Sulastri datang ke joglo siang itu membawa rantang dan senyum, seolah malam sebelumnya tidak terjadi apa-apa, seolah enam sumur warga tidak baru saja berubah merah.
"Aku bikin gudeg," katanya, meletakkan rantang di meja tanpa diminta. "Kamu pasti nggak makan bener-bener dari kemarin. Lihat, badanmu kurus begitu. Mbah Surti pasti sedih lihat cucunya begini."
Lana tidak menyentuh rantang itu. Ia sudah belajar — dari Mbah Jum, dari semua yang ia baca — untuk tidak memasukkan apa pun ke tubuhnya yang dimasak dengan air desa ini, terlebih dari tangan Sulastri. "Apa maumu, Bibi?"
Senyum Sulastri tidak goyah, tapi ada yang berubah di matanya. Ada lapar di sana. Lapar yang berbeda dari lapar perut. "Aku cuma mau kita rukun, Nduk. Kita keluarga. Cuma kita berdua sekarang yang punya darah Eyang Kromo di nadi. Cuma kita."
"Kamu bukan garis penjaga." Lana mengamatinya. "Catatan Mbah Surti jelas. Garis penjaga lewat perempuan tertua, lurus dari Eyang Kromo. Kamu cabang yang lain. Kamu kerabat, tapi bukan—"
"Bukan yang ditandai." Sulastri menyelesaikan kalimat itu, dan suaranya tiba-tiba dingin, terbuka, tidak lagi bersembunyi di balik gudeg dan senyum. Ia duduk tanpa dipersilakan. "Ya. Aku tahu itu, Nduk. Kamu pikir aku nggak tahu? Seumur hidupku aku tahu. Aku yang menjaga senthong waktu Mbah Surti sakit. Aku yang menghafal tanggalan utang. Aku yang tahu nama-nama yang berhenti tiap generasi, lebih hafal dari kamu yang baru datang kemarin sore. Aku yang seharusnya jadi penjaga."
Ia mencondongkan tubuh ke depan. Lana mencium bau dari napasnya — bukan bau gudeg. Bau lumpur. Lemah, tapi ada.
"Tapi yang di bawah nggak mau aku," lanjut Sulastri, dan ada getir yang menusuk dalam suaranya. "Aku sudah menawarkan diri. Kamu tahu itu? Tiga malam lalu aku berdiri di depan beton itu dan aku bilang: pakai aku. Ambil aku. Aku rela jadi wadahmu. Aku akan membawamu keluar, ke mana pun kamu mau. Tapi dia diam. Tahu kenapa dia diam, Nduk?"
Lana tidak menjawab. Ia tidak perlu. Sulastri menjawabnya sendiri, dan air mata mulai menggenang di mata perempuan paruh baya itu — air mata kemarahan, bukan kesedihan.
"Karena dia cuma mau garismu. Bukan garisku. Darahku nggak cukup murni untuknya. Bayangkan itu — bahkan iblis pun menolakku, memilih kamu, kamu yang nggak pernah peduli pada desa ini, yang dulu dititipkan pergi ke kota, yang sekarang mau menghancurkan semua yang dijaga keluarga kita selama tujuh generasi!"
"Tujuh generasi pembunuhan," kata Lana pelan. "Bukan penjagaan. Pembunuhan, Bibi."
Sulastri berdiri begitu cepat sampai kursinya terjengkang. "Kamu nggak ngerti apa-apa! Tanpa utang itu, desa ini mati! Pagebluk! Kemarau! Kamu kira panen melimpah turun begitu saja dari langit? Itu dibayar! Tiap butir beras di desa ini dibayar dengan nyawa, dan keluarga kita yang membayarnya supaya orang lain bisa hidup! Itu pengorbanan! Itu kehormatan!"
Saat ia berteriak, Lana melihatnya dengan jelas di cahaya yang masuk dari jendela. Separuh wajah Sulastri — sisi kiri, dari pelipis turun ke rahang — basah. Berkeringat? Bukan. Basah seperti baru keluar dari air. Kulitnya berkilau, menetes pelan ke kerah bajunya, sementara separuh wajah lainnya kering sempurna. Dan saat Sulastri berteriak, mata kirinya yang berada di sisi basah itu menatap Lana dengan tatapan yang bukan tatapan Sulastri — kosong, dalam, sabar.
"Bibi," kata Lana, mundur selangkah. "Wajahmu."
Sulastri berhenti. Tangannya naik perlahan menyentuh pipi kirinya. Ia merasakan basah itu. Dan untuk sesaat — satu detak jantung saja — wajahnya berubah, ketakutan murni melintas, Sulastri yang asli muncul kembali, terjebak, ngeri pada apa yang merangkak masuk ke dalam dirinya lewat tawaran sia-sianya sendiri.
"Aku cuma mau dipakai," bisiknya, dan air mata akhirnya jatuh dari mata kanannya yang kering, sementara sisi kirinya yang basah tetap menetes dengan tenang. "Aku cuma nggak mau ditolak. Seumur hidup ditolak, Nduk. Kamu nggak tahu rasanya."
Lalu sisi basah itu menang lagi. Wajah Sulastri mengeras. Ia meraih rantangnya, dan saat ia berbalik untuk pergi, ia berkata dengan suara yang setengah miliknya dan setengah bukan:
"Kamu akan berubah pikiran. Cepat atau lambat. Dan saat itu tiba, aku akan ada di sana untuk membantu menahanmu tetap diam." Ia tersenyum, dan sisi kiri bibirnya yang basah ikut tertarik terlambat sepersekian detik. "Karena kalau aku nggak bisa jadi wadahnya, setidaknya aku bisa jadi tangan yang mendorongmu ke bawah."
Pintu joglo tertutup di belakangnya. Lana berdiri sendirian, menatap rantang gudeg yang ditinggalkan, dan ia melihat — atau mengira melihat — uap tipis naik dari permukaan kuahnya, uap yang berbau bukan santan, melainkan lumpur sumur.