Rumah besar itu masih yang paling besar di desa, tapi kini ia terasa seperti cangkang. Pram berdiri di depan pagarnya sebentar sebelum masuk, memandang halaman yang dulu selalu ramai—orang antre minta tolong, sopir truk yang menyetor, tamu-tamu yang datang membawa hormat dan harap. Kini halaman itu kosong, ditumbuhi rumput liar di sela-sela ubin, dengan satu kursi rotan tua di teras tempat seorang lelaki duduk membungkuk, menatap kosong ke jalan.
Pak Har sudah sangat tua. Penyakit yang menggerogotinya selama bertahun-tahun kini tampak jelas di tubuhnya yang menyusut, di tangan yang gemetar, di napas yang berat. Tapi matanya masih sama—mata yang dulu bisa membaca seluruh desa dalam satu pandangan, mata yang dulu tak pernah benar-benar kalah.
"Le," sapa Pak Har ketika melihat Pram mendekat. Suaranya serak, tapi senyumnya, senyum legendaris yang dulu memenangkan tiga periode itu, masih ada di sana—lebih lemah, lebih tulus mungkin, tapi masih ada. "Mau jenguk orang tua yang udah nggak ada gunanya?"
Pram menarik bangku kayu dan duduk di sebelahnya. "Nggak ada yang nggak ada gunanya, Pak."
Pak Har terkekeh, lalu batuk panjang. "Bohong itu nggak cocok di mulutmu, Le. Dari dulu kamu nggak pandai bohong. Itu kelemahanmu—dan, ternyata, kekuatanmu." Ia mengatur napas. "Sukirman kalah telak, to? Aku udah dengar. Mesin itu udah mati. Aku tahu pas nyuruh dia maju, dia bakal kalah. Tapi aku tua, Le. Aku cuma pengin lihat sekali lagi apa masih ada sisa dari yang dulu aku bangun. Ternyata nggak ada. Habis. Bersih."
Keduanya terdiam, memandang jalan desa di kejauhan. Di sana, seorang ibu menjemur ikan asin hasil tambak, dan dua anak berlari membawa layang-layang.
"Sungainya jernih sekarang," kata Pak Har akhirnya, pelan, hampir seperti pada dirinya sendiri. "Aku jalan ke jembatan minggu lalu. Pelan-pelan, pakai tongkat. Lama nggak ke sana. Airnya... airnya jernih, Le. Ada anak-anak main di tepian. Ada ikan kecil-kecil. Aku berdiri di jembatan baru itu, jembatan yang dulu aku biarin keropos, dan aku lihat ke bawah, dan..." Suaranya tersendat. "Dua belas tahun aku mimpin desa ini, dan aku nggak pernah sekalipun berdiri di situ dan ngerasa bangga sama yang aku lihat. Selalu ada yang harus disembunyikan. Selalu ada truk yang harus jalan, ada amplop yang harus dibagi, ada mulut yang harus dibungkam."
Pram tidak berkata apa-apa. Ia sudah belajar bahwa kadang diam adalah penghormatan yang lebih besar daripada kata-kata.
Pak Har menoleh padanya, dan dalam matanya ada sesuatu yang Pram tak pernah lihat sebelumnya—bukan kekalahan, tapi semacam kejujuran yang hanya datang pada orang yang sudah tak punya apa-apa lagi untuk dipertahankan. "Aku kasih desa ini makan, Le," katanya. "Itu bener. Jangan ada yang bilang itu bohong. Waktu desa ini lapar, waktu nggak ada kerja, nggak ada uang, akulah yang kasih mereka periuk. Pasir itu kasih anak-anak mereka sekolah, kasih atap rumah, kasih nasi. Itu bener-bener, dan aku nggak menyesalinya."
Ia berhenti, menarik napas yang sulit. "Tapi aku kasih mereka makan dengan ngegadein sungainya. Ngegadein jembatannya. Ngegadein anak-cucunya. Aku pilih jalan termudah buat kasih makan, terlalu lama, sampai jalan termudah itu nyaris ngubur kita semua." Senyum getir merekah di wajahnya. "Kamu? Kamu kasih desa ini napas. Sungai, udara, air bersih, masa depan. Cuma..." matanya berkilat sedikit, sisa ketajaman lamanya, "...napas nggak bisa dimakan kalau perut kosong, Le. Jangan pernah lupa itu. Jangan pernah jadi sok suci. Inget keluarga-keluarga yang lapar gara-gara kamu nutup tambang. Inget yang pergi mbawa benci. Itu darah di tanganmu, sama kayak sungai keruh itu darah di tanganku. Kita berdua kotor, Le. Cuma kotor kita beda jenis."
Kata-kata itu menusuk Pram, tapi ia menerimanya. Karena benar. Sepenuhnya benar. Ia tahu nama dan wajah keluarga yang ia lukai; ia tak pernah berpura-pura tangannya bersih.
"Saya inget, Pak," kata Pram pelan. "Tiap hari saya inget."
Pak Har menatapnya lama, lalu mengangguk, puas, seolah itulah jawaban yang ia tunggu. "Bagus. Selama kamu inget rasa lapar yang kamu timbulkan, kamu nggak bakal jadi monster yang ngira dirinya malaikat. Itu yang paling bahaya di dunia ini, Le—orang yang yakin dirinya bener seratus persen."
Matahari mulai turun, mewarnai langit Kedungwaru dengan jingga yang pelan. Dua lelaki yang pernah membelah desa itu duduk berdampingan dalam diam, bukan sebagai musuh, bukan sebagai pemenang dan pecundang, melainkan sebagai dua orang yang sama-sama mencoba memberi makan desa yang sama, dengan cara yang berbeda, dan sama-sama membayar harganya.
Ketika Pram pamit dan berdiri, Pak Har menggenggam tangannya, genggaman yang lemah tapi erat. "Terima kasih, Le," katanya, dan Pram tahu lelaki tua itu tak pernah mengucapkan kata itu dengan tulus pada siapa pun selama dua belas tahun berkuasa. "Buat napasnya."
Pram berjalan pulang di bawah langit senja, dan ia tahu ia baru saja menutup salah satu babak terberat hidupnya—bukan dengan kemenangan atas musuh, melainkan dengan perdamaian dengan seorang manusia yang tak pernah benar-benar jahat, hanya manusia yang terlalu lama memilih jalan termudah, dan akhirnya cukup jujur untuk mengakuinya di senja hidupnya.