Mereka menangkap Bayu pada hari ke tiga puluh sembilan.
Tuduhannya disampaikan dengan tenang, di balai desa, di hadapan tetua yang duduk berjajar seperti hakim. Pak Lurah Darmojo memimpin, wajahnya seramah biasa, dan justru keramahan itulah yang paling membuat Lana ngeri.
"Sumur Wetan rusak," kata Darmojo. Ia berbicara pelan, seolah menjelaskan pada anak kecil. "Dindingnya ada yang menggali. Garam di dasarnya dibuang. Paku-paku tua yang menjaganya dicabut. Ada yang sengaja membuka jalan supaya yang di bawah bisa bocor ke sumur warga." Ia menatap Bayu, yang berdiri dengan tangan dipegangi dua warga di kanan-kiri. "Dan ada yang melihat kamu di Sumur Wetan dua malam lalu, Bayu."
"Aku di sana karena menyelidiki kenapa sumur warga jadi merah!" Bayu berontak, tapi cengkeraman dua laki-laki itu kuat. "Aku nggak menggali apa pun! Kalian yang merusaknya supaya bisa menyalahkan—"
"Ada saksi," potong Darmojo lembut. Ia melirik ke samping, dan Sulastri melangkah maju dari bayang-bayang.
"Aku lihat dia," kata Sulastri, dan suaranya jernih, meyakinkan, tanpa cacat. Sisi kiri wajahnya, Lana perhatikan, sudah kering hari ini — entah ia bisa menyembunyikannya, atau yang di bawah membiarkannya kering supaya kesaksiannya tampak waras. "Tengah malam. Dia di Sumur Wetan, mencabut paku-paku, membuang garam ke tanah. Aku takut, jadi aku diam saja waktu itu. Tapi sekarang sumur-sumur warga jadi merah, dan aku nggak bisa diam lagi."
Lana berdiri di belakang kerumunan, dan ia tahu — semua orang di ruangan ini tahu — bahwa ini kebohongan yang dirancang rapi. Bayu adalah sekutunya yang paling kuat, jembatannya ke warga, satu-satunya yang bisa berdiri di antara dunia kota dan dunia desa. Singkirkan Bayu, dan Lana sendirian. Itu seluruh tujuannya.
"Pak Lurah," kata Lana keras, memaksa jalan ke depan. "Kalian tahu ini fitnah. Bayu tidak akan pernah membuka jalan untuk yang di bawah. Justru dia yang melawan—"
"Justru itu masalahnya, Nduk Lana." Darmojo memutar tubuhnya ke arah Lana, dan untuk pertama kalinya keramahan di wajahnya menipis sedikit, cukup untuk memperlihatkan besi di baliknya. "Orang yang melawan keseimbangan desa, kadang tanpa sadar justru merusaknya. Niat baik bisa membuka pintu yang lebih buruk dari niat jahat. Bayu kita amankan dulu. Demi keselamatannya sendiri. Demi keselamatan kita semua."
Mereka membawa Bayu ke gudang tua di belakang balai. Lana ingin mengikuti, tapi dua warga menghalanginya dengan tubuh mereka — bukan kasar, tapi tegas, tembok daging yang sopan. Ia hanya bisa melihat Bayu diseret ke pintu kayu yang berat, dan sebelum pintu itu tertutup, mata mereka bertemu sekejap. Bayu tidak takut untuk dirinya, Lana bisa membacanya. Bayu takut untuk Lana, yang kini akan sendirian.
Malam itu, Lana tidak bisa tidur. Ia teringat sesuatu yang pernah Bayu ceritakan, jauh sebelum semua ini — tentang gudang di belakang balai, gudang yang dulu, kata orang-orang tua, dipakai untuk "menyiapkan" tumbal sebelum diserahkan. Tempat mereka dikurung, dipuasakan, dimandikan dengan air sumur sampai tubuhnya "jenuh" oleh air desa, supaya yang di bawah lebih mudah menerima mereka.
Ia tidak bisa membiarkan Bayu semalaman di tempat itu.
Lana menyelinap keluar joglo lewat tengah malam, menembus kabut, menyusuri sisi jalan tanah supaya tidak terlihat dari jendela rumah-rumah. Gudang itu gelap, dijaga satu orang yang duduk mengantuk di bangku depan, obor di sampingnya hampir padam. Lana menunggu di balik pohon sampai penjaga itu benar-benar terkantuk, dagunya jatuh ke dada.
Ia mengendap ke sisi gudang, mencari celah. Dinding kayunya tua, papan-papannya renggang. Ia menempelkan wajah ke salah satu celah dan berbisik.
"Bayu. Bayu, ini aku."
Sesaat hening. Lalu suara Bayu, serak, dari dalam kegelapan. "Lana? Kamu gila, pulang. Kalau ketahuan—"
"Diam dan cari papan yang longgar." Tapi saat mata Lana menyesuaikan diri dengan kegelapan di balik celah, ia melihat ke dalam gudang, dan napasnya tercekat.
Dinding bagian dalam gudang itu penuh goresan. Bukan ukiran. Bukan tulisan. Cakaran. Cakaran kuku manusia, ribuan, bertumpuk-tumpuk, dari setinggi pinggang sampai sejauh tangan bisa menggapai ke atas — bekas orang-orang yang dulu dikurung di sini, mencakar dinding kayu sampai kukunya tanggal, mencoba keluar dari tempat yang mempersiapkan mereka untuk diberi makan ke bawah. Sebagian cakaran itu sudah hitam dimakan usia. Sebagian — Lana menahan agar tidak muntah — sebagian masih kecokelatan, masih ada serpihan kuku yang menancap di kayunya.
"Lana," bisik Bayu dari dalam, suaranya bergetar sekarang, "ada cakaran di sini. Banyak sekali. Dan— aku merasa— aku merasa lantainya basah. Lana, lantainya basah, padahal nggak ada air—"
"Aku akan mengeluarkanmu," kata Lana, tangannya sudah mencari-cari papan yang bisa dicabut. "Malam ini juga. Bertahan."
Dari kejauhan, dari arah pusat desa, terdengar suara timba beradu dengan bibir Sumur Tengah. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Seolah sesuatu sedang menghitung, sabar, sambil menunggu mereka.