Mereka lari menembus kebun singkong ke arah hutan pinus, dan kabut menyambut mereka seperti kain basah.
Bayu di depan, menebas semak dengan linggis, lampu senter ponselnya menyorot lemah ke jalan setapak yang ia hafal sejak kecil. Lana di belakang, mendekap map plastik berisi semua yang mereka punya: salinan catatan Mbah Surti, peta tumbal lintas generasi, foto-foto, daftar nama orang hilang. Bukti. Kalau mereka bisa mencapai kota, kalau mereka bisa membuat satu orang dari luar percaya, mungkin—mungkin—ada yang bisa menghentikan ini selain nyawa.
"Jalan ini turun ke hilir," kata Bayu, ngos-ngosan. "Lewat punggung bukit, kita bisa tembus ke jalan provinsi tanpa lewat jembatan. Dua jam jalan kaki. Subuh kita sudah di luar."
Lana mengikuti tanpa bertanya. Tubuhnya ingin percaya. Pikirannya, yang sudah terlalu sering dikhianati desa ini, tidak.
Mereka berjalan turun. Pinus menjulang hitam di kiri-kanan, dan kabut menelan suara langkah mereka sendiri sampai Lana tak yakin ia masih membuat suara. Setengah jam. Satu jam. Bayu mulai melambat.
"Aneh," gumamnya. "Mestinya kita sudah lewat batu besar yang bentuknya seperti kepala kerbau. Aku hafal batu itu."
Lima menit kemudian mereka melewati batu besar berbentuk kepala kerbau.
Bayu berhenti. Lana menabrak punggungnya. Mereka berdiri menatap batu itu—lembap, ditumbuhi lumut, tak mungkin keliru—dan keduanya tahu, dengan kepastian yang membuat perut Lana melilit, bahwa mereka belum pernah melewatinya. Sampai sekarang.
"Kita berputar," kata Lana pelan.
"Tidak mungkin. Aku jalan lurus turun. Sumpah." Bayu mengeluarkan kompas kecil dari sakunya—benda tua peninggalan pramuka—dan membuka tutupnya dengan tangan gemetar.
Jarum kompas itu tidak menunjuk utara. Ia berputar pelan, lalu berhenti, mantap, menunjuk ke arah belakang mereka. Ke arah desa. Ke arah—Lana tahu tanpa harus melihat peta—Sumur Ketujuh.
"Mungkin ada bijih besi di tanah," kata Bayu cepat, suara seorang yang berusaha keras tetap waras. "Pegunungan. Magnet alami. Itu bisa kejadian."
Lana mengeluarkan ponselnya. Tak ada sinyal, seperti biasa. Tapi ia membuka aplikasi peta yang masih menyimpan denah desa, dan titik biru penanda posisi mereka—yang seharusnya menunjukkan mereka jauh di lereng selatan—berkedip tepat di atas tanah joglo. Lalu jam di layar ponsel berhenti. Berdetak mundur satu menit. Berhenti lagi.
"Bayu," katanya. "Lihat jamku."
Ia menunjukkan layar. Bayu melihat jam tangannya sendiri. Detik jarumnya bergerak, lalu mundur tiga detik, lalu maju lagi, gelisah, seperti tak tahu jam berapa sebenarnya di tempat ini.
"Semua alat menunjuk ke sumur," bisik Lana. Kalimat itu terdengar gila saat diucapkan, tapi malam ini tak ada yang tidak gila. "GPS, kompas, jam. Buat mereka, utara bukan utara. Utara adalah dia."
Mereka mencoba lagi. Bayu memutuskan untuk mengabaikan kompas dan hanya berjalan menuruni kemiringan tanah—air mengalir ke bawah, ke hilir, itu hukum alam yang tak bisa dibohongi. Mereka mengikuti aliran air kecil yang menetes di antara akar pinus. Setengah jam berjalan menurun terus-menerus.
Dan tiba di tepi rumpun bambu kuning, di belakang joglo, di mana air kecil itu bermuara ke dalam celah beton Sumur Ketujuh.
Mereka telah berjalan turun selama setengah jam dan naik kembali ke titik tertinggi desa. Mustahil. Tapi di sinilah mereka.
Lana menjatuhkan diri ke tanah, punggung menempel pada batang bambu yang dingin. Kabut di sekitar mereka bergerak lambat, dan dalam gerakan itu Lana mulai melihat bentuk—wajah-wajah samar yang muncul dan larut, bukan menyeringai, hanya menatap, seperti penonton yang sabar.
"Kita tidak bisa keluar," katanya. Bukan keluhan. Pernyataan. Sesuatu yang akhirnya ia terima sepenuhnya. "Selama dia masih di bawah, tanah ini tidak akan melepas kita. Setiap jalan adalah jalan kembali."
Bayu duduk di sampingnya, menutup wajah dengan kedua tangan. Linggis tergeletak di rumput. "Aku besar di desa ini, Lana. Aku tahu tiap jengkalnya. Aku tidak pernah... tidak pernah tersesat di tanahku sendiri."
"Karena ini bukan tanahmu lagi." Lana menatap mulut sumur yang berdenyut samar di balik beton. "Mbah Jum benar. Tidak ada jalan keluar dengan kaki. Yang ada cuma satu jalan, dan jalan itu ke bawah."
"Jangan bicara begitu." Bayu menggenggam tangannya, erat. Hangat. Hidup. Satu-satunya hal hangat di malam yang seluruhnya basah dan dingin. "Kita cari cara lain. Selalu ada cara lain. Aku tidak akan biarkan kamu turun ke benda itu. Dengar aku? Tidak akan."
Lana memandangnya—pemuda yang setengah orang dalam, setengah orang luar, satu-satunya yang tidak pernah memintanya membayar apa pun—dan untuk sekejap ia membiarkan dirinya percaya pada kata-katanya.
Tapi di balik beton, air merembes naik sedikit. Dan dalam gemericiknya, kalau didengar dengan hati yang sudah terlalu lelah, ada nada yang hampir seperti tawa kecil. Seperti sesuatu yang tahu bahwa janji "tidak akan biarkan" selalu, selalu, dipatahkan oleh garis darah ini.
Tiap dari kalian akan mencintai sebelum membunuh.
Lana menggenggam balik tangan Bayu, dan berdoa pada apa pun yang masih mau mendengar, agar kutukan istri Eyang Kromo kali ini salah.