Bayu tidak bisa tidur, jadi ia membaca.
Sementara Lana terlelap di amben dengan tali masih melingkar di pergelangan mereka, Bayu duduk bersila di lantai joglo, pelita minyak di sampingnya, dan membuka kembali salinan catatan Mbah Surti yang sudah mereka pelajari berkali-kali. Tapi malam ini ia membacanya bukan sebagai sekutu yang ingin memahami. Ia membacanya sebagai orang yang sudah memutuskan: harus ada cara mengeluarkan Lana dari ini yang tidak berakhir dengan Lana mati.
Ia membaca semalaman. Membandingkan tanggalan. Mencocokkan nama tumbal dengan tahun pergantian penjaga. Membaca ulang bagian-bagian kidung yang Mbah Jum sempat tuliskan sebelum mati, dan catatan-catatan samar Mbah Surti tentang "wadah" dan "segel".
Menjelang subuh, ia menemukan polanya. Dan pola itu membuat tangannya dingin.
Sepanjang tujuh generasi yang tercatat, kutukan ini tak pernah benar-benar berhenti. Hanya ditunda. Tiap penjaga membayar satu tumbal, dan dengan itu siklus tidur empat puluh tahun, lalu bangun lagi menagih generasi berikutnya. Tidak ada satu penjaga pun yang lolos. Tidak ada satu pun yang mati di tempat tidur sebagai orang tua biasa—semua catatan berhenti mendadak, atau berakhir dengan kata yang ditulis Mbah Surti dengan tinta lebih tebal: bali ngisor. Kembali ke bawah.
Lalu ia menemukan satu baris yang ditulis Mbah Surti di halaman paling akhir, yang selama ini mereka kira hanya keluhan seorang tua:
"Mung loro sing iso mungkasi: matine wadah, utawa wani-ne penjaga turun dhewe."
Bayu menerjemahkannya pelan-pelan, dan terjemahan itu menggantung di udara dingin joglo seperti vonis. Hanya dua yang bisa mengakhiri: matinya wadah, atau keberanian penjaga turun sendiri.
Matinya wadah.
Bayu menoleh ke arah Lana yang tertidur. Dadanya naik-turun pelan, wajahnya—untuk pertama kali dalam berhari-hari—tenang, lepas dari ketakutan yang selalu mengetatkan rahangnya saat bangun. Lana adalah wadah. Maka menurut catatan ini, salah satu cara mengakhiri kutukan adalah dengan kematiannya.
Bayu menutup buku itu pelan, seolah takut suaranya membangunkan kebenaran yang baru ia baca. Tidak. Ia menolak. Ia tidak akan pernah memilih jalan itu, dan ia tidak akan membiarkan Lana memilihnya juga—baik mati sebagai wadah, maupun turun sendiri sebagai penjaga. Keduanya berarti Lana hilang. Keduanya tidak ia terima.
Pasti ada jalan ketiga, pikirnya keras kepala. Selalu ada. Kalau wadah harus garis darah, kalau entitas hanya menerima garis Eyang Kromo, maka mungkin—mungkin—kalau Lana dibawa cukup jauh dari sumur, dibawa keluar negeri kalau perlu, dipisahkan dari air desa ini selamanya, pengaruhnya melemah. Mungkin wadah yang tidak pernah disentuh lagi bisa "mentah" kembali. Itu hipotesis. Itu harapan. Tapi harapan adalah satu-satunya yang ia punya, dan ia menggenggamnya dengan kedua tangan.
"Aku akan keluarkan kamu," bisiknya pada Lana yang tidur. "Sumpah demi adikku yang nenekmu selamatkan. Aku akan keluarkan kamu dari sini, biar aku yang tinggal kalau perlu."
Ia tidak tahu bahwa di balik beton, sesuatu mendengarkan.
Sesuatu yang sabar telah memperhatikan sejak Bayu mengikat pergelangan tangannya ke pergelangan tangan Lana. Sesuatu yang mengerti, lebih baik dari Bayu sendiri, bahwa tekad perempuan ini—wadah ini—adalah hambatan terakhir antara dirinya dan kebebasan berjalan keluar dari sumur. Selama Lana punya alasan untuk hidup, untuk melawan, untuk tidak menyerahkan diri, ia tak akan jadi wadah yang sukarela. Dan entitas itu tidak menginginkan wadah yang dipaksa. Ia menginginkan wadah yang datang sendiri, dengan hati yang sudah hancur, tanpa apa pun lagi yang menahannya di permukaan.
Maka ia melihat pada pemuda yang tertidur sambil duduk menjaga, pemuda yang baru saja bersumpah akan menyelamatkan, pemuda yang merupakan satu-satunya alasan Lana masih mau berjuang—
dan ia memilih.
Bukan untuk membunuh Bayu sebagai makanan. Makanan bisa siapa saja. Tidak. Ia akan mengambil Bayu sebagai pesan. Sebagai pelajaran. Sebagai cara mematahkan tekad sang wadah lewat satu-satunya orang yang masih ia cintai—agar saat Lana berdiri di tepi sumur nanti, hatinya sudah cukup kosong untuk berkata: tidak ada lagi yang menahanku di atas.
Air merembes naik di balik beton, perlahan, tak terburu-buru.
Di luar, jangkrik berhenti berbunyi. Lalu kabut mulai turun lebih awal dari biasanya, merayap dari arah kali, masuk lewat celah-celah dinding joglo tua, dan menyelimuti dua tubuh yang tertidur dengan tali yang menghubungkan pergelangan mereka—tali yang, jika dilihat dengan mata yang tepat, sebentar lagi hanya akan terikat pada satu tangan.