Malam hari ke tiga puluh sembilan lalu, mereka bertiga — Lana, Bayu, dan Mbah Jum — membongkar makam Mbah Surti, dan menemukan kafan kosong basah dan separuh kidung yang lain tertulis di selembar kulit yang dijahit ke dalam lipatan kain. Mbah Jum sendiri yang berdiri menjaga malam itu, garam di satu tangan, kidung di bibir, menyaksikan peti terbuka dari dalam. Kengerian malam itu — makam yang menganga dari dalam, kafan kosong yang basah, betapa mereka nyaris tidak menemukan tulisannya — masih membekas pada mereka bertiga. Tapi mereka menemukannya. Dan kini, di rumah panggung Mbah Jum, kedua separuh kidung tergeletak berdampingan di atas tikar untuk pertama kalinya dalam mungkin puluhan tahun.
"Separuh Mbah Surti, dan separuh aku," kata Mbah Jum, tangannya melayang di atas kedua kain itu tanpa berani menyentuhnya sekaligus. "Dipisah dengan sengaja oleh leluhur kita. Supaya tidak ada satu orang pun yang bisa menyanyikan kidung utuh sendirian. Supaya yang di bawah tidak pernah bisa ditidurkan tanpa dua penjaga sepakat. Itu pengaman. Dan itu juga kutukan — karena selama kidung terpisah, ia tidak pernah benar-benar bisa dikunci."
Lana menyusun keduanya, membaca dari kiri ke kanan, separuh ke separuh, dan untuk pertama kalinya seluruh mantra itu utuh di hadapannya. Aksara Jawa kuno, bahasa yang lebih tua dari bahasa yang dipakai siapa pun di desa sekarang. Ia tidak memahami artinya, tapi Mbah Jum sudah mengajarinya bunyinya, suku kata demi suku kata, selama dua malam terakhir.
"Bacakan," kata Mbah Jum. "Pelan. Dan bersiaplah — ia akan merasakannya. Ia selalu merasakan saat seseorang mencoba menidurkannya."
Lana mulai menyanyi.
Suaranya rendah, ragu di awal, lalu mantap saat nada-nada lama itu menemukan jalannya. Kidung itu bukan lagu yang indah. Ia berat, melankolis, seperti tangisan yang ditahan, seperti air yang mengalir ke bawah, ke bawah, ke bawah. Dan saat suku kata-suku kata kuno itu mengisi udara malam, sesuatu di luar berubah.
Gentong air di sudut rumah Mbah Jum mulai beriak. Tidak ada angin. Permukaan air itu bergetar, lalu beriak makin keras, seolah ada yang mengaduknya dari dalam. Mbah Jum menatapnya dan mencengkeram lengan Lana. "Teruskan. Jangan berhenti di tengah. Berhenti di tengah lebih buruk dari tidak memulai."
Lana terus menyanyi. Di luar, jauh, dari arah Karangwungu, ia bisa mendengarnya — sebuah suara rendah, dalam, yang bukan angin dan bukan air, sebuah geraman yang merambat dari tanah, dari bawah tanah, dari kedalaman tempat sesuatu yang sangat tua tidak suka diganggu tidurnya. Geraman itu menyusup ke tulang Lana, membuat giginya bergemeletuk, tapi ia terus, suku kata demi suku kata, sampai bait terakhir, sampai nada penutup yang turun seperti tubuh tenggelam.
Lalu hening. Gentong berhenti beriak. Geraman di tanah lenyap.
Lana terengah, basah oleh keringat dingin. "Aku— aku melakukannya. Kidung utuh."
"Tidak," kata Mbah Jum, dan wajahnya kelabu. "Kamu membacanya. Itu beda dengan mengaktifkannya. Yang barusan cuma membuat ia gelisah, membuat ia tahu kamu punya kuncinya. Untuk benar-benar mengunci — untuk menidurkannya dalam, atau untuk mengikatnya sebagai segel — kidung harus diberi darah. Darah penjaga. Darah garis Eyang Kromo. Tanpa darahmu, kidung cuma syair. Dengan darahmu, ia jadi rantai."
Lana memandangi telapaknya, yang berbau lumpur, yang uratnya kini menghitam sampai ke pergelangan. "Berapa banyak darah?"
"Tergantung apa yang kamu minta dari kidung." Mata Mbah Jum gelap. "Untuk menidurkannya sebentar — beberapa tetes. Untuk mengikatnya jadi segel selamanya—" Ia tidak menyelesaikan. Ia tidak perlu. Lana sudah membaca aturannya di kitab catatan: satu-satunya cara memutus siklus selamanya adalah seorang penjaga turun ke sumur secara sukarela, membawa nama sejatinya, mengikat diri jadi segel hidup. Darah seluruhnya. Nyawa seluruhnya.
"Tidak sekarang," kata Mbah Jum cepat, membaca wajah Lana. "Jangan pikirkan yang itu sekarang. Sekarang kita cuma butuh ia tahu kita bersenjata. Pulang. Simpan kidung utuh ini—" ia menggulung kedua kain jadi satu, mengikatnya dengan benang merah, "—di tempat kering, jauh dari air. Dan jangan pernah menyanyikannya lagi tanpa aku, sampai waktunya tiba."
Tapi waktunya, ternyata, tidak menunggu izin siapa pun.
Lana belum sampai separuh jalan pulang ke joglo saat ia mendengarnya — jeritan, dari arah Sumur Lor di utara, dekat masjid. Jeritan anak-anak. Ia berlari, kabut menampar wajahnya, dan saat ia sampai, sudah ada warga berkerumun, obor menyala, dan ibu seorang anak meraung-raung di tepi Sumur Lor.
"Tarik dia! Tarik anakku!"
Mereka sudah menariknya keluar. Seorang anak laki-laki, mungkin tujuh tahun, basah kuyup, menggigil, matanya kosong. Ia masih hidup — nyaris. Tapi ceritanya, yang dibisikkan dari mulut ke mulut di kerumunan, membuat darah Lana membeku: anak itu sedang tidur di rumahnya, lalu bangun, berjalan dalam tidur, menembus pintu yang terkunci, menyeberangi desa, dan menjatuhkan diri ke dalam Sumur Lor — tepat saat, di dusun seberang, Lana menyanyikan kidung untuk pertama kalinya.
Ia membalas. Yang di bawah membalas. Lana mencoba menidurkannya, dan ia menjawab dengan menyeret seorang anak ke air, untuk menunjukkan: kau punya kidungmu, dan aku punya seluruh air di desa ini, dan tiap kali kau menyanyi untuk mengunciku, aku akan menarik salah satu dari mereka untuk membayar lagumu.
Lana berdiri di tepi kerumunan, kidung utuh tergulung di balik bajunya terasa berat seperti batu, dan ia mengerti, dengan kengerian yang dingin, bahwa senjata yang baru saja ia dapatkan punya harga yang akan dibayar oleh orang lain — kecuali, suatu hari nanti, ia bersedia membayarnya sendiri, dengan darahnya, seluruhnya.