Mbah Jum menuangkan air sumur ke dalam mangkuk tembikar, lalu menaburinya garam sampai permukaannya keruh. Ia tidak melihat ke Lana saat berbicara. Ia melihat ke air, seolah air itu yang harus mendengar.
"Kamu kira utang itu cuma soal nyawa," kata perempuan tua itu. Suaranya serak, seperti tali timba yang lama tak dipakai. "Sebagian besar memang cuma nyawa. Tumbal. Satu orang, sekali satu generasi. Disetorkan ke bawah, dimakan, selesai. Yang di bawah kenyang, desa selamat, panen melimpah. Begitu terus sejak Eyang Kromo."
Lana duduk di lincak bambu di dusun seberang, dua puluh langkah dari rumah panggung Mbah Jum. Kabut pagi belum benar-benar pergi meski matahari sudah tinggi. Ia menggosok telapak tangannya yang berbau lumpur — bau yang sudah berminggu-minggu tak bisa ia cuci hilang.
"Tapi Mbah bilang aku beda."
"Kamu beda." Mbah Jum akhirnya menatapnya. Mata tuanya berair, entah karena usia atau karena hal lain. "Tumbal itu makanan, Nduk. Sekali makan, habis. Tapi sekali dalam berapa generasi, yang di bawah tidak cuma lapar. Ia ingin keluar. Ia tidak bisa keluar dari air — kamu sudah tahu itu. Ia menjangkau lewat embun, lewat keringat, lewat air mata, lewat sumur. Tapi ia tidak bisa berjalan. Tidak bisa menginjak tanah kering dengan kakinya sendiri, karena ia tidak punya kaki."
Mbah Jum berhenti. Tangannya yang keriput mengaduk air garam itu pelan-pelan.
"Maka ia butuh tubuh. Tubuh hidup, dari garis darah penjaga. Bukan untuk dimakan. Untuk dipakai. Untuk dipakai berjalan keluar dari sumur, ke desa, ke jembatan, ke jalan tanah itu, terus ke kota-kota di hilir Kali Suwung. Tubuh yang sudah ditandai sejak ia menyentuh segel." Ia menunjuk telapak Lana dengan dagunya. "Tubuh yang tangannya bau lumpur dan tak bisa dicuci. Itu yang namanya wadah."
Lana merasa dingin merayap dari tulang ekornya ke tengkuk. "Dan aku—"
"Kamu wadah, Nduk." Mbah Jum mengucapkannya tanpa ampun, karena ampun tidak akan menolong siapa pun di sini. "Tumbal cuma mati. Wadah lebih buruk dari mati. Wadah hidup, tapi bukan dia lagi yang hidup di dalam tubuhnya."
Di luar, seekor burung tak bernyanyi. Tidak ada burung di Karangwungu, Lana baru sadar — sama seperti tidak ada anjing.
"Buka lenganmu," kata Mbah Jum tiba-tiba.
Lana ragu. Lalu ia menggulung lengan baju kanannya sampai siku, lalu lebih tinggi lagi. Dan ia melihatnya — apa yang sejak beberapa hari ini ia kira hanya pembuluh darah yang kelelahan, kurang tidur, kurang minum air yang benar. Di bawah kulit lengannya, urat-urat halus tidak lagi kebiruan. Mereka menghitam. Bukan hitam memar. Hitam seperti lumpur. Hitam seperti air sumur yang dalamnya tak pernah kena cahaya. Garis-garis tipis itu bercabang dari pergelangan tangannya ke atas, persis seperti — Lana menahan napas — persis seperti peta aliran air bawah tanah yang pernah ia lihat di buku catatan Mbah Surti. Seperti akar. Seperti sungai yang mengalir ke dalam, bukan ke luar.
"Astaga," bisiknya. Ia menekan kulitnya. Urat hitam itu tidak hilang ditekan. Ia tidak terasa sakit. Itu yang paling menakutkan — tidak terasa apa pun, seolah lengan itu sudah bukan miliknya sepenuhnya.
"Itu dia matang," kata Mbah Jum. "Pelan-pelan. Lewat air. Tiap kali kamu mandi pakai air sumur, tiap kali kamu minum, tiap kali kabut menempel di kulitmu, tiap kali kamu nangis — dia naik sedikit. Sekarang sudah sampai sini." Ia mengetuk siku Lana dengan satu kuku. "Kalau sudah sampai dada, sampai leher, sampai mata—"
"Apa yang terjadi kalau sampai mata?"
Mbah Jum tidak menjawab langsung. Ia menuang air garam dari mangkuk itu ke tanah, dan tanah menyerapnya dengan suara desis pelan. "Kalau sudah sampai mata, Nduk, kamu tidak akan tanya lagi apa yang terjadi. Karena yang bertanya bukan kamu lagi."
Lana menarik lengan bajunya turun, menutupi urat hitam itu seolah dengan menutupinya ia bisa membatalkannya. Tangannya gemetar. "Bisa dihentikan? Diperlambat?"
"Garam memperlambat. Besi tua memperlambat. Jauhi air sumur. Jangan minum dari gentong. Tampung air hujan—" Mbah Jum berhenti. "Tidak. Jangan air hujan. Di sini bahkan hujan pun miliknya kalau ia mau. Rebus air sampai mendidih lama, taburi garam, baru minum. Jangan menangis kalau bisa. Air mata itu pintu yang kamu buka dari dalam, tak ada garam yang menjaganya."
"Aku tidak bisa berhenti menangis, Mbah." Suara Lana pecah. "Ibuku— Bayu— semuanya—"
"Maka kamu harus belajar." Mbah Jum meraih tangan Lana, untuk pertama kalinya menyentuhnya tanpa garam sebagai perisai. Genggaman tua itu kering dan dingin. "Karena sekarang tubuhmu bukan cuma punyamu. Tiap tetes yang keluar dari matamu adalah jalan yang kamu bukakan untuknya naik. Ia menunggu kamu lemah. Ia paling sabar saat kamu paling sedih."
Lana menatap perempuan tua itu. Di pupil Mbah Jum, sekejap, ia mengira melihat pantulan dirinya sendiri — tapi pantulan itu basah kuyup, rambutnya menetes, dan ia tersenyum. Lana berkedip. Pantulan itu kembali kering, ketakutan, seperti dirinya.
"Berapa lama lagi aku punya?" tanya Lana.
Mbah Jum melepas tangannya. Ia kembali menatap ke tanah yang basah oleh air garam, seakan membaca sesuatu di sana.
"Empat puluh hari sejak Mbah Surti mati," katanya. "Hari ini hari ke tiga puluh delapan. Sisanya kamu hitung sendiri, Nduk. Tapi ingat — wadah tidak harus matang penuh dulu untuk dipakai. Kalau ia putus asa, kalau ia cukup lapar, ia akan memakai apa yang ada. Setengah matang pun ia ambil. Dan setengah matang lebih sakit, karena yang setengah lagi masih kamu, masih sadar, masih bisa merasakan dirimu sendiri tenggelam."
Di kejauhan, dari arah Karangwungu, terdengar suara timba beradu dengan bibir sumur. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Lalu sunyi.
Mbah Jum menengadah ke arah suara itu. Wajahnya tidak berubah, tapi tangannya meraih kantung garam di pinggangnya tanpa ia sadari.
"Pulang sebelum magrib," katanya. "Dan Nduk — mulai sekarang, jangan percaya pada apa pun yang basah."