Sesuatu retak dalam diri Lana setelah malam di kabut itu, dan ia tahu apa yang Mbah Jum maksud sekarang — bahwa horor terbesar bukan yang di bawah, melainkan tidak bisa lagi mempercayai apa yang dilihat mata sendiri.
Itu terjadi tiga hari setelahnya, sore, di halaman belakang joglo, dekat rumpun bambu kuning yang menjaga Sumur Ketujuh. Bayu sedang memeriksa pagar bambu — mereka berjaga bergantian sekarang, takut Sulastri atau tetua datang merusak segel. Lana keluar membawa dua gelas air rebus bergaram untuk mereka berdua.
Dan ia melihatnya.
Bayu yang berdiri membelakanginya, di antara bambu kuning, dengan kabut sore mulai turun di sekitarnya — Bayu yang basah. Seluruh tubuhnya basah, menetes, pakaiannya menempel di kulit seolah baru ditarik dari sumur, dan air menetes dari ujung jarinya ke tanah, satu tetes, dua tetes, dan tanah menyerapnya dengan desis pelan. Kepalanya miring sedikit, terlalu miring, dan saat ia perlahan berbalik, wajahnya — wajah Bayu, tapi matanya kosong, dalam, sabar, mata yang sama yang Lana lihat di sisi basah wajah Sulastri.
"Lana," katanya, dan suaranya gemericik. "Akhirnya. Sini. Kemari ke sumur. Tidak ada yang pergi di sini, Lana. Ibumu ada di sini. Aku ada di sini. Tidak ada yang pernah meninggalkanmu lagi."
Kedua gelas jatuh dari tangan Lana, pecah di lantai teras. Ia mundur, lalu sesuatu yang lebih dingin dari ketakutan mengambil alih — kemarahan, keputusasaan, kelelahan yang menumpuk berhari-hari. Ini dia. Ini yang merebut semua orang darinya. Ini yang merasuki Sulastri, yang membunuh Karjo, yang menenggelamkan ibunya. Dan sekarang ia memakai wajah Bayu.
Lana berlari ke arahnya. Tidak untuk memeluk. Untuk mendorong. Untuk mendorong sosok basah itu ke dalam Sumur Ketujuh, untuk mengembalikan yang di bawah ke tempatnya di bawah, untuk mengakhiri ini dengan tangannya sendiri—
"LANA!"
Tangannya menabrak dada Bayu. Bayu — kering, terkejut, ngeri — terhuyung ke belakang, tumitnya tersangkut akar bambu, tubuhnya oleng ke arah celah pagar, ke arah mulut sumur yang ber-cor di baliknya. Lana melihat matanya. Mata Bayu yang sebenarnya. Cokelat, hidup, penuh kebingungan dan luka karena perempuan yang ia percayai baru saja mencoba mendorongnya mati.
Lana mencengkeram bajunya di detik terakhir, menariknya kembali dengan seluruh sisa tenaganya. Mereka jatuh berdua ke tanah, terengah, di antara bambu kuning, sejengkal dari beton sumur.
"Itu kamu," bisik Lana, gemetar hebat, menatap wajah Bayu yang kering, basah hanya oleh keringat, matanya hidup. "Itu kamu. Sejak tadi itu kamu. Astaga, Bayu, aku— aku lihat kamu— kamu basah, matamu—"
"Aku kering, Lana." Bayu duduk, napasnya berat, satu tangannya menyentuh dadanya tempat Lana mendorongnya. Ia tidak marah. Itu yang membuatnya lebih buruk. Ia hanya takut — bukan pada apa yang nyaris terjadi padanya, tapi pada apa yang sedang terjadi pada Lana. "Aku berdiri di sini meriksa bambu. Aku nggak ke mana-mana. Kamu— kamu lihat aku jadi dia."
Lana menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangan yang berbau lumpur. "Aku nggak bisa percaya mataku lagi," katanya, dan air mata menerobos keluar sebelum ia bisa menahannya — air mata yang, ia tahu, ia tahu, adalah pintu yang ia bukakan untuknya. "Aku hampir membunuhmu. Aku lihat kamu sejelas aku lihat tanganku sendiri, dan itu bohong. Bagaimana aku tahu kapan harus percaya? Bagaimana kalau lain kali aku nggak sadar tepat waktu?"
Bayu meraih pergelangan tangannya, menariknya lembut dari wajahnya. Dan apa yang ia katakan berikutnya menghentikan jantung Lana lebih dari semua yang sudah terjadi.
"Lana." Suaranya rendah, ragu, seperti seseorang yang akan mengaku dosa. "Aku juga melihat hal-hal."
Lana terdiam.
"Sejak gudang itu," kata Bayu. "Sejak lantai basah itu. Aku— kadang aku lihat kamu basah. Seperti yang kamu lihat barusan, tapi kebalikannya. Aku lihat kamu menetes air, dan kamu memanggilku ke sumur, dengan suaramu, persis suaramu. Kemarin malam aku hampir— aku hampir berjalan ke Sumur Tengah karena kamu di sana memanggilku, dan aku tahu kamu lagi tidur di joglo, tapi aku tetap hampir pergi."
Mereka duduk di antara bambu kuning, dua manusia di ambang sumur, masing-masing baru sadar bahwa yang di bawah tidak lagi cuma menyerang mereka dari luar. Ia sudah masuk. Ia memakai mereka satu sama lain — memakai wajah yang paling mereka cintai sebagai umpan, sehingga senjata mereka, kewaspadaan mereka, justru bisa berbalik menusuk yang harus mereka lindungi.
"Kita nggak bisa saling percaya lagi," kata Lana pelan. "Itu yang dia mau. Dia memutus tali terakhir."
"Maka kita bikin aturan," kata Bayu, mencengkeram tangannya erat, kering, nyata. "Kalau salah satu dari kita memanggil dari dekat air, dari dekat sumur — jangan pernah datang. Apa pun yang dia bilang. Apa pun suaranya. Aku yang asli nggak akan pernah memanggilmu dari sumur. Janji itu padaku."
Lana mengangguk. Tapi dalam hatinya, ngeri yang lebih dingin merayap: bagaimana kalau suatu hari, yang memanggil dari sumur, dengan suaranya sendiri, adalah dirinya yang asli — yang sudah matang, yang sudah jadi wadah, yang tak lagi tahu bahwa ia memanggil?