Anggota keluarga Hana makan dengan lahap. Makanan yang diolah oleh Nyak Adit memang selalu enak dan sangat menggugah selera hingga bagi siapapun yang merasakan makanan yang telah diolah sedemikian rupa oleh Nyak Adit menjadi terpukau dan juga merasa ketagihan. Orang rumah saja selalu memuji masakan yang Nyak Adit hasilkan padahal dengan bahan-bahan yang sederhana namun jadi lebih makanan yang bercita rasa tinggi.
“Hai Dit, pagi” sapa Hana ketika Hana baru masuk ke dalam kelas dan berpapasan dengan Adit yang kebetulan juga baru datang.
“Pagi juga Han” sapa Adit, tak lupa diiringi senyum manis yang membuat Hana menjadi salah tingkah karenanya. Adit pun merasakan hal yang juga sama karena Hana begitu mempesona. Membuat siapapun yang memandang wajah teduh nan cantik jelita.
Bel masuk tanda jam pelajaran pertama akan segera di mulai namun karena belum ada guru yang masuk jadi masih ada beberapa kesempatan untuk sekadar berbincang santai dengan teman, maklumlah jam pertama semacam menjadi pintu gerbang untuk[A1] menjalani hari yang akan dilewati. Adit dan Hana tampak sangat dekat karena memang ada banyak hal yang bisa mereka berdua bicarakan. Terlebih sejak Nyak Adit bekerja di rumah kediaman Hana sehingga ada saja yang mereka bicarakan, pujian Hana dan juga keluarga untuk rasa masakan yang dibuat oleh Nyak Adit sehingga mereka berdua semakin asyik membahas banyak tema. Tema yang bisa di angkat untuk menjadi bahan perbincangan selanjutnya. Hingga pembicaraan mereka terhenti sejenak untuk beberapa saat.
Pembelajaran berjalan dengan baik, Adit belajar dengan sedemikian rupa, terlebih karena sudah kelas dua belas yang tinggal menghitung waktu saja akan berubah menjadi anak kuliahan bila memang memutuskan untuk menjadi anak kuliahan nantinya, keberadaan sumpit ajaib yang Adit miliki tentu akan berpengaruh besar bagi kehidupan Adit nantinya. Padahal jikalau Adit menggunakannya untuk banyak hal tentu sangat bisa karema kemampuan sumpit ajaib tersebut sungguh sangat luar biasa hingga membuat banyak orang berjuang untuk mendapatkannya karena kegunaannya yang sungguh luar biasa.
“Hari ini kita mau masak apa Bik?” tanya mama Hana ketika Bik Aroh sednag mempersiapkan bahan-bahan yang akan diolah menjadi masakan yang lezat.
“Masak rendang, acar sama capcay Bu” ujar Nyak Adit sambil menyiapkan bahan-bahan yang akan diolah menjadi menu masakan yang beraneka ragam dan juga bergizi untuk memenuhi kebutuhan bergizi untuk keluarga Pak Suryo. Makan siang dan makan malam nanti akan disajikan menu yang berbeda, jadi untuk menu siang ini akan berbeda lagi dengan menu makan malam, namun karena Nyak Adit akan pulang sore menjelang magrib, jadilah sajian untuk makan malam pun di buat lebih awal agar urusan rumah juga tidak ikut terbengkalai. Nyak paham benar ketika memutuskan untuk bekerja tentu saja pasti akan ada perubahan yang terjadi di rumah. Biasanya Nyak akan sering untuk membereskan apapun yang menurutnya tidak rapi dan segera untuk mengerjakan pekerjaan tanpa menunda-nunda lagi. Entah akan seperti apakah rumah hari ini, semoga saja tak seamburadul yang di bayangkan walaupun tak berharap banyak agar rumah bisa serapi seandainya Nyak di rumah saja tanpa bekerja di luar untuk membantu perekonomian keluarga.
