Halaman joglo penuh manusia yang bukan lagi sepenuhnya manusia.
Mereka datang dari enam penjuru desa, satu rombongan dari tiap sumur, dan kini mereka berlutut di tanah lembap mengelilingi rumah leluhur Lana. Belasan warga. Lana mengenali sebagian wajah—Mbok Inem penjual tempe, Pak Carik, dua remaja yang biasa nongkrong di warung Mbah Karto—tapi wajah-wajah itu sekarang menengadah dengan mata yang basah berlebihan, seolah air merembes keluar dari pelupuk tanpa tangis. Mulut mereka komat-kamit dalam bahasa yang lebih tua dari desa ini, satu kalimat diulang serempak seperti gemericik kali yang tak pernah berhenti.
Wadah. Wadah. Wadah uwis teka.
"Mereka tidak menyerang," bisik Bayu di sampingnya, suaranya tercekat. Tangannya menggenggam linggis, tapi linggis itu gemetar. "Lana, mereka... menyembah kamu."
Lana mundur sampai punggungnya menempel ke dinding kayu joglo. Penyembahan itu lebih mengerikan daripada amukan. Amukan bisa dilawan. Tapi ini—belasan orang berlutut padanya, menyebutnya wadah yang akhirnya datang—ini membuat sesuatu di dalam dirinya ingin maju, ingin mengulurkan tangan, ingin berkata ya. Bau lumpur di telapaknya menyengat, dan untuk sekejap ia tak yakin bau itu menjijikkan atau memanggil.
Mbah Jum keluar dari dalam joglo dengan langkah terseret. Dukun tua itu telah bertahan semalaman bersama mereka, dan wajahnya kini abu-abu seperti abu kemarin. Di tangannya tergenggam segenggam garam kasar dan sehelai kain rajah yang sudah lusuh.
"Minggir, Nduk," katanya pada Lana. "Kalau mereka sudah menyembah, sebentar lagi mereka akan menarik. Yang menyembah itu hanya pembukaan. Tangan-tangan itu nanti yang menyeret kamu ke belakang, ke bambu kuning."
"Lalu kita apa?" Bayu setengah berteriak. "Kita kepung, Mbah! Tidak ada jalan keluar!"
Mbah Jum tidak menjawabnya. Ia menatap Lana lama sekali, dan dalam tatapan itu ada sesuatu yang membuat Lana merinding lebih dari kerumunan di luar—semacam perpisahan yang sudah diputuskan jauh sebelum malam ini.
"Kidung pengunci," kata Mbah Jum pelan, "bisa menidurkan dia. Tapi yang menidurkan harus membayar dengan napasnya sendiri kalau yang ditidurkan sebanyak ini. Satu sumur, satu orang dukun bisa tahan. Enam sumur bocor sekaligus..." Ia tersenyum tipis, dan giginya yang tinggal sedikit tampak kuning di cahaya pelita. "Surti dulu yang seharusnya melakukan ini. Tapi Surti sudah tidak ada. Tinggal aku yang masih ingat seluruh separuhku."
"Jangan." Lana mengerti maksudnya sebelum kata-kata itu selesai. "Mbah, jangan. Kita cari cara lain."
"Tidak ada cara lain malam ini, Nduk." Mbah Jum menaburkan garam dalam lingkaran kecil mengelilingi kakinya sendiri, bukan mengelilingi Lana. "Kalau aku menyanyi sampai habis, mereka akan tertidur cukup lama untuk kalian lewat, lewat jalan kebun belakang ke arah pinus. Jangan lewat jembatan. Jembatan itu miliknya."
Ia mulai menyanyi.
Suaranya parau, retak, tapi kidung itu keluar utuh dari mulutnya—separuh yang selama ini ia sembunyikan, mengalun rendah, kata-kata Jawa kuno yang Lana tak pahami artinya tapi rasakan beratnya. Begitu nada pertama jatuh, kerumunan di halaman berhenti menggumam. Mata-mata basah itu berkedip, bingung, seperti orang yang baru terbangun dari mimpi panjang.
Dan tanah mulai menggeram.
