Surat itu datang lewat Gunawan, yang kini mengurus administrasi koperasi dan menerima kiriman pos desa. Sebuah amplop lusuh dengan cap pos kota, tanpa nama pengirim yang lengkap, hanya inisial dan alamat yang sudah dicoret-ganti beberapa kali. Tapi Pram tahu dari siapa surat itu bahkan sebelum membukanya, dari sesuatu di tulisan tangan yang kaku di sampulnya.
Keluarga Warno.
Dadanya berdebar ketika ia membuka amplop itu di teras rumahnya, sendirian. Nama Warno adalah luka yang tak pernah benar-benar mengering dalam dirinya. Eks-penambang yang tak tertampung program apa pun—terlalu tua untuk proyek jembatan, terlalu skeptis untuk koperasi—yang akhirnya menjual rumah warisan dan merantau ke kota membawa kebencian yang Pram tahu tak akan pernah bisa ia tebus. Tatapan lelaki itu di hari kepergiannya, tatapan tanpa sepatah kata, masih lebih menghantui Pram daripada seluruh fitnah dan ancaman yang pernah ia terima.
Surat itu pendek, ditulis bukan oleh Pak Warno, melainkan oleh istrinya, Bu Warno. Tulisan tangan perempuan, hati-hati, dengan beberapa kata yang salah eja dan dibetulkan.
Isinya bukan amarah. Itu yang pertama mengejutkan Pram. Bu Warno menulis bahwa mereka sudah enam tahun di kota, hidup berhimpitan di kontrakan petak di pinggir rel. Tahun-tahun pertama berat, sangat berat, dan Pak Warno hampir setiap malam menyebut nama Pram dengan kebencian yang membuat anak-anak mereka takut. Tapi anak sulung mereka, yang dulu putus sekolah karena tambang tutup, kini sudah bekerja di sebuah bengkel besar di kota, jadi montir bersertifikat, dan penghasilannya cukup untuk menyewa kontrakan yang lebih layak dan menyekolahkan adik bungsunya sampai lulus SMK. Mereka hidup layak sekarang. Lebih layak, tulis Bu Warno dengan jujur yang menyayat, daripada kalau mereka tetap di desa dan menggantungkan hidup pada pasir yang akhirnya hancur juga.
"Saya tidak menulis ini untuk minta maaf atau memberi maaf," tulis perempuan itu di bagian akhir. "Bapaknya anak-anak masih tidak mau dengar nama sampeyan. Sampai sekarang. Dia bilang sampeyan yang bikin kami terusir dari rumah leluhur kami. Dan itu benar, Le. Itu memang benar. Tidak ada yang bisa mengembalikan rumah yang sudah terjual. Tapi saya cuma mau sampeyan tahu, anak-anak kami hidup. Mereka tidak mati kelaparan seperti yang Bapaknya takutkan. Itu saja. Selebihnya, biar Tuhan yang mengadili siapa benar siapa salah, karena saya sendiri sudah tidak tahu lagi."
Pram melipat surat itu dengan tangan yang sedikit gemetar dan duduk lama di teras, memandang jalan desa yang mulai gelap.
Ia tidak merasa lega. Itu yang membuatnya termenung. Sebagian dari dirinya, sebagian yang masih ingin percaya pada dongeng pahlawan, berharap surat ini akan menjadi penebusan—kabar bahwa keluarga yang ia lukai akhirnya baik-baik saja, sehingga ia bisa berhenti merasa bersalah. Tapi hidup, ia sudah belajar bertahun-tahun lalu, tak pernah serapi itu.
Anak-anak Warno memang hidup layak. Itu nyata, dan itu melegakan. Tapi Pak Warno tetap membencinya, dan kebencian itu tetap sah, tetap berdasar. Pram memang merampas periuk nasi keluarga itu. Ia memang membuat mereka terusir dari rumah leluhur. Tak ada sungai yang jernih, tak ada anak yang jadi montir bersertifikat, yang bisa mengembalikan rumah yang sudah terjual atau menghapus tahun-tahun berat di kontrakan petak pinggir rel. Kebenaran itu utuh, berdiri sendiri, tak bisa ditawar dengan kabar baik.
Dan Pram menyadari, di teras yang mulai gelap itu, bahwa ia harus belajar memegang dua kebenaran sekaligus tanpa membiarkan yang satu menghapus yang lain. Kebenaran bahwa anak-anak Warno hidup, dan kebenaran bahwa Pak Warno tak akan pernah memaafkannya. Kebenaran bahwa keputusannya menyelamatkan banyak orang, dan kebenaran bahwa keputusannya melukai sebagian dengan luka yang takkan sembuh.
Mbok Surti pernah berdamai dengannya. Itu satu jalan. Tapi tidak semua jalan berujung damai, dan ia harus berhenti menuntut rekonsiliasi sebagai harga dari setiap kemenangan. Beberapa orang akan pergi membawa benci, dan benci itu akan mati bersama mereka, tak pernah tertebus. Itu bukan kegagalannya untuk diperbaiki. Itu hanya harga—harga yang ia pilih untuk ditanggung dengan mata terbuka, sejak hari ia nekat mendaftar.
Ia berdiri, masuk ke dalam rumah, dan menyimpan surat itu di laci meja, di sebelah buku tua ayahnya. Bukan untuk dilupakan, melainkan untuk diingat. Untuk berdiri di sana setiap kali ia tergoda menganggap dirinya bersih. Pak Har benar: yang paling berbahaya di dunia ini adalah orang yang yakin dirinya benar seratus persen.
Malam itu Pram tidur tanpa lega, tapi juga tanpa beban yang menindih seperti dulu. Hanya dengan penerimaan yang tenang—bahwa beberapa luka tak akan pernah sembuh, beberapa orang takkan pernah pulang, dan ia harus hidup dengan itu, sama seperti ia harus hidup dengan segala yang ia selamatkan.