Penghitungan suara dimulai senja itu di balai desa, dan Pram, yang berdiri di antara kerumunan warga, terus-menerus dikejutkan oleh satu hal: betapa tenangnya semuanya.
Enam tahun lalu, di ruangan yang sama, penghitungan suara adalah malam paling menegangkan dalam hidupnya. Angka yang merangkak naik-turun, tangan Topik yang gemetar mencatat, saksi-saksi yang saling melotot, kubu Pak Har yang menebar tatapan ancaman, dan akhirnya selisih belasan suara yang langsung disusul gugatan dan sengketa berbulan-bulan. Malam itu, kemenangan terasa seperti pisau yang setiap saat bisa direnggut kembali.
Malam ini berbeda. Kotak suara dibuka di hadapan warga, dijaga oleh warga sendiri. Saksi dari kedua kubu duduk berdampingan tanpa permusuhan yang membara. Panitia membaca tiap surat suara dengan suara lantang, dan setiap kali sebuah nama disebut, kerumunan menggumam—bukan teriakan kemenangan atau caci maki, melainkan gumaman orang-orang yang menyaksikan sesuatu milik mereka sendiri berjalan sebagaimana mestinya.
Pram berdiri di belakang, sengaja tidak di depan. Ini bukan malamnya. Ia hanya penonton, penjaga, orang tua yang melihat sesuatu yang ia tanam tumbuh dengan kakinya sendiri.
Topik unggul sejak coretan pertama, dan keunggulannya melebar dengan tenang. Bukan selisih tipis yang membuat jantung berhenti, melainkan jarak yang sehat, jelas, tak terbantahkan. Di dusun nelayan dan hilir, tempat sungai dulu rusak parah, Topik menang telak—keluarga-keluarga yang air sumurnya pernah keruh tahu betul siapa yang harus mereka percaya. Bahkan di dusun-dusun yang dulu basis tambang, di mana periuk nasi dulu bergantung pada pasir, suara terbelah jauh lebih sehat dari yang Pram duga. Banyak mantan penambang, yang kini bekerja di tambak atau proyek, memilih ke depan, bukan ke belakang.
Sukirman, calon sisa mesin lama, tertinggal jauh. Pram melihatnya duduk di pojok, wajahnya datar, menerima apa yang sudah jelas. Tak ada gugatan yang disiapkan, tak ada saksi yang berteriak curang, tak ada keributan. Sebab tak ada yang bisa digugat dari penghitungan yang sejak awal dijaga terang oleh warga sendiri. Kecurangan tumbuh subur di tempat gelap; di terang benderang seperti ini, ia tak punya tempat bersembunyi.
Ketika angka terakhir dijumlahkan dan ketua panitia mengumumkan hasilnya, balai desa tidak meledak seperti enam tahun lalu. Tidak ada euforia liar, tidak ada pendukung yang tak percaya, tidak ada kubu lawan yang membatu. Hanya tepuk tangan yang hangat dan panjang, dan beberapa pelukan, dan Topik yang berdiri dengan mata berkaca-kaca, mencoba mencerna bahwa ia, pemuda yang dulu cuma datang ke rapat karena bosan, kini kepala desa terpilih.
Pram bertepuk tangan dari belakang, dan untuk sesaat tenggorokannya terasa sesak. Bukan karena Topik menang. Tapi karena cara ia menang.
Ia teringat malam kemenangannya sendiri, selisih tujuh belas suara yang kemudian digugat, kemenangan yang "tak sah" selama berbulan-bulan, beban yang langsung menindihnya bahkan sebelum ia dilantik. Kemenangannya dulu adalah luka yang dibalut perban tipis, kemenangan yang harus terus dipertahankan dengan kuku dan gigi melawan sengketa, fitnah, dan murka tetangga.
Kemenangan Topik ini bersih. Tak ternoda gugatan, tak dibeli amplop, tak digerogoti curiga. Dan itu, Pram menyadari sambil memandang wajah-wajah warga yang menyaksikan sendiri suara mereka dihitung jujur, adalah warisan sesungguhnya dari segala yang ia perjuangkan. Bukan sungai yang pulih saja. Bukan jembatan yang kokoh saja. Tapi ini: sebuah desa yang akhirnya bisa memilih pemimpinnya dengan tenang, di terang, tanpa darah dan tanpa benci.
"Kamu lihat itu, Pak?" gumam Pram pelan, lebih pada ayahnya yang sudah lama tiada daripada pada siapa pun di ruangan itu. "Bukan cuma sungai yang jernih. Caranya kita milih juga jernih sekarang."
Di luar, malam Kedungwaru turun dengan tenang. Tak ada amplop yang ditebar di kegelapan, tak ada telepon ancaman yang berdering, tak ada daftar pemilih yang hilang dibawa pengkhianat. Hanya sungai yang mengalir, dan sebuah desa yang baru saja membuktikan, untuk pertama kalinya, bahwa ia tak lagi membutuhkan suara paling bising untuk menentukan masa depannya.