“Ehemm, ayo anak-anak udah bel masuk tu” tutur petugas perpustakaan yang melihat siswa yang awalnya saling bertatapan itu yang kemudian jadi salah tingkah karena sempat ketahuan menatap satu sama lain sambil memunguti buku yang terjatuh ke lantai khas ala-ala sinetron di televisi. Keadaan yang justru membuat keduanya salah tingkah hingga bergegas untuk segera berdiri yang secara tak sengaja justru bertubrukan hingga saling beradu jidat.
“Aww” ujar Hana. Tampak Adit pun yang memegang jidatnya karena beradu jidat dengan Hana.
“Maaf Han, nggak sengaja” setelah mereka berdua bertatapan barulah mereka tertawa. Lucu sekali mereka berdua. Tampak mereka berdua berjalan bersisian sambil menahan tawa karena ulah mereka berdua tadi. Kemudian barulah mereka berdua segera menuju ke kelas. Itu pun harus dengan terburu-buru agar bisa sampai ke dalam kelas dengan cepat. Maklumlah bel sudah berbunyi dan mereka masih berada di luar kelas, namun untung saja ketika smapai guru mata pelajarnn belum masuk ke dalam kelas .
Waktu berjalan dengan cepat, akhir pembelajaran pun telah usai hingga tiba saatnya waktu untuk pulang. Adit yang akan pulang mengendarai motornya dan juga Hana yang akan pulang mengemudikan mobil barunya yang baru saja dibelikan untuknya. Tentu saja akan ada pandangan siswa beragam melihat murid baru dengan bawaan mobil baru seperti Hana. Sekadar menuntaskan rasa penasaran dengan cara bergosip antar teman, membicarakan bagaimana sempurnanya seorang anak baru yang bernama Hana tersebut. Seolah membuat para siswi yang sudah lebih dulu populer membuat adanya rasa iri. Maklumlah siapa yang tak ingin kehidupan yang terlihat nyaris sempirna seperti yang dimiliki oleh Hana. Cantik, kaya, dan juga terlihat begitu terpelajar sehingga banyak guru dan teman-teman yang menyukai. Namun bagimanapun juga tentu tak ada manusia yang tanpa celah sehingga menurut orang lain sempurna belum tentu hal yang sama dirasakan oleh Hana.
“Gimana Nyak, udah langsung kerja ya tadi?” tanya Adit kepada Nyaknya, yang ternyata sudah berada di rumah.
“Udah dikasih tau kerjaan apa buat Nyak, alhamdulillah nggak banyak Cuma bersih-bersih dan bantu masak aja Dit” ujar Nyak, rupanya hari ini Nyak masih belum full bekerja, karena masih permulaan bekerja, sepertinya Mama Hana baru menjelaskan sekiranya pekerjaan apa yang harus Nyak kerjakan dan tentu saja Adit senang mendengar bahwa pekerjaan Nyak tak begitu banyak, semoga saja bekerja di sana merupakan jalan rezeki yang tepat bagi keluarga ini. Sebuah rezeki yang sungguh tak disangka, dan salah satu perantaranya melalu keluarga Hana. Kleuarga baik hati yang sudah banyak memberikan kebaikan bagi Adit sekeluarga.
“Assalamualaikum” yang kemudian ucapan salam di balas oleh Nyak, Adhim dan Adit. Kemudian mereka semua bergantian untuk mandi sore dan juga menunaikan shalat Ashar. Pelajaran yang harus selalu diingat, sesulit apapun kita, sesibuk apapun kita. Jangan sampai meninggalkan kewajiban utama yaitu shalat. Pondasi agama yang harus ditegakkan karena bila dasarnya saja sudah rapuh apalagi bangunannya kelak. Nasihat bapak dan Nyak selalu terngiang agar bsisa menjadi anak yang berguna bagi bangsa, negara dan juga ama kelak. Biarlah miskin harta asal jangan sampai miskin ilmu pula. Sebab hanya dengan ilmu lah, kita bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik, cukup Nyak dan Bapak yang hanya tamatan sekolah dasar dan menengah pertama, namun jangan sampai hal itu terjadi kepada anak-anaknya, hingga Nyak dan bapak berusaha keras untuk menyekolahkan Adit dan juga Adhim hingga setinggi mungkin agar mereka berdua bisa mencapai cita-cita yang mereka impikan.setingg-tingginya.
