Darmojo tidak mau menunggu lagi. Hari ke tiga puluh sembilan, satu hari sebelum empat puluh hari habis, ia mengumpulkan faksinya dan memutuskan akan membayar utang itu sendiri — atas nama Lana, dengan atau tanpa izinnya.
Lana mengetahuinya dari Yu Tarmi, yang datang berlari ke joglo dengan napas tersengal menjelang senja. "Mereka sudah ambil orangnya," katanya. "Gelandangan tua itu, yang biasa tidur di emperan pasar. Pak Lurah bilang dia 'tak punya siapa-siapa', jadi 'tak ada yang kehilangan'. Mereka bawa dia ke Sumur Ketujuh, Mbak. Mereka mau menyerahkannya malam ini supaya utang lunas atas namamu."
"Mereka tidak bisa." Lana sudah berlari mengambil kidung, garam, apa pun yang bisa ia bawa. "Tumbal harus diserahkan oleh penjaga garis darah. Itu aturannya. Mereka bukan—"
"Mereka pikir kalau yang menyerahkan tetua, dan yang punya tanah kamu, itu cukup." Bayu sudah berdiri, wajahnya keras. "Dan kalau mereka salah, kalau ritualnya cacat, itu lebih buruk lagi. Ayo."
Mbah Jum sudah ada di teras saat mereka berbalik — perempuan tua itu menyeberangi Kali Suwung sendirian sore tadi, sebelum Yu Tarmi sempat sampai. "Aku merasakannya dari seberang," katanya, suaranya gemetar, tangannya mencengkeram buntalan kidung dan garam. "Air sungai berubah arah, Nduk. Itu pertanda ia akan diberi makan malam ini. Aku tidak bisa diam di rumahku sementara mereka membangunkannya. Aku ke sini untuk menjagamu." Ia tidak ikut berlari ke sumur — kakinya sudah terlalu tua untuk itu — melainkan masuk ke dalam joglo, ke senthong tengah, untuk menyiapkan apa yang ia bisa.
Mereka berlari menembus desa yang gelap menuju joglo — tapi tetua sudah lebih dulu, sudah masuk ke tanah keluarga Lana lewat jalan belakang, sudah mengelilingi Sumur Ketujuh. Saat Lana dan Bayu menerobos rumpun bambu kuning, pemandangan di hadapan mereka membuat keduanya tercekat.
Lima tetua berdiri mengelilingi beton sumur, obor di tangan. Darmojo di tengah, mengenakan ikat kepala hitam, membaca sesuatu dari kertas tua — mantra yang ia tidak punya hak baca, mantra yang dipotong-potong dari ingatan dan catatan curian. Sulastri berdiri di sampingnya, separuh wajahnya basah lagi, matanya berkilat di cahaya obor. Dan di tepi sumur, diikat, gemetar, menangis tanpa suara karena terlalu tua dan terlalu lemah untuk menjerit, duduk gelandangan tua itu — manusia, manusia yang punya wajah, yang punya nama meski tak seorang pun di desa peduli untuk mengingatnya.
"Hentikan!" teriak Lana.
Darmojo tidak berhenti. Ia menatap Lana melintasi mulut sumur, dan wajahnya — wajah yang selalu ramah — kini hanya menyimpan tekad dingin seorang yang yakin ia berbuat benar. "Kamu yang memaksa kami melakukan ini, Nduk Lana," katanya, tanpa menghentikan bacaannya lebih dari sekejap. "Kamu yang menolak kewajibanmu. Maka kami yang menanggungnya. Utang harus dibayar. Besok habis. Desa tidak bisa menunggu kewarasanmu."
"Kalian tidak mengerti!" Lana mencoba maju, tapi dua warga menahannya, sama seperti dulu, tembok daging yang sopan dan tak tergoyahkan. "Ia tidak mau pengganti! Ia tidak lapar makanan saja — ia mau wadah! Kalian beri dia tumbal sekarang, kalian tidak menenangkannya, kalian memberinya makan supaya lebih kuat untuk mengambil yang sebenarnya dia mau! Kalian membuatnya lebih kuat untuk mengambilku!"
Untuk sesaat, keraguan melintas di wajah Darmojo. Hanya sesaat. Lalu ia mengeraskan rahangnya dan melanjutkan, karena seseorang yang sudah membawa nyawa sampai ke tepi sumur tidak bisa lagi mundur tanpa kehilangan segalanya.
Mereka mendorong gelandangan tua itu.
Lana menjerit. Bayu berontak. Tapi tubuh tua itu sudah jatuh — bukan ke dalam, karena sumur masih tertutup beton, melainkan ke atas beton itu, dan tetua menahannya di sana, di atas permukaan cor yang bertabur garam dan rajah, sementara Darmojo membaca mantra terakhirnya dan menorehkan pisau ke lengan si tua, membiarkan darahnya menetes ke celah-celah beton, ke retakan tempat air anyir biasa merembes naik.
Dan beton itu — Lana melihatnya dengan jelas di cahaya obor — beton itu meminum darah. Bukan menyerap seperti tanah. Meminum. Rakus. Retakan-retakan halus di permukaan cor melebar sedikit, menghisap darah si tua ke bawah, dan dari dalam, dari kedalaman yang tak terjangkau cahaya obor mana pun, terdengar suara.
Bukan geraman gelisah seperti saat Lana menyanyikan kidung. Ini berbeda. Ini suara puas. Suara seteguk pertama setelah dahaga panjang. Suara yang, anehnya, terdengar seperti tawa kecil — tawa anak-anak, jernih dan dingin, naik dari bawah beton bersama uap anyir yang membuat kelima obor berkedip dan hampir padam serempak.
Gelandangan tua itu berhenti bergerak. Tubuhnya, di atas beton, mulai mengering di depan mata mereka — kulitnya mengerut, pipinya cekung, seolah seluruh air dalam tubuhnya disedot ke bawah lewat retakan beton, persis seperti yang terjadi pada Karjo di Sumur Kulon.
"Sudah," kata Darmojo, terengah, wajahnya berkilau keringat, suaranya gemetar dengan campuran kelegaan dan ngeri pada apa yang baru saja ia lakukan. "Sudah. Utang dibayar. Sekarang ia akan tenang. Sekarang desa selamat—"
Tapi ia salah. Lana tahu ia salah bahkan sebelum tanah mulai bergetar.
Karena yang di bawah tidak tenang. Suara tawa anak-anak itu naik, makin keras, makin banyak, berlipat-lipat, sampai bukan satu suara melainkan kerumunan suara, dan beton di bawah tubuh kering si tua mulai retak lebih lebar, dan dari celah-celahnya merembes air hitam yang berbau lumpur dan besi dan sesuatu yang lebih tua dari keduanya. Tetua mundur, obor gemetar di tangan mereka. Sulastri tertawa pelan, separuh wajahnya basah, dan tawanya menyatu dengan tawa yang naik dari sumur.
"Kalian memberinya makan," bisik Lana, ngeri, saat tetua melepaskan cengkeraman pada kedua lengannya karena mereka sendiri lupa pada segalanya kecuali tanah yang bergetar di bawah kaki. "Kalian pikir kalian menenangkannya. Tapi ia tidak mau pengganti. Kalian cuma menunjukkan padanya bahwa kalian rela memberi. Dan sekarang ia tahu — sekarang ia tahu desa ini akan memberinya apa pun yang ia minta."
Beton retak. Air hitam naik. Dan jauh di bawah, sesuatu yang sudah kenyang oleh seteguk pertama, menengadah ke arah cahaya obor, dan mulai meminta lagi.