“Papa yang sabar, namanya kerjaan kan pasti ada pasnag surutnya, lagipula tabungan kita juga masih aman pa” ujar mama Hana menenangkan. Berusaha membuat sang suami tak begitu memikirkan apa yang tengah membuatnya pusing. Sang istri yang sudah menemani sejak lama, tentu tahu bagaimana kompleksnya pekerjaan yang harus diemban sang suami, jadi ketika sudah tahu betapa beratnya pekerjaan yang dijalani oleh snag suami, mama Hana menjadi sedikit menyesal ketika dulu hanya menghabiskan uang untuk kesenangannya saja. Padahal begitu kerasnya suami tercinta untuk mencarikan rezeki halal untuk mama Hana dan juga anak semata wayang mereka berdua yang sebentar lagi akan menyelesaikan pendidikan menengah atas. Tak terasa sebentar lagi akan menjadi anak kuliahan. Anak bayi yang dulunya masih kecil dan seukuran boneka kecil akhirnya sudah menjadi seorang gadis cantik yang menjelang dewasa. Gadis cantik yang mewarisi kecantikan sang mama dan papa yang berbaur menjadi satu sehingga lahirlah Hana yang begitu mempesona hingga banyak yang mengagumi kecantikannya.
Malam ini, usai makan malam dengan masakan yang telah di masak oleh ibu Adit yang ternyata enak, ada menu daging lada hitam yang di buat oleh ibunya Adit dan juga sayur sop kimlo yang segar. Nyak Adit akan bekerja sampai sore saja, karena malam pasti akan digunakan waktunya untuk berkumpul bersama anggota keluarga, jadi makanan yang disajikan sejak sore akan dihangatkan oleh mama Hana, tak ada masalah karena di rumah ini tak harus selalu mengonsumsi masakan yang harus fresh from the oven. Tampak Hana dan juga papa Hnaa lahap dengan masakan sederhana buatan Nyak Adit. Mama Hana pun puas dengan menu masakan yang telah tersaji, ia sendiri bisa belajar lebih banyak agar rasa masakannya bisa seenak buatan Nyak Adit.
“Jadi karena besok Nyak udah mulai kerja di rumah Pak Suryo, habis shalat subuh Nyak udha harus ke sana. Jadi sarapan dan makan siang menunya sama ya, untuk makan malam baru beda. Nyak harus bisa bagi waktu biar kerjaan di rumah dan di sana, bisa beres” ujar Nyak. Otomatis pekerjaan Nyak akan semangat banyak, hingga kerja sama antar anggota keluarga sangat diperlukan. Apalagi Adit begitu sadar bahwa rasa lelah yang sedang di alami oleh Nyak dan juga Bapak adalah demi dirinya juga agar bisa bersekolah lebih tinggi hingga bisa menempuh Pendidikan tinggi seperti yang Adit impikan. Hingga Nyak pun harus turun tangan untuk membantu menopang biduk rumah tangga di zaman sulit ini, zaman di mana smeua kebutuhan serba mahal hingga harus pintar-pintar mengatur keuangan agar tepat sasaran. Jadi wajar bila memang Adit harus membantu mengurus rumah jauh lebih intens daripada sebelumnya, apalagi Nyak yang otomatis waktunya tentu akan banyak terpakai di rumah Hana untuk bekerja. Bapak sendiri memang sering membantu Nyak di rumah sehingga pekerjaan Nyak bisa sedikit berkurang ketika pulang ke rumah. Jnagan di bebankan lagi dengan pekerjaan yang harus dikerjakan. Adit menyenggol Adhim, mengingatkan Adhim juga agar bisa membantu. Misal mencuci piring bekas makan sendiri agar cucian piring tidak semakin menumpuk.
