Dua hari berikutnya, Lana mulai kehilangan potongan dari dirinya sendiri.
Pertama hanya menit. Ia sedang menyalakan tungku di dapur joglo, lalu tiba-tiba berdiri di senthong tengah memegang kendi tanah kuburan, tak ingat bagaimana ia sampai di sana. Tungku sudah padam. Berarti waktu telah lewat—setengah jam, mungkin lebih. Telapak kakinya berlumpur.
Lalu menjadi jam.
Ia tidur sore di amben, dan terbangun saat hari sudah gelap, di luar rumah, berdiri di kebun belakang menghadap rumpun bambu kuning, dengan baju basah kuyup walau tak ada hujan. Bau lumpur di tangannya kini sampai ke siku. Ujung-ujung jarinya keriput seperti orang yang terlalu lama berendam. Ia tidak ingat berendam.
"Mungkin kamu jalan dalam tidur," kata Bayu, mencoba menenangkan, saat ia menceritakan ini di teras. Bayu kini hampir selalu menemaninya, menolak pulang ke kontrakannya, tidur di lincak depan dengan garam ditabur melingkari tubuhnya. "Stres berat bisa bikin orang sleepwalking. Apalagi setelah Mbah Jum..."
"Aku tidak pernah jalan dalam tidur seumur hidupku, Bayu." Lana memandangi tangannya yang asing. Urat-urat di punggung tangannya mulai menggelap—bukan biru pembuluh darah biasa, tapi hitam, bercabang seperti aliran air bawah tanah yang dipetakan di kulit. Ia menariknya kembali ke dalam lengan baju agar Bayu tak melihat. "Aku takut bukan dia yang menyakiti warga. Aku takut aku."
Ketakutan itu menjadi nyata pada hari kedua.
Pagi itu seorang anak ditemukan di tepi Sumur Tengah, masih hidup tapi menggigil hebat, tubuhnya dingin seperti baru diangkat dari air. Anak itu bilang seorang perempuan menggandengnya ke tepi sumur tengah malam dan menyuruhnya melihat ke dalam. Perempuan berbaju basah. Saat ditanya rupanya, anak itu menggambarkan rambut sebahu, kurus, kulit kota. Menggambarkan Lana.
Lana tidak ingat keluar rumah malam itu. Tapi paginya kakinya berlumpur sampai betis, dan di bawah kukunya ada lumut hijau yang hanya tumbuh di dinding dalam sumur.
"Itu bukan kamu," kata Bayu keras, hampir marah, saat Lana hampir ambruk karena takut pada dirinya sendiri. "Itu dia, memakai wajahmu. Bisa saja. Dia meminjam wajah orang mati, kenapa tidak wajah orang yang masih hidup tapi sedang tidur?"
"Atau aku sudah cukup matang untuk dipakai sambil sadar." Suara Lana datar. "Mbah Jum bilang wadah matang pelan-pelan. Makin sering kontak air, makin matang. Aku minum air sumur ini tiap hari, Bayu. Aku tidak punya pilihan air lain. Tiap tegukan, dia masuk sedikit lagi."
Mereka memutuskan untuk membuktikannya. Bayu ingat warung Mbah Karto baru memasang kamera pengawas murahan tahun lalu, satu-satunya CCTV di desa, terpasang menghadap jalan dan sebagian Sumur Tengah karena letaknya bersebelahan. Mereka membujuk Mbah Karto—yang ketakutan, yang sudah mendengar desas-desus tentang perempuan basah—untuk membuka rekaman malam itu.
Layar kecil itu berbutir dan hitam-putih. Pukul setengah dua dini hari, sosok berjalan masuk frame dari arah joglo. Langkahnya tenang. Terlalu tenang. Bukan langkah orang mengendap, bukan langkah orang takut—langkah orang yang pulang ke rumahnya sendiri. Sosok itu berhenti di bibir Sumur Tengah. Lalu menunduk ke dalam, dan—ini yang membuat Lana berhenti bernapas—ia berbicara ke dalam sumur. Bibirnya bergerak panjang, sabar, seperti orang yang sedang mengobrol dengan teman lama. Sesekali sosok itu mengangguk. Sesekali tersenyum.
Wajahnya, saat sempat menghadap kamera, adalah wajah Lana. Tapi matanya gelap penuh, tanpa putih, dua kolam kecil.
"Matikan," bisik Lana.
Mbah Karto mematikan layar dengan tangan gemetar.
Mereka berjalan pulang dalam diam. Lana merasakan sesuatu pecah pelan di dalam dadanya—bukan ketakutan saja, tapi kesepian yang lebih dalam. Selama ini ia melawan musuh di luar: tetua, Sulastri, entitas di bawah beton. Tapi rekaman itu menunjukkan musuh telah membangun sarang di dalam tubuhnya sendiri, memakai wajahnya, berbicara dengan suaranya, berjalan dengan kakinya saat ia tertidur. Bagaimana melawan sesuatu yang tinggal di dalam kulitmu?
"Lana." Bayu berhenti di tengah jalan, menghadapnya. Wajahnya pucat tapi matanya keras. "Aku akan jaga kamu. Tiap malam. Aku akan ikat tanganku ke tanganmu kalau perlu, biar kamu tidak bisa keluar tanpa aku tahu. Kalau dia mau pakai kamu, dia harus lewat aku dulu."
Sesuatu di dalam Lana—bagian yang masih dirinya—ingin berkata jangan. Jangan tawarkan dirimu seperti itu. Tidak di desa ini, di mana setiap tawaran perlindungan adalah pintu yang dibuka untuk yang di bawah.
Tapi ia terlalu lelah, terlalu sendiri, terlalu takut pada wajahnya sendiri di layar hitam-putih itu. Maka ia hanya mengangguk, dan membiarkan Bayu mengikat sepotong tali ke pergelangan tangan mereka berdua malam itu.
Ia tidak tahu bahwa dengan begitu, ia baru saja menunjukkan pada yang di bawah persis siapa yang paling ia takut kehilangan.