“Saya tu suka pusing Bik, Hana ada aja kelakuannya yang kadang bikin saya dan papanya kadang kesel sama dia” ujar mama Hana. Nyak Adit mendengarkan dengan saksama, apa yang tengah majikannya bicarakan. Wajar bila sesama yang memiliki posisi sebagai seorang ibu terkadang mengeluhkan kelakuan anaknya yang ada saja tingkahnya yang membuat jengkel, mengelus d**a bahkan hingga mungkin menimbulkan amarah bagi setiap ibu yang menjalani hari-hari dengan segala tingkah polah anaknya yang bermacam-macam itu.
“Mungkin neng Hana sedang ingin diperhatikan Bu. Biasanya anak-anak memang suka diperhatikan, karena kadang-kadang anak-anak di rumah juga seperti itu Bu” ujar Nyak Adit mencoba untuk memberikan umpan balik. Setelahnya kemudian sosok ibu yang jarak usianya selisih beberapa tahun tersebut sudah asyik membicarakan perihal anak masing-masing dengan segala tingkah dan polahnya yang terkadang membuat jengkel namun juga ada banyak hal lain yang meyenangkan. Saling bertukar kisah sehingga bisa sedikit banyak saling menguatkan dan memberikan dukungan. Maklumlah seorang ibu terkadang tanpa sadar membandingkan antara anak satu dengan anak lainnya hingga tanpa sadar menyakiti hati dan juga perasaan anak.
Sajian makanan yang sudah disiapkan bersama pun telah siap, ada beberapa menu makanan yang tersaji di meja makan untuk makan siang nanti. Menu makanan yang menggugah selera buatan Nyak Adit pun seolah ingin segera untuk dieksekusi. Semuanya tampak lezat dan wangi yang ditimbulkan begitu mengusik rongga penciuman.
Hana dan juga Adit tengah menikmati semangkuk bakso di kantin sekolah. Jam pelajaran sedang kosong karena para guru tengah mengadakan rapat untuk membahas persiapan untuk kelas dua belas yang sebentar lagi akan melakukan ujian dan juga persiapan untuk melakukan acara perpisahan yang rutin di gelar setiap tahunnya. Sehingga ada banyak yang akan di bahas oleh para guru di pertemuan nanti. Tampak kedua sejoli yang dianggap oleh teman-temannya dan juga yang melihat keakraban mereka berdua, tentu saja ada pandangan iri dari para siswa yang tentu terbersit rasa iri melihat kedekatan Adit yang memang salah satu siswa yang cukup populer di tambah dengan kedekatan Adit dengan Hana yang tampaknya seperti semakin hari semakin dekat sehingga menimbulkan banyak tanya bagi mereka-mereka yang ingin tahu lebih banyak perihal kedekatan Hana dan Adit.
“Makasih ya Han, repot-repot segala buat nraktir aku” ujar Adit yang baru saja menghabsikan semangkuk bakso dan hanya meninggalkan sedikit kuah yang berwarna kemerahan karena percampuran saus, kecap, cuka dan juga sambal yang telah diaduk sedemikian rupa untuk menambah cita rasa dari semangkuk bakso di kantin sekolah ini, maklumlah Adit bukanlah tipikal anak yang suka jajan, apalagi di tengah kondisi keuangan yang serba tak menentu sehingga ia lebih sering menahan lapar atau sekadar jajan makanan ringan bukan mengonsumsi makanan berat seperti bakso yang telah selesai ia nikmati bersama Hana, Hana yang memang berkelebihan uang jajan tentu sudah terbiasa memiliki banyak uang jajan yang terbilang besar untuk anak sekolah seusia mereka.
Tak terasa waktu pulang sekolah tibalah sudah, Hana berniat untuk mengantarkan Adit yang kebetulan di antar oleh Bapak untuk berangkat sekolah.
“Bareng aku aja Dit” tawar Hana pada Adit yang tampak bersiap untuk pulang. Memang tak terlihat Adit mengendarai motornya speerti biasa, setelah Hana tanyakan barulah Hana tahu bahwa motor yang biasa Adit pakai di gunakan oleh bapak Adit untuk mengojek, maklumlah motor tua juga yang di gunakan oleh Bapak Adit sehingga sering kadang-kadang mati dan mesti diperbaiki agar bisa hidup kembali.