Malam itu seluruh Karangwungu bocor sekaligus.
Lana berlari pulang dari Sumur Ketujuh — jika "pulang" masih punya arti, karena rumah dan teror kini menempati halaman yang sama — dengan Bayu di sampingnya dan suara tawa anak-anak dari bawah beton masih mengejar di telinganya. Tetua bubar dalam kepanikan, obor mereka padam satu per satu, dan gelandangan tua yang kering tergeletak di atas cor yang retak seperti bangkai serangga yang isinya sudah dihisap habis.
Tapi ritual yang dimaksudkan untuk menenangkan justru membuka segala sesuatu.
Pertama Sumur Lor, di utara dekat masjid — airnya meluap, naik melewati bibir batu, tumpah ke pelataran, hitam dan berbau anyir. Lalu Sumur Kidul, di selatan dekat kuburan, melakukan hal yang sama. Lalu Wetan, Kulon, Tengah, Pengilon — satu demi satu, seperti barisan domino, keenam sumur warga meluap dalam hitungan menit, seolah ada yang menekan air dari bawah ke atas di seluruh desa serentak. Kabut turun bersamaan, lebih tebal dari yang pernah Lana lihat, dan dalam kabut itu, dari rumah-rumah, mulai keluar orang-orang.
Mereka berjalan. Tidak berlari, tidak menjerit — berjalan, dengan gerakan yang sama, pelan, kaki diseret, basah kuyup meski hujan tidak turun. Para warga yang kesurupan keluar dari pintu-pintu yang seharusnya terkunci, dari jendela-jendela yang ditaburi garam yang ternyata tak cukup, dan mereka semua bergerak ke satu arah.
Ke joglo. Ke tanah Lana. Ke arahnya.
"Masuk," kata Bayu, mendorong Lana ke teras joglo. "Tutup pintu, taburi garam di ambang, ambil besi, ambil—"
"Itu tidak akan menahan mereka semua." Lana sudah bisa menghitung — sepuluh, dua belas, lima belas siluet basah keluar dari kabut, semua matanya kosong, semua menggumam dalam bahasa kuno yang sama, suara serak yang menyatu jadi koor rendah seperti air yang mengalir di gua. Ia mengenali beberapa wajah. Yu Tarmi ada di antara mereka. Ngadiman. Warga-warga muda yang dua hari lalu berdiri di sampingnya, berani, memilih sisinya. Sekarang mata mereka kosong dan kaki mereka membawa mereka ke arahnya tanpa kehendak mereka sendiri.
Lana berdiri di teras, kidung utuh di tangannya, garam di saku, dan menyaksikan setengah desa berjalan ke arahnya menembus kabut. Ini akhirnya, pikirnya. Ini saat mereka merobeknya, atau menyeretnya ke sumur, atau—
Tapi mereka tidak menyerang.
Siluet pertama mencapai pelataran joglo, dan berhenti. Lalu, perlahan, dengan gerakan yang sinkron seperti telah dilatih, ia berlutut. Lutut menyentuh tanah basah. Kepala menunduk. Menghadap Lana.
Lalu yang kedua. Yang ketiga. Satu demi satu, lima belas, dua puluh warga kesurupan berlutut di halaman joglo, basah kuyup, dalam kabut, menghadap perempuan yang berdiri ketakutan di teras dengan kidung di tangannya. Mereka tidak menyembah Lana. Lana mengerti itu dengan kengerian yang membuat lututnya nyaris tak kuat menahan tubuhnya. Mereka tidak menyembah Lana sang manusia.
Mereka menyembah apa yang ada di dalam Lana. Apa yang sedang matang di dalamnya. Wadah.
Koor gumaman itu berubah. Dari bahasa kuno yang tak Lana pahami, perlahan, bibir-bibir basah itu membentuk satu kata yang ia pahami, diucapkan serentak oleh dua puluh mulut dalam suara yang bukan suara mereka, melainkan suara tunggal yang naik dari bawah semua sumur sekaligus:
"Wadah."
Lalu lagi, lebih lembut, hampir mesra, seperti panggilan, seperti pengakuan, seperti penyambutan:
"Wadah sudah hampir matang. Wadah sudah hampir pulang."
Bayu mencengkeram lengan Lana, menariknya mundur ke dalam joglo, tapi Lana tidak bisa bergerak. Ia menatap warga-warga yang berlutut menyembahnya — orang-orang yang ia kenal namanya, yang sumurnya berubah merah karena memilih sisinya, yang kini dipakai untuk menunjukkan padanya bahwa perlawanan apa pun adalah kesia-siaan, karena seluruh desa, satu per satu, akan menjadi suara yang memanggilnya turun.
Di tepi kerumunan, masih berdiri tegak, tidak berlutut, Sulastri menatapnya dengan separuh wajah basah dan separuh kering, dan tersenyum.
"Lihat, Nduk," katanya, suaranya menggabungkan dirinya sendiri dengan suara yang lebih dalam. "Mereka sudah menunggumu. Mereka semua sudah menunggumu. Tinggal kamu yang belum mau pulang."
Dan di belakang joglo, di balik rumpun bambu kuning, beton Sumur Ketujuh yang sudah retak oleh ritual tetua mengeluarkan satu rembesan air hitam yang panjang, mengalir pelan menyeberangi tanah ke arah teras tempat Lana berdiri — seolah desa, sumur, dan yang di bawah semuanya mengulurkan satu jari basah yang sama, menunjuk satu arah, ke jantungnya, mengeja tanpa kata: kamu.
Lana tidak masuk. Ia tetap di teras, punggungnya menempel ke dinding kayu joglo, garam tergenggam di tangan yang gemetar hebat tapi tak satu butir pun ia tabur — karena menutup pintu sekarang berarti meninggalkan Bayu dan warga yang masih sadar di luar pada belas kasihan kerumunan yang berlutut. Di ambang pintu di belakangnya, dari dalam joglo, ia merasakan Mbah Jum sudah berdiri — perempuan tua itu menyusul keluar selangkah, tangannya menyentuh bahu Lana, matanya menyapu dua puluh punggung yang menunduk di kabut. Mereka bertahan di sana, bertiga menghadap desa yang menyembah, sementara di luar dua puluh suara terus menggumamkan nama Lana yang baru — wadah, wadah, wadah — dan empat puluh hari tinggal satu malam lagi.