“Pak, kami Sudha berusaha beberapa ini mencari keberadaan benda yang memang sedang bapak cari, tapi masih belum dapt Pak. Kami juga bingung, karena belum ada penjelasan yang lebih detail mengenai di mana fokus keberadaannya”.
“Halahh, kalian ini,a lasan saja, Sudah berapa hari ini, cumin begini-begini aja kerjaan kalian. Bekerja lebih keras lagi, kalo nggak, saya potong bonus kalian. Yasudah, keluar kalian, saya pusing kalau cuma begini-begini aja” terdengar bunyi gebrakan meja, Hana dan mamanya sedikit terkejut karena tak biasanya sang kepala keluarga di rumah ini sampai emosi seperti itu. Lantas, tak lama kemudia, tampak beberapa anak buah Pak Suryo keluar dengan wajah yang murung, seperti ada yang dipikirkan. Maklumlah bila ada pertanyaan yang seolah tergantung di benak Hana dan juga sang istri, karena tak biasanya Papa Hnaa membentak sampai terdengar hingga ke luar ruangan bekerja tempat Pak Suryo kadang menghabiskan waktu untuk mengurus pekerjaannya sebagai pengusaha jual beli barang antik yang cukup tersohor karena penjualannya smapai keluar negeri dan pangsa pasarnya sudah melanglang jauh hingga bila ada tender yang besar otomatis cuan yang didapatkan juga cukup besar. Keuntungan yang bahkan bisa senilai satu rumah mewah di perumahan elit Jakarta. Hasil yang diapat kadang bisa berkali lipat lebih banyak atau bahkan lebih sedikit benda apa yang sudah diperjualbelikan, biasnaya barang antic yang benar-benar langka di hargai mahal, bahkan jika mematok harga tinggi sekalipun aka nada saja yang membelinya. Entah karena hobi atau juga karena sebuah identitas diri, biasanya di kalangan pecinta barang antik memiliki barang yang langka dan juga tak umum semacam prestasu tersendiri yang mungkin sepadan dengan nominal yang harus dikeluarkan/ Berkutat di dunia yang emmpertemukan banyak orang dengan berbagai macam karakter membuat papa Hana harus bisa menikmati semua perjalanan yang ia alami walau tak selamanya semulus yang dibayangkan, akan selalu ada banyak terjal yang harus dilalui bila mengarungi dunia usaha, apalagi sebagai bos yang menaungi bebeapa pekeja. Seperti saat ini yang ternyata masih ada hambatan sehingga proyek yang diusahakan segera selesai namun justru seolah menemukan jalan buntu.
“Kenapa pa?” tanya sang istri ketika suami tercinta keluar dari ruangan kerjanyan.
“Biasa lah ma, masalah ketjaan” ujar sang suami yang terlihat memijit kepalanya yang tiba-tiba pusing karena pekerjaan yang masih belum menemukan titik temu. Terbayang keuntungan yang sangat besar, bila benda yang sedang ia cari bisa ditemukan. Rasanya ada banyak keuntungan yang nanti ia dapatkan bila ia bisa berhasil mendapatkannya, apalagi kalau bukan keuntungan yang berlipat ganda. Tak banyak yang ia tahu perihal benda ajaib tersebut namun pamornya sudah begitu menggiurkan di kalangan pencinta barang antik yang baunya begitu harum karena salah satu benda antik yang berharga jual tinggi lagipula kalaupun tak dijual, ia bisa menggunakannya untuk kebutuhan sendiri..
Sebenarnya anak buah Pak Suryo sudah bekerja dengans edemikian keras namun apalah daya, yang diusahakan belum juga menemukan titik temu. Memang benar, benda tersebut berada di sekitar sini namun tetap saja mencari benda kecil di kawasan pinggiran yang notabene juga dihuni oleh banyak orang sehingga membuat lesulitan bagi tim kerja untuk segera menemukan apa yang sedang di cari. Belum lagi, ada beberapa petunjuk yang sedikit rancu sehingga membuat para anak buah Pak Suryo untuk menerka-nerka apa yang harus di lakukan dan tentu saja membutuhkan banyak pemikiran dan kerja keras.