungai yang pulih. Amplop subuh mereka adalah utang tanpa dasar—uang dari ketiadaan, mencoba membeli rasa terima kasih yang tak pernah mereka tanam.
Di balai desa, TPS sudah dibuka, dan warga mulai berdatangan. Pram tidak berpidato. Ia tidak boleh, ini hari tenang, dan ia pun tak ingin. Ia hanya berdiri di kejauhan, di bawah pohon di seberang balai, mengamati.
Dan ia melihatnya terjadi—hal yang enam tahun lalu hanya berani ia mimpikan.
Bu Lastri, istri nelayan yang dulu sumurnya keruh karena tambang, datang memilih dengan dagu terangkat. Pram tahu ia salah satu yang menerima amplop subuh tadi, karena Yatno menyebut rumahnya. Tapi cara perempuan itu berjalan masuk ke bilik suara, lalu keluar dengan wajah lega, mengatakan segalanya. Ia menerima uangnya—siapa yang menolak rezeki di pagi buta—lalu mencoblos sesuai hatinya.
Di warung Cak Manan, Pram mendengar percakapan yang membuat dadanya hangat. "Lha amplopnya diambil aja," kata seorang lelaki tua sambil terkekeh. "Itu kan duit yang dulu mereka peras dari pasir kita. Sekarang dibalikin dikit ya wajar. Tapi nyoblos? Aku nyoblos yang benerin jembatan, yang bikin anakku bisa sekolah lagi. Masa aku jual desa cuma seharga lima puluh ribu."
Pram hampir tertawa mendengarnya. Inilah yang dulu ia tak pernah berani harapkan: warga yang cukup waras untuk membedakan antara menerima uang dan menjual suara. Dulu, di desa yang lapar, dua hal itu adalah satu. Lapar membuat amplop terasa seperti perintah. Tapi desa yang perutnya sudah agak tenang, yang sudah merasakan dua jalan—pasir yang cepat lalu menghancurkan, dan kerja lambat tapi melestarikan—desa seperti itu bisa menerima uang sambil meludahi maksudnya.
Menjelang siang, Sukirman dan orang-orangnya tampak gelisah. Mereka berkeliling, mencoba membaca arah angin, dan yang mereka temukan membuat wajah mereka muram. Amplop mereka habis, tapi rasa terima kasih yang mereka harap akan terbeli tak kunjung muncul. Taktik yang dulu nyaris menjatuhkan Pram, taktik yang selama dua belas tahun membuat Pak Har tak terkalahkan, kini tumpul, mental dari kulit warga yang telah belajar.
Pram berjalan pulang sebentar untuk salat dan makan, lalu kembali ke bawah pohon di seberang balai. Ia tidak terlibat. Ia tidak perlu. Inilah yang ia perjuangkan, lebih dari sungai dan jembatan dan tambak: bukan sekadar mengganti satu pemimpin dengan pemimpin lain, melainkan mengubah cara desa menjaga suaranya sendiri.
Di bawah pohon itu, mengawasi warga yang datang dan pergi memilih dengan kepala mereka sendiri, Pram menyadari bahwa pelajaran terbesar dari hidupnya yang penuh badai akhirnya berakar. Suara bisa dijaga jujur. Tidak sempurna, tidak untuk selamanya, tapi cukup. Cukup untuk membuat amplop subuh menjadi sekadar uang sisa yang diambil dengan senyum tipis, lalu dilupakan di dalam bilik suara.