Papan ketiga yang dicoba Lana akhirnya menyerah. Pakunya sudah berkarat, kayunya lapuk di pangkalnya, dan dengan satu tarikan yang membuat seluruh tubuhnya tegang takut suaranya membangunkan penjaga, papan itu terlepas. Celah cukup lebar untuk satu tubuh.
"Cepat," bisiknya.
Bayu menyusup keluar, badannya yang tinggi harus dipaksa miring lewat celah sempit itu, dan saat ia akhirnya berdiri di sisi luar gudang, Lana melihat wajahnya di bawah cahaya bulan yang menerobos kabut. Pucat. Berkeringat dingin meski udara gunung menusuk. Di tangannya, ujung-ujung jarinya, ada noda gelap — dan untuk sesaat Lana takut Bayu juga sudah ikut mencakar dinding gudang itu.
"Lantainya basah," kata Bayu lagi, masih terguncang. "Sumpah, Lana, nggak ada bocoran, nggak ada apa-apa, tapi lantai gudang itu basah dan dingin, dan makin lama makin naik. Aku duduk dan air itu— air itu naik sampai mata kakiku. Aku denger juga. Aku denger orang-orang mencakar, padahal cuma aku di dalam."
"Sudah. Kamu sudah keluar." Lana mencengkeram lengannya. "Sekarang kita pergi. Kita bawa buktinya — daftar nama, catatan, foto — kita keluar dari desa, kita ke kota, kita lapor ke siapa pun yang mau dengar."
Mereka bergerak cepat, menyusuri sisi gelap balai, menjauh dari penjaga yang masih tertidur. Rencana Lana sederhana sampai pada titik kenekatan: ambil bukti dari joglo, lalu jembatan Kali Suwung, lalu jalan tanah keluar, lalu kota. Sederhana. Mustahil. Tapi diam saja lebih mustahil lagi.
Kabut menebal saat mereka mendekati joglo. Bukan menebal biasa — menebal seperti dituangkan, seperti ada yang menumpahkan susu ke udara. Dalam sepuluh langkah, Lana tidak lagi bisa melihat kaki Bayu di sampingnya, hanya merasakan tangannya. Dalam dua puluh langkah, ia tidak yakin lagi apakah mereka berjalan ke arah joglo atau menjauhinya.
"Bayu, kamu masih di sini?"
"Di sini." Suaranya di samping kanannya. Lalu, anehnya, dari samping kirinya: "Di sini, Lana." Sama persis. Suara yang sama.
Lana berhenti. Jantungnya berhenti. "Bayu. Pegang tanganku. Sekarang. Jangan lepas."
Ia merasakan tangan menggenggam tangannya. Hangat. Bayu. Ia mencengkeramnya, dan mereka terus berjalan menembus kabut yang seolah hidup, yang seolah memutar mereka, karena Lana yakin mereka sudah berjalan cukup jauh untuk sampai ke joglo tiga kali, tapi yang ada di bawah kaki mereka selalu jalan tanah, jalan tanah, jalan tanah yang sama.
Lalu suara air. Gemericik. Dekat. Mereka hampir menabrak bibir batu sebuah sumur sebelum Lana sempat berteriak. Sumur Pengilon — ia mengenali pelataran batunya. Tapi Sumur Pengilon ada di sisi lain desa. Mereka berjalan ke arah berlawanan dari joglo. Atau desa yang memindahkan mereka.
"Kita tersesat," kata Lana, suaranya hampir pecah. "Kabut ini— ini bukan kabut biasa, Bayu, ini—"
"Ini dia." Bayu menyelesaikan. "Tiap kali aku coba pergi dari desa ini, ada saja yang menahan. Aku dulu mengira aku cuma sial. Sekarang aku tahu. Dia nggak mau ada yang keluar."
Mereka berdiri di sisi Sumur Pengilon, dan dalam kabut, di permukaan air yang biasanya jernih seperti cermin, Lana melihat dua sosok memantul — dirinya dan Bayu. Tapi pantulan itu bergerak terlambat. Saat Lana mencengkeram tangan Bayu lebih erat karena takut, pantulan dirinya di air baru mencengkeram sepersekian detik kemudian. Dan pantulan Bayu — pantulan Bayu tersenyum, padahal Bayu di sampingnya tidak.
Lana memalingkan wajah dari air. "Jangan lihat ke bawah," katanya. "Apa pun yang terjadi, jangan lihat ke air."
Mereka duduk membelakangi sumur, punggung bertemu punggung, menunggu kabut menipis, karena bergerak hanya membawa mereka lebih dalam ke labirin yang dibuat sesuatu untuk mereka. Dan dalam diam itu, dengan punggung Bayu hangat menempel di punggungnya, Lana merasakan sesuatu yang ia tidak punya tempat untuk merasakannya — di tengah semua teror ini, ada kelegaan kecil yang konyol karena tidak sendirian, karena ada satu orang yang punggungnya bisa ia percayai untuk menjaga sisi yang tak bisa ia lihat.
"Lana," kata Bayu pelan, tanpa berbalik. "Kalau kita keluar dari ini hidup-hidup—"
"Jangan." Lana memejamkan mata. "Jangan bilang 'kalau'. Jangan janjikan apa pun. Di tempat ini, janji itu jadi jalan masuk untuknya."
Tapi Bayu meraih tangannya lagi di belakang punggung mereka, dan menggenggamnya, dan Lana tidak menariknya. Dan jauh di dasar pikirannya, kutukan yang ia baca di catatan terngiang seperti lonceng kematian, kata-kata istri Eyang Kromo sebelum tenggelam: tiap dari kalian akan mencintai sebelum membunuh. Ia menggenggam tangan Bayu lebih erat justru karena ia takut, takut bahwa menggenggamnya adalah awal dari kehilangannya.
Kabut mulai menipis menjelang fajar. Dan mereka mendapati diri mereka, entah bagaimana, duduk di teras joglo — seolah desa, setelah puas mempermainkan, mengembalikan mereka ke tempat mereka berangkat, untuk menunjukkan satu hal saja: kalian tidak akan ke mana-mana.