Jauh di dalam hati Bapak Adit, ia merasa bahwa sebagai kepala keluarga masih belum mampu memberikan yang terbaik untuk keluarganya tercinta, maklumlah berbekal Pendidikan yang tak tinggi tentu akan susah untuk mendapatkan pekerjaan hingga akhirnya menjadi tukang ojek di usia yang sudah tak lagi muda, sudah berusia empat puluh tahun lebih pasti juga akan susah untuk menerima. Hingga akhirnya menjalani profesi yang bisa dibilangs emi serabutan, karena ya tidak menentu, kadang pulang bawa uang, kadang juga tidak. Nmaun terkadang ada juga jalan cerita melaui jahitan Nyak yang tiba-tiba ramai, atau bapak yang kebetulan dipercaya untuk bantu-bantu tetangga memperbaiki genteng, ledeng mampet dan lain sebagainya. Rasa syukur yang selalu ditanamkan membuat keluarga Adit selalu mensyukuri apa yang telah diberikan olehNya dengan segala nikmat dan rezeki yang begitu banyak. Tak ada alasan untuk mengeluh dan mengutuk diri karena berbeda dengan orang-orang kebanyakan yang kebetulan hidupnya jauh lebih mapan dan makmur daripada keluarga Adit sendiri. Kerja sama antar anggota keluarga begitu terasa di keluarga ini, saling bantu membantu sehingga pekerjaan apapun menjadi terasa lebih ringan.
Keesokan paginya, Nyak berangkat menuju rumah kediaman Hana tak lama setelah menunaikan shalat subuh. Pekerjaan rumah sudah Nyak selesaikan, sisanya ya harus di bantu oleh Bapak, Adit dan Adhim nantinya seperti mencuci piring bekas makan, menyapu lantai yang kotor dan lainnya karena Nyak pasti akan pulang sore menjelang magrib karena sesuai dengan perjanjian di awal. Sebenarnya siang Nyak boleh pulang, namun berpikir daripada bolak balik jadi untuk menu makan siang pun di rangkap dengan menu sarapan, tak lupa ada simpanan telur dan juga mie yang bisa di masak ketika mungkin bosan dengan menu makanan yang ada.
“Wahh, pagi banget Bik” ujar Hana ketika membukakan pintu untuk Nyak Adit. Kebetulan memang mama sudah memberi tahu bahwa hari ini Nyak Adit akan mulai bekerja. Hana tahu bahwa mama dan papanya sering terlambat bangun membuat Hana berinisiatif untuk bangun lebih pagi dan kemudian memutuskan untuk baring di kursi ruang tamu sambil memainkan ponselnya.
“Ehh, neng Hana udah bangun. Rajin sekali neng?” ujar Nyak Adit yang kemudian masuk ke dalam rumah setelah memastikan Bapak Adit melajukan roda duanya kembali ke rumah. Hana kemudian kembali ke kamar setelah Nyak Adit yang ia panggil dengan sebutan bibik tersebut memulai rutinitasnya di dapur.
Nyak Adit kemudian mulai menyiapkan sarapan sesuai arahan tuan rumah ketika kemarin datang ke rumah ini. Nyak Adit diberikan kebebasan untuk mengolah menu makanan apa yang ada di kulkas, kebetulan untuk urusan belanja biasanya bahan-bahan sudah disiapkan oleh mama Hana hingga Nyak Adit tak perlu sibuk untuk membeli sayuran segar di pasar atau di penjual sayur keliling karena pasti akan membuang waktu, oleh karena itulah semua urusan perdapuran semua sudah tersedia toh bila ada yang kurang tinggal bilang saja, begitu yang mama Hana ucapkan sebab ia ingin membuat siapapun yang bekerja di rumah.
Tampak Adit dan Adhim bergantian menyapu dan mengepel setelah shalat subuh tak lama usai Nyak berangkat bekerja. Bapak pun ikut membantu, jadi tidak hanya Nyak yang bekerja namun mereka semua turut membantu agar tidak kelabakan ketika harus membiasakan diri ketika Nyak bekerja. Hari pertama aman saja, semoga siang sampai soren pun tetap aman saja. Sambil menyiapkan sarapan, Nyak juga langsung membereskan perkakas dapur yang kotor dan langsung mencucinya. Satu demi satu orang rumah pun bangun, yang pertama tentu saja Hana yang memang mau berangkat ke sekolah hingga bangun lebih pagi, barulah kemudian mama Hana yang kemudian membantu untuk membuatkan s**u untuk Hana, dan kopi untuk suami tercinta.
“Gimana Bik, ada bahan yang kurang?” tanya mama Hana ketika melihat hidangan yang telah tersedia. Tampak sangat menggugah.
“Aman Bu, kalau ada yang kurang nanti saya laporan” ujar Nyak Adit smabil tersenyum.