Bayu datang ke joglo lewat pintu samping, bukan pintu depan, dan itu sendiri sudah memberi tahu Lana bahwa sesuatu sedang bergeser di desa.
"Ada yang harus kamu dengar," katanya. Ia tidak duduk. Ia berdiri dekat jendela, melirik ke jalan tanah yang berkabut. "Tapi ini rahasia. Kalau ketahuan tetua, orang-orang yang aku bawa ini bisa celaka."
Di belakang Bayu, di bawah teras joglo, berdiri empat orang. Tiga laki-laki muda — Lana mengenali satu di antaranya, Ngadiman, anak penjual bensin eceran di ujung desa — dan satu perempuan, Yu Tarmi, yang biasa berjualan sayur. Mereka semua memegang sesuatu di tangan: bungkusan garam, paku berkarat, untaian bawang putih. Tanda orang yang takut, dan tanda orang yang sudah lelah takut diam-diam.
"Kami nggak mau lagi," kata Ngadiman, suaranya rendah. "Bapak saya ikut yang dulu-dulu. Ikut menyiapkan tumbal. Sampai mati dia nggak pernah bisa tidur tanpa lampu nyala. Saya nggak mau jadi seperti dia. Saya nggak mau anak saya nanti ikut juga."
"Karjo itu sepupu saya," kata salah satu yang lain. Suaranya bergetar menyebut nama pemuda yang ditemukan mati kering di dasar Sumur Kulon. "Tetua bilang dia tenggelam. Dia nggak tenggelam. Badannya kering kayak gabuk. Kalian semua tahu. Semua orang di desa ini tahu, cuma pura-pura nggak tahu."
Lana memandangi mereka satu per satu. Mereka muda. Mereka semua muda. Yang tua, yang sudah ikut bertahun-tahun, yang sudah berlumur, tidak ada di sini. Yang datang adalah generasi yang belum sempat sepenuhnya tenggelam dalam diam.
"Kalian tahu apa yang kalian lawan?" tanya Lana. Ia harus bertanya. Ia tidak boleh membiarkan mereka berdiri di sampingnya tanpa tahu bahwa berdiri di sampingnya mungkin sama dengan menggali kubur sendiri. "Bukan cuma tetua. Bukan cuma Pak Lurah. Yang di bawah itu—"
"Kami tahu, Mbak," potong Yu Tarmi pelan. "Justru karena kami tahu, kami di sini. Kalau Mbak menyerah, kami semua yang berikutnya. Anak-anak kami. Adik-adik kami. Ini nggak akan berhenti sendiri. Selama ada yang mau bayar utang itu, ia akan terus nagih."
Untuk pertama kali sejak ia menginjakkan kaki di Karangwungu, Lana merasakan sesuatu yang asing di dadanya — bukan harapan, ia terlalu lelah untuk berharap, tapi sesuatu yang lebih kecil dan lebih keras. Tidak sendirian. Setidaknya untuk malam ini, tidak sepenuhnya sendirian.
"Pak Lurah sudah tahu kalian goyah," kata Bayu. "Tadi sore dia kumpulkan tetua di balai. Sulastri ada di sana. Mereka tahu desa mulai terbelah. Dan Darmojo bilang—" Bayu menelan ludah. "Dia bilang, siapa pun yang menghalangi 'keselamatan desa' akan dianggap ikut menanggung utang. Itu ancaman, Lana. Itu cara halus bilang: kalau kalian melawan, kalian yang akan jadi tumbal berikutnya."
Lana menatap keempat warga itu. "Pulanglah. Kunci pintu. Taburi garam. Jangan menimba malam ini, jangan minum dari gentong. Besok kita pikirkan langkah."
Mereka mengangguk dan pergi satu per satu, menyelinap ke dalam kabut yang mulai menebal seiring sore turun. Bayu tinggal. Ia dan Lana berdiri di teras, memandangi punggung-punggung yang lenyap.
"Aku takut untuk mereka," kata Lana.
"Aku juga," kata Bayu.
Malam itu, ketakutan mereka terbukti, tapi tidak dengan cara yang bisa dilakukan manusia mana pun.
Lana terbangun menjelang dini hari oleh suara — bukan suara timba kali ini, melainkan suara orang menjerit, jauh, lalu dekat, lalu jauh lagi, berpindah-pindah dari satu sudut desa ke sudut lain. Ia menyalakan senter dan keluar ke teras. Bayu, yang tidur di balai-balai depan agar Lana tidak sendirian, sudah berdiri di halaman, wajahnya pucat.
"Sumur," katanya. "Sumurnya."
Mereka berlari ke arah suara, ke rumah Ngadiman di ujung desa. Sudah ada beberapa orang berkerumun di sekitar sumur halaman rumah itu, memegang obor dan senter. Ibu Ngadiman duduk di tanah, menangis, menggumam doa.
Lana mendekat ke bibir sumur. Bayu mengarahkan senternya ke bawah.
Air sumur itu merah. Bukan merah pekat seperti darah segar — merah encer, merah pucat, seperti darah yang sudah dilarutkan air berember-ember, merah yang membuat perut Lana terbalik justru karena ia begitu tipis, begitu menyebar, begitu banyak. Dan baunya — bau anyir besi bercampur lumpur, bau yang sama persis dengan yang merembes dari celah beton Sumur Ketujuh.
"Punya saya juga," kata seseorang dari kegelapan. Yu Tarmi. Wajahnya berlinang air mata. "Sumur saya juga jadi begini. Dan rumah Pak Marto. Dan rumah—"
Ia tidak perlu meneruskan. Lana sudah paham. Ia mengangkat senternya, menyapu wajah-wajah yang berkerumun. Semua wajah ini, semua yang sumurnya berubah jadi darah malam ini — mereka semua adalah yang datang ke joglo sore tadi. Yang memilih sisinya. Yang berani berdiri di sampingnya.
Yang di bawah sudah menandai mereka. Bukan untuk dimakan — belum. Untuk diperingatkan. Untuk menunjukkan, kepada siapa pun yang berpikir untuk berpihak pada Lana, bahwa airnya, sumber hidup mereka, ada di dalam genggaman tangan yang basah.
"Ini salahku," bisik Lana.
"Bukan," kata Bayu keras, mencengkeram lengannya. "Ini caranya menakuti kita supaya kita berpencar lagi. Jangan kasih dia menang dengan cara itu."
Tapi saat Lana memandangi air merah encer yang perlahan, perlahan sekali, tampak beriak meski tak ada angin, ia tahu satu hal dengan pasti: desa sudah memilih sisi, dan sisi yang memilihnya kini ditandai dengan warna darah di dalam sumurnya sendiri.