Serah terima jabatan digelar sederhana di balai desa, di hadapan camat dan warga, persis seperti enam tahun lalu ketika Pram menerima estafet dari Pak Har. Tapi suasananya tak bisa lebih berbeda.
Pram masih ingat hari pelantikannya sendiri. Pak Har hadir, tersenyum di depan kamera, menyalami dengan hangat sambil membisikkan racun ke telinganya—bahwa separuh desa yang hadir adalah orang-orang yang dapurnya bergantung pada apa yang akan Pram tutup. Serah terima itu adalah perang yang disamarkan jadi seremoni. Setiap senyuman menyimpan pisau, setiap salaman adalah ancaman terselubung. Pram menerima kursi yang masih sepenuhnya milik orang lain, dikelilingi perangkat yang setia pada lawannya, di tengah desa yang terbelah dan curiga.
Kini ia berdiri di sisi yang berlawanan, menyerahkan kursi itu pada Topik, dan tak ada satu pun pisau di antara mereka.
Ia melepas selempang jabatan dengan tangannya sendiri dan memasangkannya ke bahu Topik. Pemuda itu—yang kini tak lagi pemuda, melainkan lelaki dewasa dengan tanggung jawab yang baru saja jatuh ke pundaknya—berdiri kaku, mencoba menahan emosi di depan banyak orang.
"Mas," bisik Topik, suaranya nyaris tak terdengar. "Aku belum siap. Kamu tahu aku belum siap."
Pram tersenyum kecil. "Aku juga nggak siap waktu mulai. Nggak ada yang siap. Kalau nunggu siap, kursi ini bakal kosong selamanya." Ia menepuk bahu Topik. "Kamu lebih siap dari aku dulu, Pik. Aku mulai dari nol, kamu mulai dari koperasi yang udah jalan, jembatan yang udah berdiri, sungai yang udah jernih. Tugasmu jauh lebih ringan dari tugasku dulu. Cuma satu yang harus kamu jaga, dan itu yang paling susah."
Setelah seremoni resmi selesai dan kamera-kamera kecil dari kecamatan sudah berhenti memotret, setelah warga mulai membubarkan diri menuju hidangan sederhana di halaman, Pram menarik Topik ke samping, ke teras balai tempat papan pengumuman berdiri.
Mereka berdiri di depan papan itu—papan yang sama tempat enam tahun lalu Pram menempelkan angka-angka pembukuan desa telanjang di hadapan siapa saja yang mau membaca, papan tempat ia menempel pesan tulisan tangan agar warga memilih dengan kepala.
"Kamu lihat papan ini?" tanya Pram.
Topik mengangguk.
"Dulu Pak Har mimpin dua belas tahun, dan papan ini nyaris selalu kosong. Atau isinya cuma pengumuman basa-basi. Karena dia mimpin dari rumah besarnya, dari warung kopi, dari amplop subuh. Apa yang dia kerjakan, apa yang dia belanjakan, nggak pernah ada di sini. Dia kuat karena gelap. Karena nggak ada yang tahu persis apa-apa." Pram menatap Topik. "Aku menang karena kebalikannya. Karena terang. Modal aku dari awal cuma satu, Pik. Bukan uang, bukan koneksi, bukan kepinteran ngurus angka—aku payah soal itu, kamu tahu sendiri. Modal aku cuma kepercayaan. Dan kepercayaan itu tumbuh dari satu hal: orang tahu aku nggak nyembunyiin apa-apa."
Ia menunjuk papan itu. "Apa pun yang kamu kerjakan, taruh di sini. Yang berhasil, taruh. Yang gagal, taruh juga. Yang kamu salah, akui di sini sebelum orang lain nemuin. Pembukuan desa, dana bantuan, hasil koperasi—semua. Telanjang. Karena begitu kamu mulai nyembunyiin satu hal aja, sekecil apa pun, kamu mulai jadi Pak Har. Bukan karena kamu serakah. Tapi karena gelap itu menggoda. Lebih gampang mimpin di gelap."
Topik menelan ludah. "Kamu nggak takut aku ngerusak semua yang udah kamu bangun?"
Pram terdiam sejenak, memandang ke arah sungai yang tak terlihat dari sana tapi selalu terdengar. "Takut," akunya jujur. "Tapi kalau aku terlalu takut buat ngelepas, itu artinya aku nggak pernah benar-benar mbangun apa-apa. Cuma mbangun ketergantungan. Desa ini harus bisa jalan tanpa aku. Kalau enggak, berarti aku gagal—seberapa pun jernih sungainya."
Ia menepuk bahu Topik untuk terakhir kali sebagai kepala desa, lalu turun dari teras balai. Langkahnya menuruni anak tangga yang sama yang dulu ia naiki dengan beban seberat dunia. Kini ia menuruninya dengan tangan kosong, dan tangan kosong itu terasa seperti pembebasan.
Di halaman, seorang anak kecil berlari menabrak kakinya, tertawa, lalu lari lagi. Pram menoleh ke balik, ke arah Topik yang masih berdiri di depan papan pengumuman, memandangnya dengan campuran rasa takut dan tekad. Lingkaran kepemimpinan desa itu telah berputar penuh—dari Pak Har yang merebutnya dengan tangan tertutup, ke Pram yang mempertahankannya dengan tangan terbuka, kini ke Topik yang menerimanya dari tangan yang dengan rela melepaskannya. Dan untuk pertama kalinya, estafet itu berpindah bukan lewat kematian, kekalahan, atau dendam, melainkan lewat tangan yang sengaja ditumbuhkan untuk menggantikan.