Lana menyeberang ke dusun Mbah Jum dengan satu pertanyaan yang membakar lubang di dadanya, pertanyaan yang sudah tumbuh sejak ia membaca bagian terlarang catatan Mbah Surti, tentang dukun muda yang ikut menenggelamkan tumbal generasi lalu.
Ia tidak perlu bertanya. Mbah Jum sudah menunggunya di tangga rumah panggung, dan dari cara perempuan tua itu memandangnya, Lana tahu bahwa Mbah Jum tahu pertanyaan apa yang ia bawa.
"Kamu sudah baca semuanya," kata Mbah Jum. Bukan pertanyaan.
"Ibuku." Suara Lana datar, dingin, karena kalau ia membiarkannya hangat ia akan hancur. "Generasi lalu. Tumbal yang seharusnya diberikan Mbah Surti. Catatan bilang ada dukun muda yang membantu. Yang menyiapkan ritual. Yang ada di sana saat ibuku ditenggelamkan."
Mbah Jum tidak memalingkan wajah. Itu, mungkin, satu-satunya kehormatan yang masih bisa ia berikan — menatap mata anak dari perempuan yang ia bantu bunuh.
"Aku," katanya. "Dukun muda itu aku."
Lana sudah tahu. Ia sudah menduganya sejak halaman itu. Tapi mendengarnya keluar dari mulut Mbah Jum sendiri tetap terasa seperti pukulan ke ulu hati. Ia harus berpegangan pada tiang tangga.
"Aku masih muda waktu itu," kata Mbah Jum, dan suaranya tidak membela diri, hanya menceritakan, seolah ia sudah berlatih menceritakannya pada dirinya sendiri ribuan malam. "Belajar dari dukun-dukun tua. Aku percaya pada keseimbangan, pada utang, pada semua yang mereka ajarkan. Aku percaya bahwa satu nyawa demi seluruh desa adalah perhitungan yang adil. Aku belum tahu — atau aku tidak mau tahu — bahwa nyawa itu punya wajah. Punya nama. Punya anak."
Ia berhenti, dan tangannya yang keriput meremas ujung kebayanya.
"Ibumu namanya Wulan. Dia cantik, Nduk, secantik kamu, dan dia tidak mau. Dia melawan. Sampai akhir dia melawan. Mbah Surti — ibu kandungnya sendiri — yang harus menyerahkannya, karena tugas penjaga adalah membayar utang, dan aku—" suara Mbah Jum pecah, akhirnya, retakan tipis di benteng tuanya, "—aku yang membaca mantranya. Aku yang menabur garam di tepi sumur supaya dia tidak bisa naik. Aku yang menjaga supaya ritual itu 'bersih'. Tanganku, Nduk. Tangan ini."
Lana menatap tangan tua itu. Tangan yang sama yang beberapa hari lalu menggenggamnya, mengajarinya kidung, mencoba menyelamatkannya. Tangan yang sama yang dulu menahan ibunya agar tenggelam.
"Kenapa Mbah membantuku sekarang?" tanya Lana, dan suaranya gemetar antara amarah dan keputusasaan. "Setelah semua itu, kenapa?"
"Karena Mbah Surti mengubahku." Mbah Jum duduk berat di tangga, seolah berat tahun-tahunnya tiba-tiba turun menimpanya sekaligus. "Setelah ibumu, Mbah Surti tidak pernah sama lagi. Dia menutup diri. Dia menyumpah tidak akan pernah membayar tumbal lagi, apa pun harganya. Dan dia membawamu — bayi merah, sisa dari Wulan — dan dia titipkan ke kota, jauh, supaya kamu tidak pernah tahu desa ini ada. Supaya kamu tidak pernah jadi yang berikutnya. Dia memilih memikul kutukan itu sendirian, membiarkan utang menggantung, daripada menyentuh kamu."
Mbah Jum menengadah menatap Lana, dan air mata mengalir di kerut-kerut wajahnya tanpa ia hapus.
"Aku tidak bisa mengembalikan Wulan. Tidak ada garam, tidak ada kidung, tidak ada dukun yang bisa. Tapi aku bisa menebus dengan satu hal — memastikan kamu, anaknya, tidak ikut ke bawah. Itu sebabnya aku membantumu, Nduk. Bukan supaya kamu memaafkanku. Aku tidak minta itu. Aku tidak pantas itu. Aku membantumu supaya saat aku mati nanti — sebentar lagi, aku merasakannya — aku bisa menghadap Wulan dan bilang: anakmu hidup, dan aku ikut menjaganya tetap hidup, sebagai bayaran sekecil-kecilnya atas apa yang tidak akan pernah bisa kubayar."
Lana berdiri di kaki tangga, di hadapan perempuan tua yang adalah pembunuh ibunya dan satu-satunya orang yang bisa mengajarinya cara melawan. Dua kebenaran yang tidak bisa berdiri bersama, tapi keduanya benar. Ia harus memilih: menolak Mbah Jum dan kehilangan satu-satunya gurunya, atau menerima bantuan dari tangan yang berlumur darah ibunya.
Di dalam dirinya, ia mendengar dua suara. Satu menyuruhnya berbalik pergi, membenci, tak pernah kembali. Satu — suara yang lebih jernih, lebih dingin, suara perempuan kota yang dulu rasional dan kini hanya ingin bertahan hidup dan memutus kutukan — menyuruhnya tetap.
"Ajari aku kidungnya sampai habis," kata Lana akhirnya, suaranya parau. "Bagianmu. Sekarang. Sebelum Mbah mati, sebelum aku berubah pikiran, sebelum aku berubah jadi sesuatu yang lain. Ajari aku, Mbah Jum. Karena kalau aku menolak bantuanmu cuma karena tanganmu kotor, aku akan mati dengan tangan yang kotor juga, dan ibuku mati sia-sia dua kali."
Mbah Jum menatapnya lama. Lalu ia mengangguk, dan dari balik kebayanya ia mengeluarkan secarik kain tua, lusuh, ditulisi aksara Jawa dengan tinta yang sudah memudar — separuh kidung pengunci yang ia simpan selama ini.
"Duduk," katanya. "Dan dengarkan baik-baik. Ini bahasa yang tidak boleh salah satu suku kata pun. Salah satu saja, dan yang di bawah tidak akan tidur — ia akan bangun."