Lana merasakannya lewat telapak kaki—getaran rendah dari arah belakang joglo, dari balik rumpun bambu kuning, dari mulut sumur bercor beton. Sing Ngenteni tidak suka ditidurkan. Air merembes lebih deras dari celah-celah beton, anyir memenuhi udara. Tapi Mbah Jum terus menyanyi, dan satu per satu warga yang kesurupan jatuh ke tanah, terlelap, dada mereka naik-turun seperti anak kecil.
Yang tidak Lana sangka adalah harganya.
Setiap bait yang Mbah Jum nyanyikan, tubuh tua itu menyusut. Kulitnya yang keriput menjadi lebih kering, lebih tipis, menempel ke tulang. Pipinya cekung. Bibirnya pecah-pecah lalu mengelupas. Air dalam tubuhnya—itulah yang dihisap, Lana sadar dengan ngeri; entitas itu mengambil pembayaran lewat satu-satunya pintu yang ia punya, lewat kelembapan dalam tubuh sang penyanyi.
"Mbah, berhenti!" Lana melompat maju, tapi Bayu menahannya. "Kalau kamu masuk lingkaran garamnya, kamu yang dihisap!"
Mbah Jum tidak berhenti. Ia menyanyi sampai bait terakhir, dan saat warga terakhir tumbang tertidur di lumpur, dukun tua itu sudah menjadi sesuatu yang menyerupai ranting—kering, ringkih, mata cekung yang masih hidup.
Lana berlutut di tepi lingkaran garam. "Kenapa," suaranya pecah. "Kenapa kamu yang harus."
"Karena aku berutang, Nduk." Suara Mbah Jum tinggal bisikan, kering seperti daun. "Tangan ini... dulu ikut menenggelamkan ibumu. Aku tidak bisa mati dengan utang itu. Anggap ini cicilan pertama." Ia tersenyum, dan air mata kering tak keluar dari matanya. "Dengar baik-baik. Aku tidak punya napas dua kali untuk mengatakannya."
Lana mencondongkan telinga.
"Tetua bohong. Tumbal hanya menunda. Sulastri bohong. Jadi wadah bukan keselamatan, itu kematian yang berjalan." Napas Mbah Jum bergetar. "Kamu bisa memutusnya. Benar-benar memutusnya, selamanya. Tapi hanya dengan turun sendiri. Kamu... harus turun ke dalam sumur dengan namamu sendiri, dan mengikat dirimu jadi kunci. Itu satu-satunya. Jangan percaya jalan yang lain. Yang lain hanya menukar siapa yang dia makan."
"Turun sendiri," ulang Lana, dingin merayap di tulang punggungnya. "Itu artinya aku mati."
"Itu artinya kamu memilih." Tangan kering Mbah Jum bergerak, mencari, dan menyentuh punggung tangan Lana untuk pertama kali sejak mereka bertemu—dukun yang dulu menaburinya garam dari jauh kini menyentuhnya tanpa takut, karena tak ada lagi yang tersisa untuk dilindungi. "Surti memilih untukmu agar kamu hidup di kota. Sekarang giliranmu memilih untuk... yang lain."
Kalimat itu tak pernah selesai.
Tubuh Mbah Jum mengempis ke dalam dirinya sendiri, seperti kantong air yang ditusuk, lalu diam. Yang tersisa di dalam lingkaran garam hanyalah sesuatu yang ringan, kering, dan kecil—lebih kecil dari manusia seharusnya.
Lana tidak menangis. Ia takut menangis. Air mata adalah jalan, kata Mbah Jum pernah, dan ia tidak akan membuka pintu apa pun malam ini.
"Lana." Bayu menariknya berdiri. "Mereka mulai bangun. Kita harus pergi. Sekarang."
Di halaman, satu warga mengerang. Kelopak mata mulai bergetar. Tidur yang dibeli dengan nyawa Mbah Jum tidak akan bertahan lama.
Lana mengangkat garam yang masih tersisa, menggenggamnya sampai melukai telapak, dan berlari ke arah kebun belakang—menjauh dari jembatan, menjauh dari sumur yang menggeram, membawa kalimat terakhir Mbah Jum seperti batu di dalam dada: kamu bisa memutusnya, tapi hanya dengan turun sendiri.